
"Mbak Mira ya?" terlihat sebuah mobil, seseorang turun menatap Mira yang di pinggir jalan, hal itu membuat Asiyah yang kebetulan lewat berhenti parkir, dan mengajak Mira sambil menenangkan diri di dalam mobil.
"Masuk mbak, udah malem. Gerimis lagi kenapa dengan mbak Mira, mbak Mira tinggal di dekat sini, apa mbak Mira tinggal ..?"
"Kami numpang di rumah ibu bang Arka" lirih Mira pelan, membuat Asiyah mengangguk.
Asiyah memberikan sebuah mainan, pada Ciya yang sedang menangis dari gantungan di mobil.
"Boleh Ciya aku gendong mbak? Mbak lagi gak tenang, jadi Ciya rewel. Ini tissuenya mbak, meski Asiyah enggan untuk mbak cerita, tapi tenangkan pikiran mbak Mira dengan perlahan, jangan dijadikan beban. Asiyah memang tidak tahu problem rumah tangga, tapi Asiyah hanya tahu jika perasaan ikatan batin ibu akan dampak pada si kecil yang aktif, atau rewel seharian. Semua karena suasana ibunya yang tidak baik."
Beberapa saat Mira yang menangis nampak lega, meski ia enggan cerita apa yang terjadi. Tapi disini Asiyah menatap Mira terlihat sangat kasihan, meski ia keponakan Diyan. Ia juga tidak pernah memberitahu keadaan mantan suaminya dan madunya, karena Asiyah tidak mau mbak Diyan kembali peduli dan dekat pada keluarga yang menyakitkan mbak nya itu, apalagi Asiyah ingin mbak Diyan selalu senyum dan bahagia.
__ADS_1
"Makasih ya Asiyah, aku jauh lebih tenang. Setelah di pikir pikir masalah memang harus dihadapi, kenyataan impian memang tidak sejalan dengan yang dibayangkan."
"Semangat ya mbak, terbukti Ciya tenang karena hati ibunya sudah baik baik saja. Mbak Mira yang kuat, semua permasalahan pasti ada jalan. Kebahagiaan pasti menyertai mbak Mira dan keluarga."
"Amiin."
Mira nampak bingung, apakah Asiyah tidak ingin tahu kenapa dia berada di tengah jalan, menangis sambil membawa anak bayi, dan terlihat Asiyah itu dekat dengan Mbak Diyan bahkan Mira juga sedikit kepo bagaimana keadaan Diyan saat ini, tapi bukan saat yang pas jika ia banyak bertanya, dimana hidupnya juga berkelit kesulitan yang Mira harap, tidak berkepanjangan.
"Biar Asiyah antar ya mbak."
Mira ...
__ADS_1
"Hati hati mbak!"
"Makasih untuk tumpangannya, satu lagi Asiyah. Aku bawa kunci toko mbak Diyan, sampaikan salam terimakasih Mira, tapi minta maaf kunci ini tolong berikan. Mira tidak bisa menerimanya karena tidak pandai berbisnis, jika untuk Ciya, dia belum bisa pegang. Biarkan semua ini dikelola pada orang yang berhak, dimana Ciya belum 17 tahun, maka ini sebaiknya mbak Diyan yang pegang. Jika aku yang pegang aku takut gulung tikar, dan tidak banyak memahami. Itu sama saja membuat hancur mbak kamu karena tidak amanah." jelasnya.
"Tapi mbak, kenapa enggak mbak aja yang kasih!"
"Saya mohon Asiyah, saya malu bertemu mbak Diyan. Jika keadaan membaik, saya akan mengunjungi itu pun jika mbak Diyan masih menerima Mira." sesenggukan Mira, dimana ia benar benar sedih, membuat Asiyah bergetar kasihan dan kebingungan untuk memberikan kunci toko.
"Assalamualaikum."
"Walaikumssalam mbak." nampak Asiyah melepas eratan tangan mungil Ciya yang mirip sekali dengan om Arka dan perpaduan Mira sedikit.
__ADS_1
Mereka berdua keluar dari mobil, sementara Asiyah hanya di dalam memperhatikan madu mbaknya itu yang terlihat kusut.
TBC.