
Diyan menggelengkan kepalanya, dimana ia juga bingung dan mulai konek. Jika ini pasti ide Vina dan Asiyah sepupu jahilnya itu yang selalu mencuri temu janji tanpa izin nya.
"Ini pasti ulah dua bocah itu bu, awas aja kalau nanti pulang."
Sang ibu hanya tersenyum dibalik kekesalan Diyan, sebab sejak putrinya sembuh ia merasa Irham anak baik apalagi sudah lama ibu Nira kenal Irham sejak bangku SMA.
"Masuk nak Irham!"
"Makasih bu, tapi takut telat. Tadi Asiyah dan Vina sepupu Irham bilang, kalau ada hal mendesak. Irham dikasih alamat lokasi untuk antar Diyan, yang mau anter bayi ini ke alamat temannya."
"Hah .. anter bayi teman Diyan?" Melongo sang ibu, benar aksi jahil keponakannya itu benar benar membuat Diyan menutup wajah dan menunduk.
"Diyan, dari pada terlambat aku aja yang anter. Sekaligus siang nanti project busana batik, aku perlu bantuan kamu. Aku udah pernah kasih kabar kan, email sudah dibuka?" tanya Irham.
"Ah, iya benar. Baiklah, maaf ya. Merepotkan."
"Ga ada yang di repotin Diyan."
Beberapa saat pun, mereka minum sejenak dan Irham pamit pada ibu Nira, dimana meminta izin. Kala dirinya membawa Diyan terkait kerjaan. Tak lupa bu Nira meminta Irham dan Diyan hati hati, dimana mereka pamit dan mobil Irham sudah tak terlihat di pintu gerbang.
__ADS_1
Di dalam mobil, Irham begitu lucu kala Diyan mengajak bicara bayi mungil, sebentar tertawa dan sebentar mengoceh, dimana saat ini Irham menanyakan sesuatu hal yang membuat ia refleks kaget.
"Ini bayi teman kamu yang mana Diyan, aku baru tahu loh. Kamu punya teman selain partner kerja?"
"Dia anak Mira dan mas Arka."
Sriith .. rem dadakan.
"Kamu ga asal bicara kan?"
"Enggak, Asiyah semalam ga sengaja nolong mereka. Arka di rawat, jadi aku berniat mengembalikan Bayi ini, dan menjenguk keadaannya. Kalau kamu keberatan, biar aku aja yang turun."
"Emang kamu tahu tempatnya?"
Menggeleng kepala Diyan.
"Aku antar, aku hanya kaget maaf Diyan, seluas apa hati kamu semakin aku kagum. Entah keluasan hati kamu itu terbuat dari apa, aku sangat sulit. Andai kamu punya kembaran, aku pasti nikahin."
"Cih .. Gombal." tawa Diyan dan Irham kala itu, kembali menuju rumah sakit yang diberikan oleh Asiyah dan Vina semalam.
__ADS_1
Diyan sendiri sebenarnya canggung, memang akte cerai mereka sudah berlangsung dua bulan, namun ia berharap kedekatan dengan Irham tidak jadi fitnah, karena bagaimanapun Diyan bekerja sama dengan Irham, kala ia membuat usaha butik dengan nama 'Irham Style.'
Irham sendiri membuat itu, karena kemeja yang ia tahu dari jahitan tangan Diyan, saat itu untuk Arka tapi ia pakai. Sehingga beberapa klien banyak meminta orderan, sehingga jadilah Irham Style berkat campur tangan Diyan.
'Udah sampai cantik.' lirih Diyam pada bayi itu yang anteng tertawa bahagia sejak di pangkuannya.
Dan saat mereka turun dari pintu mobil, Irham mendekat dan membawakan tas yang berisi kebutuhan bayi itu, membuat beberapa suster serta orang lain yang berobat menatap ke arah Diyan.
'Ya ampun dede bayinya lucu, cantik kaya ayah bundanya nih pasti. Serasi sekali, ikut cubit gemas ya tante, om." ujar seseorang, gemas melihat Ciya dalam gendongan Diyan.
Dimana perkataan mereka tadi sekilas, membuat Diyan dan Irham saling pandang begitu saja.
Astagfirullah.
Diyan mencoba fokus, dimana Irham berdeheum gugup, meminta Diyan lebih dulu berjalan.
"Kamu duluan Diyan, aku tanya ke loket dulu ya."
"Iya, makasih." balas Diyan, yang melihat Irham, entah kenapa merasa panas dingin tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Sejak disanjung dianggap orangtua kedua bayi, Diyan sepuluh detik saling pandang membuat kesadaran untuk fokus kembali.
TBC.