
"Diyan .. bantu ibu!"
Viola yang nampak semerawut, ia berlindung di belakang Diyan tanpa rasa malu, hal itu membuat Arka dan Mira nampak mematung atas apa yang ia lihat, apalagi kedatangan mereka benar benar tidak tepat.
"Boleh ibu ibu tenang, saya minta maaf karena kedatangan saya tidak tepat."
"Mbak jangan sok jadi pahlawan deh, kamu ini siapanya Viola ..?" tanya Rika si korban.
"Saya ..." terdiam Diyan.
"Dia pernah jadi me .." di skak oleh Diyan, yang tak ingin ibu Vio jujur siapa dirinya.
"Saya saudara jauh ibu ibu, ma- maksud saya kerabat teman dari ibu Vio, itu teman ibu saya." jelas Diyan, yang merasa tak ingin melukai Mira dari belakang tubuh Arka.
Nyes!!
Hati Viola beringsut ia masuk ke dalam rumah, begitu saja kabur dimana tatapan yang lain ikut diam. "Eh, bisa bisanya kabur si Vio."
"Iya tau tuh, bodo amatlah mau ada tamu juga. Jeng Rika, kita minta sama nih cewe aja, kan dia yang bikin kita batal tarik si Vio ke kantor polisi."
Ah..
Kegaduhan itu membuat Diyan dan Irham saling menatap dan tak mengerti, bisa bisanya mereka menjadi tuduhan karena tidak tepat.
__ADS_1
"Masuk mbak, kita ke dalam saja!" ajak Mira, karena sejak tadi Diyan dan Irham mematung di pekarangan rumah begitu saja.
"Baiklah, terimakasih."
Namun ibu ibu itu tidak peduli, yang jelas mereka ingin uang mereka kembali atau mengantar Viola ke kantor polisi adalah hal utama mereka terselesaikan, sebab membiarkan Viola tenang tidak masuk akal bagi pengajak yang sama saja menipu mereka, tidak perduli dengan penjelasan soal Viola juga ditipu, yang mereka inginkan uang mereka kembali saat ini juga.
"Pak Rt, bantu kami dong!" ujar Rika.
Baiklah tunggu ya bu ibu, sabar sebentar!! teriak pak Rt mengkondisikan di dalam rumah.
Diyan kali ini kaget, nampak melihat Arka yang memohon pada pak Rt, sementara Irham dan Diyan saling menatap, sebab ada rasa kasihan. Bahkan rumah baru mantan mertuanya itu cukup kecil dan sesak.
"Begini ada berapa uang anda pak Arka, maaf bukan saya mempermalukan. Tapi jika tidak, kemauan ibu ibu korban meminta polisi saja jalur pintasnya."
Diyan beringsut permisi pergi, ia menarik Mira meski sedikit tak sopan. Hal itu membuat Diyan memegang Mira yang gemetaran melihat istri pertama suaminya dahulu datang.
"Mbak Diyan kenapa harus datang, seharusnya mbak tidak melihat situasi ini kan?"
"Mira .. mbak gak bermaksud gak sopan, tapi saat ini mbak benar benar tidak tahu, apalagi kamu gak bilang ibu Hanna meninggal, andai kamu beri tahu kami di penang, pasti keluarga tidak meninggalkan." ujar Diyan berbicara bisik bisik di dapur.
"Mbak, semakin mbak datang. Mira merasa bersalah karena mbak datang membuat dosa Mira yang keterlaluan, tapi mbak masih anggap Mira keluarga. Ini namanya gak adil, mbak kenapa harus seperti ini sih." tajam Mira.
"Maaf kalau kedatangan mbak kemari membuat kamu tidak enak, katakan apa yang terjadi pada ibu mertua kamu, pada kamu dan satu lagi kenapa kunci toko roti tidak mau kamu ambil dan kelola."
__ADS_1
"Untuk apa mbak butuh penjelasan sih mbak?"
"Setelah tahu penjelasanya, mbak tidak akan pernah muncul dari kehidupan kalian, maaf jika kedatangan mbak membuat kamu takut. Mbak hanya peduli pada kamu, bukan berarti mbak ingin mendapat perhatian suami kamu Mir." tegas Diyan yang pergi keluar.
Diyan merasa situasi tidak tepat mereka datang, hingga kembali ke ruang tamu.
"Irham .. kita gak tepat datang saat ini, kita pulang saja. Dan maaf kedatangan saya pak Arka. Jika kedatangan saya lancang dan berniat merusak semuanya." lirih Diyan dimana Arka tak menoleh ke arah Diyan saat itu juga.
"Itu ide bagus, jangan pernah injak rumah ini lagi, sebab itu kunci toko usahamu tidak perlu datang dan tanyakan lagi, apalagi kembalikan lagi pada istriku, karena aku yang melarangnya. Jadi ingat saja kata kata itu Diyan!"
Nyes.
Hati mana yang tak teriris, kali ini Diyan tahu apa alasannya, sehingga Irham mengajak Diyan untuk pulang.
"Bung, jika tidak suka dicerai sepihak, sebaiknya berkata dengan baik dan bijak! pantas perusahaan mu kolaps, rupanya tidak bisa membedakan istri berlian, kebaikan istri seperti Diyan kan." ujar Irham yang ketus pada Arka, mengajak Diyan pulang.
"Tunggu Diyan, jangan dengarkan Arka. Dia putra ibu yang egois, ibu gak mau di penjara. Setidaknya pinjamkan uang, karena ibu baru di tipu. Sebagai bakti mertuamu Diyan. Oops .. "
Bu .. cukup bu!! teriak Arka.
"Oops maksud ibu, mantan mertua yang baik. Ibu janji akan mengelola toko roti kamu, kalau Mira dan putra ibu tidak mau, semua bentuk sayang untuk Ciya kan." jelas Viola membuat hati Diyan kaget, dan mata yang memerah ketika semua orang melihat ke arahnya.
TBC.
__ADS_1