
Entah kenapa Ciya saat itu terlihat tenang, setelah menangis lama, melihat Mira yang ikut menangis, seolah bayi itu diam menatap ibunya ikut menangis, rasa batin sedih seorang bayi hanya bisa menampakan raut sedih, hidung merah dan memeluk erat baju ibunya, ketika Mira menangis seharian menutupi wajahnya, hingga beberapa saat ia mencari akal untuk bisa membuatkan ayunan di balik atas kayu, pintu kamar. Agar Mira, bisa membereskan rumah dan memasak nasi, di mana saat itu hanya ada kompor sumbu.
Selang beberapa lama, Arka terlihat kembali cepat. Lalu melihat Mira yang nampak kucel dan berantakan, bodohnya lagi melihat bayinya di buatkan ayunan yang nampak bahaya bagi Arka.
"Assalamualaikum dik."
"Walaikumasalam bang! Abang udah pulang, kok tumben cepet banget?" tanya Mira.
"Astagfirullah dik, ayunan seperti inikan bahaya. Kamu di rumah ngapain aja sih dik, kalau Ciya jatuh gimana, kamu lupa dan yakin enggak pernah buat Ciya jatuh?"
Deg.
"Maaf bang, tapi Mira tadi .."
"Kamu harus tetap rapih dik! Apapun itu, pandai waktu waktu kamu, beda jauh kamu sama Diyan yang sibuk, tapi bisa merapihkan dengan semuanya sendiri. Sekarang siap siap, dandan yang rapih! Kita mau kunjungi rumah ibu."
"Rumah ibu..?"
"Iya, ibu abang dik, cepat ya! Ciya bisa abang gendong, lepasin aja dulu itu sapu, nanti abang bersihin sisanya, nanti aja setelah kita pulang!"
__ADS_1
"Iya bang, maaf." lirih Mira, yang kali ini ia benar benar menahan tangisan, dan rasa sesaknya, benar benar menusuk ke ulu hati.
Celos kata kata bang Arka, menusuk pikiran dan jantung Mira. Mengatakan dirinya di rumah ngapain saja, bahkan setengan rumah berantakan baru bisa ia kerjakan, karena sibuk membuat ayunan, mengakali ayunan agar Ciya bisa berhenti menangis, padahal Mira sudah cukup untuk membuatkan susu, dan memberi Ciya makan, memastikan popoknya tidak penuh. Beginilah perlakuan abang, pada Mira. Hanya karena Mira seorang madu, madu yang hanya dibutuhkan, rasanya tidak adil dibandingkan terus.
Tanpa pikir panjang, Mira meraih gamisnya, rasanya aneh karena gamisnya, terlihat kecil. Sudah beberapa gamis ia coba, tapi sedikit sesak dibagian PD, apalagi tidak masuk ke pangkal bahunya.
'Ya ampun, apa aku benar benar gemuk?' batin.
"Dik ayo cepat dikit!"
"Bang maaf, tapi gamisnya kekecilan, maafin Mira bang,"
Mira mau tidak mau, memakai daster lengan panjang, dibalut cardigan dan pashmina panjang menutupi bawah diatas perut. Terlihat bang Arka mengunci pintu, bahkan cucian piring terlihat berantakan, bahkan bang Arka melihat lagi apakah ada kabel dan listrik yang belum dimatikan.
Dengan motor bebeknya, Mira sendiri merasa sakit ketika dibonceng, bahkan Mira ingin berbicara sakit, tapi rasanya ia takut mengatakan, alhasil rasa sakitnya itu membuat Mira menahan hingga ke rumah mertuanya.
"Assalamualaikum, bu." ujar Arka, yang kala itu ibu Vio sudah ada di depan rumah sedang duduk, selesai menyapu.
"Kamu jadi datang Arka! Bawa Mira juga?"
__ADS_1
"Iya sekalian jenguk ibu, bukannya mau lihat Ciya, kalau enggak sama Mira, terus siapa yang bonceng?"
"Bu .." mencium tangan ibu mertua, Mira.
"Ya udah masuk yuk!"
Mira melangkah masuk, rasanya berbeda terbalik saat Mira berada di rumah mertuanya, megah benar benar sempurna tidak seperti gubuk yang ia tinggal bersama Arka. Tapi memang keputusan Arka adalah tinggal dengan sesuai kemampuannya, dan disinilah Mira berusaha tegar, karena cintanya pada bang Arka, ia akan tinggal dimanapun meski tak layak asalkan tidak kebocoran dan bisa untuk berteduh.
"Jadi kamu mau pinjam uang berapa Arka?"
Deg.
Celos ucapan ibu mertua, membuat Mira menggendong Ciya kaget, bahkan Mira sendiri tidak tahu, jika kedatangan suaminya adalah meminjam uang.
"Arka pasti gantiin uang ibu, Arka mau kontrol Mira bu, lusa harusnya kembali. Ditambah Arka mau sunat dan tindik Ciya, kalau perlu aqiqah kecil kecilan, dimana aqiqah itu hanya di bagikan saja, di panti."
"Hadeuh, rejeki kamu beda sama yang satu ya! Pas sama Diyan penyakitan dia mandul, sama yang ini kesusahan. Bentar ya ibu ke kamar! delapan juta cukup kan?"
Mira sendiri melihat suaminya, terlihat tak bisa berkutik. Bahkan perkataan ibu mertuanya, membuat Mira bertambah menusuk ulu hati. Bahkan Arka hanya diam saja, ketika ibunya ngedumel.
__ADS_1
TBC.