Penyesalan Sang Madu

Penyesalan Sang Madu
Keluarga Mantan Suamiku


__ADS_3

“Tapi kamu bakal dicap sebagai pelakor nantinya, ga perlu dendamlah." ujar Diyah.


“Aku nggak peduli, aku terlanjur gemas Diyah.” kesal Vina.


Diyah menghela napas. “Banyak konsekuensinya, Vin.”


“Aku bilang aku nggak peduli.”


Merebut mantan suami mbak ku, adalah pelakor. Aku tahu caranya, adalah ide balas dendam yang tidak pernah terpikirkan oleh Diyah. Dia tidak tahu kenapa Vina sebagai anak korban kekejaman pelakor, dimana mirip seperti keponakannya, mempunyai ide seperti itu, apa mungkin karena melihat sang ibu menangis.


“Kamu yakin, Vin? Kamu siap dengan semua konsekuensinya?”


Tak perlu banyak waktu untuk Vina menjawab. “Aku sangat siap, Diyah. Hanya sebagai penggoda, dimana melihat kesetiaan pelakor dan mantan suami mbak mu, jangan sampai mbak Diyan kamu itu balik lagi deh sama Arka."


“Banyak cara balas dendam selain ini, Vin.”


“Nggak ada cara lain.”


Sebab hanya dengan itu, Vina juga bisa menuntaskan rasa sesak di da-danya. Ia bisa padamkan api yang membakar seluruh organ tubuhnya. Baru kali ini Vina merasa sangat marah, kala mbak Diyan sang bibi dari Diyah yang pernah baik pada ibu dan dirinya dulu, bisa mendapat perlakuan tidak adil menyedihkan, udah sakit malah di tinggal nikah.

__ADS_1


“Aku akan menghancurkan mereka semua, dimulai dari perempuan itu.”


Ucapan Vina sudah final dan Vina sudah mengerti. Hingga Diyah mengembuskan napas panjang.


Sebab melihat orang-orang itu berlalu lalang dan bebas melakukan apa saja, membuat hati Vina semakin pedih. Dia dan Ibu tidak punya salah apa pun, mereka tidak berhak menerima perlakuan menyedihakn dari seorang pelakor, yang mana saat Diyah sering curhat, mbak Diyan yang paling baik padanya juga, mendapat balasan tidak baik.


Meski masih terbersit Diyah yang mengatakan bahwa Allah akan membalas semuanya, entah itu di dunia maupun di akhirat nanti, mereka akan dapat balasan. Tapi Vina sudah kepalang dengar cerita mbak Dian yang menyedihkan, jadi ia berniat melihat wanita bernama Mira.


Diyah yang sejak tadi menahan napas akhirnya bergerak untuk memijat pangkal hidungnya.


“Kamu tahu aku akan selalu bantuin kamu, Vin. Aku akan ada di samping kamu apa pun keadaannya. Kalau kamu mau balas dendam dengan cara ini, ayo kita lakukan, tapi jangan berlebihan. Gimanapun aku enggak mau mbak Diyan tahu, kalau kamu lakukan aku ikut ikutan.”


"Kalau ketahuan, ya kamu cukup bilang. Kamu itu dukung mbak mu, agar rasa sakitnya terbalas. Aku gemas sama pelakor, karena gimana pun, aku mirip di posisi Amel, anak kecil itu kalau enggak kuat iman dan mental bakal kayak aku dendam an." jelas Vina, membuat Diyah sebenarnya sedikit takut, jika ide sahabatnya itu ingin menghampiri Mira.


“Aku punya banyak kenalan dan relasi. Aku akan cari tahu tentang perempuan itu. Jadi aku ga bakalan libatin kamu Diyah, lagian aku ga benar benar mau rebut mantan suami mbak kamu, cuma mau kasih teguran gimana rasanya jadi pelakor suaminya di rebut pelakor lagi.” jelas Vina, membuat Diyah mengangguk.


Diyah pun yang berjalan pulang, kala itu menghentikan sebuah mobilnya di sebuah gang, dimana Diyah memberikan sebuah foto Mira, sekaligus pulang kerja mereka satu arah, dimana Diyah membawa mobil.


"Sampai jumpa besok ya, kamu ke rumah hadir! Biar lihat mbak Diyan, kalau mbak semakin hari semakin baik."

__ADS_1


"Siap .. 86! Dah sana, jemput Amel. Kasian nanti telat dia bawel lagi, sakin kamu drop aku dulu." renyah Vina, dimana Diiyah pun berlalu.


Diyah sebenarnya ketar ketir, niat hati mengadu menceritakan kisah mbak Diyan, ternyata Vina senasib dari anak korban yang mempunyai dendam pada nama wanita yang disebut pelakor.


'Duh jangan sampe Vina kelewat batas deh, salah aku juga nih yang ga bisa rem mulut, cerita soal mbak Diyan sama Arka itu, pada orang yang salah.' deru Diyah, dimana ia sudah sampai di sekolah Amel.


Diyah sendiri bekerja paruh waktu, menjadi admint di gerai pak Irham, niat mengumpulkan demi bisa kuliah malam, untuk gelar dirinya diterima di rumah sakit besar, adalah impiannya.


Saat Diyah sampai sekolah, terlihat mbak Diyam dan pak Irham sudah di depan sekolah.


"loh, mbak Diyan jemput Imel. Kok ga bilang Diyah sih mbak?"


"Assalamualaikum, kamu ini selalu lupa ya sapa pertama."


"Eh, iya mbak. Saking akrabnya, jadi lupa. Maaf."


"Iya, kamu langsung pulang aja gih. Mbak kebetulan mau ajak Amel ke suatu tempat, biar ga jadi bahan gosip, kalau mbak sama Irham berdua perginya. Maaf, mbak Diyan telat kabarin kamu."


"Ya udah mbak, Diyah pamit dulu. Ada yang mau dibawain gak?"

__ADS_1


"Titip soto lamongan buat ibu ya! Beli di tempat biasa." ujar Diyan pada sepupunya iu, memberikan beberapa lembar uang, membuat Diyah mengangguk senyum, sebelum pamit.


TBC.


__ADS_2