Penyesalan Sang Madu

Penyesalan Sang Madu
Kembali Hidup


__ADS_3

Mata Mira membulat membaca kalimat demi kalimat yang tertera jelas di kertas itu. Detak jantungnya berpacu naik turun dengan tangan yang bergetar membuat tubuhnya lemas seketika. Kala kehidupannya kembali diselamatkan oleh seseorang namun bayinya Ciya, tak berhasil di selamatkan.


Satu Tahun Enam bulan sudah kepergian frustasi Mira kali ini saat anak perempuannya tewas kecelakaan , ia harus bersabar ketika mama mertuanya meminta suaminya untuk menikahi Via, karena tak ada keturunan pasca ia kecelakaan beberapa bulan lalu, tanpa memikirkan hati dan kondisinya.


“Surat di opname tante Lira.”


Nama yang begitu Mira kenali tak lain merupakan ibunya Via. Selama pencariannya, ia mengetahui bagaimana keluarga Via sebenarnya, tetapi ia tidak tahu jika ibunya memiliki penyakit kronis yang baru saja melakukan operasi.


Bahkan, Mira juga tak bercerita mengenai hal ini. Mira hanya tahu jika ibunya sakit stroke yang memakai kursi roda.


“Lalu, kenapa kamu tak mengatakan ini padaku, Via? Apa kamu berusaha menghindar dan menjauh atas permintaanku kemarin?” Mira bertanya pada dirinya sendiri.


Biasanya, ia akan menghubungi meski surat sudah diantar ke butik, sebab Mira merupakan tangan kanannya yang lebih banyak pekerjaan yang dipegang. Butik yang dipegang Via semasa ia kritis, menjadi sangat sukses dan maju.


Namun, sudah dua jam berlalu, sepertinya Mira memang tak berniat menghubungi Via sekarang. Entah, mengapa Mira seolah menghindar seperti ini, sanggupkah dirinya seperti menuai karma?!

__ADS_1


Mira mengirim pesan untuk mengkonfirmasi suratnya pun tak ada jawaban darinya. Seketika ia mendadak frustasi.


Ia tidak bisa diam saja sebelum melihat kondisi Via dan keluarganya. Apalagi Via merupakan tulang punggung keluarga yang selalu bekerja keras selama ini.


Dengan segera Mira merapikan berkas di mejanya, lalu bersiap akan menghampiri Via menuju rumah sakit, yang alamatnya tertera pada surat tadi.


Baru saja hendak melangkahkan kakinya ke luar ruangan, Mira berhenti karena mendengar sayup suara yang membicarakan dirinya.


“Jangan salah loh, pemilik butik ini wanita perfect, Beliau juga memiliki pasar yang lagi viral, orangnya juga cantik, modis, memiliki rumah dan mobil mewah yang berjajar di garasi rumahnya, tetapi sayangnya katanya belum punya anak lagi, terkait kecelakaan. Kasihan kan dia sampai sekarang hidupnya udah sukses tapi dinyatakan rahim di angkat.”


“Rasanya percuma, ya, Bu, bisa memiliki semuanya, tetapi tidak ada anak, kaya sia-sia saja hidup karena nggak ada keturunan untuk meneruskan perjuangannya. Kasian juga anak pertama masih bayi meninggal karena kecerobohan emaknya."


Di ambang pintu, hati Mira berdenyut kencang. Kalimat yang masuk ke telinganya bagai hantaman besar untuk dirinya.


Sakit dan ucapan mereka benar apa adanya. Bukan hanya sekali Mira mendapat kalimat pertanyaan kapan hamil lagi, yang selalu menjadi bumerang dalam batinnya, tetapi kini sudah kebal atas pertanyaan yang mematikan itu.

__ADS_1


Kini, Mira dicap sebagai wanita mandul yang tak bisa memiliki keturunan lagi juga tak bisa memberi kebahagiaan kepada suaminya.


Walau sudah terbiasa, hati kecilnya merasa sakit dan ingin menjadi wanita sempurna seperti yang lain. Pasalnya, tidak ada wanita yang ingin dilahirkan seperti dirinya yang memiliki kekurangan.


“Mohon maaf ibu-ibu, butik ini dilarang untuk membuat gosip dan ibu bisa membaca slogan di sebelah kanan yang sudah tertera di sana.”


Salah satu karyawan menghentikan pembicaraan mereka sebelum sang pemilik butik mendengar. Butik ini sengaja dibuat agar tidak mengganggu kenyamanan yang lain.


Namun sayangnya, tanpa karyawan mencegah, sang pemilik butik sudah mendengar lebih dulu dan kini sedang menormalkan air mata yang berusaha untuk tidak turun.


Sang ibu-ibu pun berhenti dengan ucapannya setelah ditegur. Ia lupa jika butik ini dilarang untuk berbicara secara berkelompok selain pertanyaan mengenai penampilan dirinya.


Saat itu, Mira pun berjalan ke luar, lalu menyapa para pengunjung yang sedang berkumpul. Ia tersenyum ramah seolah tidak terjadi apa-apa.


“Saya titip butik sebentar, ya, mau jenguk ibunya Via di rumah sakit,” kata Mira berbicara pada salah satu karyawannya.

__ADS_1


Padahal jelas jelas butik ini memang sah milik Ciya, tapi karena di kelola Via berjalan baik. Mira pun berusaha mencari Via, saat ini untuk berbicara empat mata.


TBC.


__ADS_2