
Dira segera membuka pintu, dimana ia tak enak hati melihat bang Arka telah pulang. Terlebih perasaan ini benar benar membuatnya tidak nyaman, sejak mimpi itu hadir. Mira merasa harus bertanya pada suaminya, akan perjanjian yang ia lihat saat suaminya meminjam banyak uang dari pak Frans, yakni papanya Via.
"Bang udah pulang, sini tas nya biar Mira bantu."
"Assalamualaikum dik, kok lupa jawab sih."
"Walaikumsalam, iya bang .. Maaf Dira hampir melupakan itu semua. Oh iya bang, bagaimana dengan kerjaan abang di kantor?"
"Alhamdulillah berjalan dengan baik, hanya saja ..?" terdiam Arka.
"Kenapa bang, abang enggak sembunyikan apapun dari Mira kan bang?"
"Enggak dik, hanya saja abang mandi dulu, nanti abang akan cerita kejujuran sama kamu." jelasnya membuat Mira paham.
Beberapa jam Mira menunggu suaminya mandi, makan dan berkutat di meja kantor. Hal itu membuat Arka menatap sendu, meminta maaf pada Mira saat itu juga.
"Dik, hutang abang pada papanya Via banyak, soal ibu dan seluruh aset milik ini sebagian di bayar olehnya, abang bekerja karena Via tidak bisa handle hanya karena dia wanita."
"Terus, maksud intinya apa ya bang?"
"Setelah perjanjian dua tahun tidak mengembalikan abang harus membayar 15 % tiga bulan lagi dari keuntungan kantor yang tidak kembali, jika tidak .." terdiam Arka.
"Jika tidak apa bang?"
"Abang harus menikahi Via, membimbing Via karena kontrak abang tidak bisa melunasi pinjaman. Maafkan abang dik, abang akan berusaha mengembalikan semua itu, abang mengatakan semua ini .."
"Cukup bang, Mira ke kamar dulu ya."
Mira menutup pintu kamar, sungguh hal ini membuat dirinya benar benar tidak kuat menahan tangis, seolah ini adalah dejavu dirinya. Karma yang merebut suami lain karena tak punya anak, namun kini Mira harus mendapatkan dirinya akan di madu, di madu karena suaminya tak bisa membayar hutang lunas.
__ADS_1
'Ya Tuhan, aku harus bagaimana. Maafkan Mira .. Mira harus bertemu mbak Diyan, Mira harus meminta maaf atas semua khilaf semua ini.' batin Mira, ia bergegas merapihkan baju dan membawa Ciya diam diam.
Dik .. Buka Pintunya dik!! Pinta Arka, namun tak di hiraukan.
Mira masih menangis, ia lewat pintu belakang menggendong Ciya, dimana ingatan kebaikan mbak Diyan yang awal dirinya masuk menemui masa lalunya yakni Arka.
Pov Ingatan Dulu :
Saat itu mbak Diyan membulat membaca kalimat demi kalimat yang tertera jelas di kertas itu. Detak jantungnya berpacu naik turun dengan tangan yang bergetar membuat tubuhnya lemas seketika.
“Surat diopname Ibu Hanna.”
Nama yang begitu Diyan kenali tak lain merupakan ibunya Mira. Selama pencariannya, ia mengetahui bagaimana keluarga Mira sebenarnya, tetapi ia tidak tahu jika ibunya memiliki penyakit ginjal yang baru saja melakukan operasi.
Bahkan, Mira juga tak bercerita mengenai hal ini. Diyan hanya tahu jika ibunya sakit stroke yang memakai kursi roda.
“Lalu, kenapa kamu tak mengatakan ini padaku, Mira? Apa kamu berusaha menghindar dan menjauh atas permintaanku kemarin?” Diyan bertanya pada dirinya sendiri.
Namun, sudah dua jam berlalu, sepertinya Mira memang tak berniat menghubungi Diyan sekarang. Entah, mengapa dia seolah menghindar seperti ini.
Diyan mengirim pesan untuk mengkonfirmasi suratnya pun tak ada jawaban darinya. Seketika Diyan mendadak frustasi.
Ia tidak bisa diam saja sebelum melihat kondisi Mira dan keluarganya. Apalagi Mira merupakan tulang punggung keluarga yang selalu bekerja keras selama ini.
Dengan segera Diyan merapikan berkas di mejanya, lalu bersiap akan menghampiri Mira menuju rumah sakit, yang alamatnya tertera pada surat tadi.
Baru saja hendak melangkahkan kakinya ke luar ruangan, Diyan berhenti karena mendengar sayup suara yang membicarakan dirinya.
“Jangan salah loh, pemilik butik ini wanita perfect, Beliau juga memiliki toko roti yang lagi viral, orangnya juga cantik, modis, memiliki rumah dan mobil mewah yang berjajar di garasi rumahnya, tetapi sayangnya katanya belum punya anak sampai sekarang.”
__ADS_1
“Rasanya percuma, ya, Bu, bisa memiliki semuanya, tetapi tidak ada anak, kaya sia-sia saja hidup karena nggak ada keturunan untuk meneruskan perjuangannya.”
“Iya, Bu, mending saya berarti hidup tak mewah pun, tetapi ada anak berasa lengkap hidupnya. Namun, salut suaminya tidak menceraikan dia, sebagai wanita yang mandul.”
Di ambang pintu, hati Diyan berdenyut kencang. Kalimat yang masuk ke telinganya bagai hantaman besar untuk dirinya.
Dan hal ini membuat Mira mengingatkan posisi Mbak Diyan, meminta suaminya menikah karena anak, namun tahu jika suami mbak Diyan adalah masa lalu Mira, ia merebut dan memiliki seorang diri saja. Namun kali ini mata Mira pecah berkaca kaca bahwa karma kali dirinya sebagai madu, benar benar karma yang harus ia bayar.
Ea ...
Ea ..
"Nak tunggu bentar nak, jangan nangis ya!" isak Mira, yang berusaha mengunjungi alamat mbak Diyan.
Namun kali ini bukan tanpa alasan, saat itu sebuah mobil truk melintas cepat, oleng ban membuat Mira dan Ciya tertabrak dan berlumuran darah akibat kecelakaan itu. Ingatan Mira kabur lewat pintu lain tanpa bang Arka tahu ia keluar membawa Ciya.
Argh ...
Teriak Mira, mengucapkan asma tuhan dan melihat bayinya sudah terpental ke arah semak lain dengan terlihat tertindih sepeda motor dari arah lain.
'Mbak Diyan aku ingin meminta maaf, tapi apakah ini akhir hidupku, Tuhan selamatkan. Ciya .. Aku tidak sanggup menjadi madu. Tapi selamatkan Ciya, dia berhak untuk hidup ketimbang aku.' lirih Mira menutup mata.
TAMAT.
Masih ada chapter bonus bab ya all.
Yuks mampir ke judul panjang Author.
"Skandal Cinta Ke Dua." namanya sama Asna tapi beda alur.
__ADS_1
"Mrs. Bodyguard Super." tema fantasi wanita.
Dua karya on going tema lomba dan akan berlanjut panjang sesuai tema yang di minta. Yuks tap jejak love, agar author tidak menangis dan maaf jika karya author cepat tamat, sebab sesuai aturan noveltoon tidak boleh lebih dari 2 on Going.