Penyesalan Sang Madu

Penyesalan Sang Madu
Pergi Dari Cafe


__ADS_3

Mira merasa egois, jika menerima akan ada hati yang kecewa, yakni suaminya itu akan kembali menyalahkan dirinya, dan entah soal ibu mertuanya. Apakah bang Arka akan kebingungan lagi menambah bebannya, sebab sudah banyak masalah soal pekerjaan yang sulit membuat hidup suaminya terbilang serat, apalagi masalah ibunya yang memakai uang arisan orang lain.


Sejujurnya jika Mira kelola pun ekonomi bisa terbantu, tapi bang Arka pasti lagi lagi menolak yang membuat Mira harus pergi menghindar dari mbak Diyan saat ini.


“Saya ... saya ingin kamu mengelola untuk Ciya, kamu pantas untuk menerimanya Mira."


Mulut Mira ternganga. Hatinya berdetak lebih kencang setelah mendengar perkataan yang membuat tubuhnya hampir limbung.


Kini, bibirnya terasa kaku ditambah cengkeraman Mba Diyan yang menggenggam lengannya begitu kuat. Tak habis pikir dengan pikirannya setelah menikahi suaminya, lalu usaha salah satu yang ia rintis kini diminta untuk Mira lanjutkan, lalu jika ia kembali mengambilnya apa tidak akan runyam hubungannya dengan bang Arka kelak.


"Kenapa diam, apa kita ke rumah mu saja. Mbak ingin bicara apa yang kamu takutkan Mira, percayalah hanya silaturahmi. Mbak tidak akan mengusik rumah tanggamu, tapi hanya ingin toko itu untuk Ciya, adanya Ciya dan kamu membawa kebahagiaan. Dan hadiah untuk masa depan anak anak mu itu saja, sebab mbak sudah cukup dengan Amel masa depan Amel sudah ada, saatnya mbak berterimakasih padamu, karena mbak kamu ada dalam lingkaran kehidupan masa lalu mbak, bukankah semua doa mu kembali."

__ADS_1


Mira benar benar tersentuh, dimana ia juga kebingungan apakah ia harus memberitahu alamat kediaman mertuanya yang baru, pulang bersamanya saat ini.


"Tapi tidak bisa sekarang mbak." lirih Mira.


"Kenapa ...?" tanya Diyan kaget, masih menatap bayi mungil dipangkuan Mira.


"Bang Arka tidak izinkan aku mengelola bisnis dari mbak, karena itu mengingatkan kenangan mbak dengan bang Arka, dan Mira sudah mencoba mengalah akan kemarahan bang Arka, namun sebaiknya toko itu mbak saja yang kelola, Mira merasa malu dan tidak tahu diri jika menerimanya lagi."


Mira merasa bimbang, sebenarnya dengan adanya toko roti itu bisa membuat hidup Mira jauh lebih baik, apalagi kesulitan ekonomi bang Arka, mungkin akan terbantu jika Mira kelola, bekerja bisa membawa Ciya ke toko tersebut. Tapi jika ia terima, pasti bang Arka akan murka dan marah lagi, sebab ia tidak mau di ikut campurkan pada usaha mantan istrinya.


"Kenapa kamu diam, kamu menolak. Kamu enggak kasihan sama Ciya, atau ada masalah lain yang kamu pikirkan selain Arka menolak, apa dia memarahimu hanya karena itu perintis mbak. Atau ada yang lain ...?"

__ADS_1


"Mbak .. sebetulnya hidup Mira juga sulit, tapi Mira hanya patuh pada suami Mira saat ini. Ini sudah cukup lama, kalau begitu Mira pamit ya! Assalamualaikum."


Mira pergi dari cafe itu, sementara Diyan membayar makanan di kasir dengan mengantri. Ia tidak mau kehilangan jejak Mira, maka dari itu ia mencoba untuk mengikuti Mira, ia merasa ada yang salah dan Mira patut ia bantu, sebab Asiyah bicara ekonomi mereka sangat sulit.


"Kembaliannya ambil saja mas!" ujar Diyan, ia segera bergegas ke parkiran dan menyetir mobilnya, dimana matanya masih mencari keberadaan Mira dan bayinya itu, yang pasti belum begitu jauh.


Diyan segera meraih ponselnya, ia meminta Via janjian untuk ke rumah Arka dan Mira tinggal saat ini, sebab bukan tanpa alasan Diyan hanya murni membantu, lagi pula bukankah berpisah tidak harus menjadi musuh.


"Vi, mbak udah di depan loket Mart Fresh mbak tunggu disini ya. Sebab mbak enggak tau cara ke rumahnya, enggak tau jalan." ujar Diyan menelpon Via.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2