
Mira dan Ciya keluar halaman, dimana ia akan menjemur baju agar cepat kering, namun ia berpapas ibu mertua yang membuat sabarnya harus lebih kuat.
"Haduh, tolong ya Mira. Kalau nyuci gak usah pake pengering, bayar listrik mahal tau. Terus kamu kalau jemur itu coba agak geser ke sanaan, jangan disebelah sini. Ini khusus tempat jemuran ibu, yang kamu ke arah sana aja! Trus, kamu punya ember, ya pake punya sendiri." ketus Viola, yang saat itu terlihat kesal melihat Mira.
"Iya bu, maafin Mira. Embernya nanti Mira bersihin, untuk kali ini Mira pinjam ya bu, sebab barang barang di kontrakan lama itu belum semua ke ambil."
"Halah, ya udah deh. Nih uang 15rb kamu cari ember baru model kaya gitu, bedain aja warnanya. Ibu enggak mau pake ember bekas cucian anak kamu itu pasti bekas Lem atau bekas pups Ciya kan."
Deg.
"Iya bu, maafin Mira."
Setelah mertua tak terlihat, Mira nampak merendam cucian bayinya dan pakaian dalam itu dengan pewangi, meletakkannya di pojok an. Mira kembali menahan air mata, dimana kini ia beranjak berdiri, lalu ke arah kamar melihat Ciya, setelah sampai kamar. Mira menatap cermin, dirinya memang terlihat kucel dan berbeda dari Mira yang dahulu.
Mira berganti baju, berniat ke pasar terdekat membawa Ciya, hanya untuk membeli ember berukuran sedang.
"Sayang, ikut ibu ya nak."
Terlihat Ciya terbangun, menangis sebentar. Mira menyempatkan memberikan Asi untuk Ciya, sebab tak ada kulkas jadi ia tak bisa menyimpan Asi dengan memompa. Setelah beberapa saat, tak melihat ibu Viola, Mira menutup pintu rapat dan berjalan sekitar 10 kilometer.
__ADS_1
Ada rasa sesak, dimana pasar terlihat. Da-dan-ya terasa sakit, dan bagian perutnya bekas jahitan terasa perih, Mira duduk di trotoar pinggir jalan, dimana ada Halte ia segera menarik nafas. Perih, gatal sakit dan kram kakinya saat ini, membuat Mira menahan sabar.
"Di butuhkan lowongan kerja." Tatapan Mira pada sebuah ruko sayuran, yang berfikir saat ini apakah pemiliknya menerima dirinya bekerja, ketika ia membawa bayi.
Lupakan saja Mira, lagi pula jika bekerja membawa bayi itu pasti akan sulit dan memakan waktu yang luar biasa, dimana nantinya ia akan di cerca oleh sang ibu mertua. Dan semoga saja harapan Mira saat ini adalah, bang Arka segera diterima bekerja, saat malam nanti pulang ia akan mendapat kabar indah suaminya dimudahkan mencari rezeki.
"Pak ember bunga, ukuran sedang itu saya mau berapa ya satunya?"
"45 ribu bu. Yang biru atau merah?" tanya penjual.
Eh, Mira terlihat diam. Kala ibu mertuanya saja memberikan 15 ribu rupiah, sehingga Mira menatap dompetnya yang saat itu terlihat sekali uang belasan ribu rupiah saja.
"33 ribu net bu. Dah murah juga." gerutu sang penjual, membuat Mira meminta maaf.
"Ya udah, maaf ya pak. Saya hanya disuruh soalnya."
Mira nampak kembali berjalan, mencari tukang perabotan dipinggir jalanan, yang memang lokasi itu adalah pasar murah, dimana hari rabu akan ada pasar dari pagi sekali hingga sebelum dzuhur.
"Mas, ember itu warna kuning, kira kira uang saya dua puluh delapan ribu lima ratus, dapat enggak ya?"
__ADS_1
"Ibu mau yang ini, panglaris lah. Ambil bu, doain aja dagangan saya laris." senyum mas mas penjual yang berbaik hati itu.
Hingga saat itu, nampak Mira tersenyum dan meraih ember sedang, yang sudah dikantongi.
"Makasih mas, semoga dagangan mas laris setelah saya pergi tak tersisa." lirih Mira.
"Amiin. Balik lagi bu, biar jadi langganan."
"Tentu pak." pamit Mira dengan ucapan salamnya.
Mira pun nampak berjalan pulang, dimana ia haus tapi ia menahan karena ia ke pasar saja jaraknya belasan kilo meter, dimana saat ini ia menoleh ke penjual perabotan tadi, Mira nampak senyum kala penjual itu di kerumuni banyak orang, dan terlihat banyak dari mereka membawa kantong plastik, terbukti doa yang sedang kesulitan akan di doakan karena kemurahannya mendapat balasan.
Mira pun nampak berjalan ramah, dimana saat itu terlihat pedagang yang ketus kesal melihat dagangan dibelakang ramai, sementara dagangannya sepi.
Mira pun sampai rumah, ia mengucapkan salam. Hingga dimana ia ke dapur meraih gelas, mengisinya sambil menyusui Ciya saat itu.
Gleuuk.
TBC.
__ADS_1