Penyesalan Sang Madu

Penyesalan Sang Madu
Mencari Kerjaan


__ADS_3

Di depan rumah, terlihat ada tamu yakni tetangga, yang saat ini ibu mertuanya menghampiri dengan pintu setengah tertutup, ada rasa kelu saat berbicara. Dimana Mira ke kamar, mendengar bisikan bu Viola yang berbisik bisik.


"Oh tak ada apa Bu Sri, maklumlah pekerja yang enggak tahu diri, udah ya bu. Saya mau pergi soalnya, biasa soal arisan." cetusnya, merapatkan pintu, agar di dalam tidak terlihat istri pernikahan putranya yang kedua, yang membuat Viola sendiri teramat kesal.


Sementara Mira, ia langsung menghampiri Ciya di kamarnya, dimana hidup memanglah tak sejalan, mungkin Mira pagi pagi sekali harus ke pasar, semoga ada yang merasa iba sedikit jika ia bisa bekerja membantu sayuran, dimana pasar biasanya akan beres setelah adzan dzuhur, atau ia coba keliling saja berjualan kue bersama Ciya. Siapa tahu ada orang baik, yang ingin membantunya bekerja agar Mira punya penghasilan tambahan, tapi tetap membawa Ciya dan menjaganya.


Mira pernah membuat Ciya si kecil itu menangis histeris, terluka karenanya yang tak bisa mengontrol emosi, dimana Mira tidak ingin keadaan sulitnya, berdampak kesal pada putrinya. Sebab Ciya bukanlah sebab dari kesulitan ini, Mira merasa ini adalah rasa bersalahnya pada Diyan. Hanya saja, Mira malu jika bertemu Diyan kelak dan belum siap.


Meski Mira berfikir dua kali, jika bekerja tanpa sepengetahuan bang Arka tapi benar nasibnya tidak mau terus seperti ini, jika menantu tak ada uang, akan sedikit hina perlakuan yang selalu di sebut benalu yang menyusahkan.


Ciya terlihat tidur setelah kembali Mira susui, dimana saat ini ia benar benar tak karuan dan tak jadi lapar. Begitu mengintip di balik jendela, sangat kaget kala ibu mertuanya bicara ia adalah seorang pekerja, mirip irt di rumah rumah pada umumnya.


"Ya ampun bu, sebegitu malunya ibu mempunyai menantu seperti Mira, andai Mira masih ada ibu. Mungkin Mira lebih baik tinggal bersama ibu sendiri." celos begitu saja.


Mira memikirkan cara, besok ia harus mencoba ke toko pasar, ia tak peduli pekerjaan apa agar esok bisa bekerja, apalagi dengan kemampuan design butiknya. Maka Mira yakini untuk bisa merubahnya mulai saat itu juga, sebab yang Mira pikirkan adalah batinnya terasa sesak, mungkin dengan ia menjadi wanita mandiri, ia bisa melakukan sesuatu dan mempunyai uang sekaligus membantu bang Arka.


Mira segera merapihkan baju Ciya, lalu bukan tanpa alasan, Mira sendiri berganti pakaian rapih, dimana ia sudah meminta izin ke pasar berkeliling mencari bursa loker design butik, karena di pikiran Mira, ada banyak ruko yang berjejer di samping pasar ramai, ada banyak toko dari ria busana, frame, zoya, bahkan butik batik lainnya sementara di sebrangnya adalah toko toko kue berjejer, serta makanan kering.

__ADS_1


Dengan modal ijasah dan lamaran, Mira percaya diri membawa Ciya melamar kerja saat itu juga.


"Ciya sayang, doain ibu ya. Ibu ga akan tinggalin kamu, semoga aja ada kerjaan freelance yang bisa rubah kehidupan kita. Dan semoga ayah cepat pulang dan kerja lagi. Amiin."


Dimana saat ini Mira nampak ada di titik terendah, dimana saat ini ia benar benar rapuh, banyak shalawat dan istighfar agar Mira, tidak pernah membentak si bayi mungil, bahkan sempat saat itu, Mira membekap menutupi wajah Ciya dengan bantal karena sikap bang Arka yang tidak peka, mertua yang bawel, apalagi saat ini juga kehimpitan uang yang kritis, dimana bang Arka tadinya ceo, berubah menjadi usaha cuci baju dengan modal nekat, karena bang Arka pernah melihat hanya modal tabung dan mangkal saja, sehingga uang hasil cuci baju kecil cukup untuk makan saja sampai siang dan sore, itu adalah hal yang tak bisa Mira diam saja, dimana bu Viola mulai terlihat membandingkan dan tak anggap ia sebagai menantunya.


Melangkah kesana kemari, tak satupun tawaran kerja. Tak satu pun Mira mencari kerja diterima, sebab membawa anak adalah faktor perusahaan yang membuatnya terganggu. Mira berfikir jika ia sudah jadi bos, mungkin akan sama berfikir sempit seperti itu. Namun Mira tidak putus asa, sebab dirinya benar benar tidak mau sang mertua terlalu kejam lagi padanya.


'Bang, semoga kamu tidak marah saat aku mencari kerja lagi, sebab dengan ini aku bisa bertahan hidup bersama putrimu, sebab mertuaku adalah ibu ku juga. Aku menyesal telah masuk kedalam kehidupan kamu yang mana perusahaan koleps karena Mira pasti peyebab nya.' batin Mira yang berjalan arah pulang.


Namun bukan tanpa alasan, Mira yang melihat toko kue basah keliling, dirinya tergerak untuk membantu penjual ibu tua itu meski Mira keadaan sedang menggendong bayi.


Nenek tua itu menoleh melihat Mira yang menggendong bayi, sementara bakul kue di taruh begitu saja dari gendongan.


"Terlalu berat neng, tapi gimana dong. Kue jualan nenek masih banyak."


Hal itu membuat Mira nampak senyum, ia berteriak dengan lantang untuk membantu jualan sang nenek, konon ketika mempermudah urusan orang lain di depan mata, maka urusan kita akan dipermudah lagi oleh Tuhan.

__ADS_1


"Gak apa nek, lagi pula aku juga senang bantu nenek, semoga habis ya." senyum Mira.


Nampak Mira membantu bakul penjual kue basah, terlihat jelas disana beberapa orang berdatangan. Bahkan dekat sebuah pos, Mira duduk di iringi nenek tua tadi yang berubah jadi senyum, ketika banyak yang memborong kuenya.


Dalam beberapa jam, benar saja dagangan nenek tadi terjual habis, menyisakan kue putu, dan pudding kue warna warni.


"Alhamdulillah habis, nenek pulang kemana? biar nanti aku antar."


"Ini sisa kue kamu ambil, dan ini buat beli pampers. Maaf cuma segini nenek kasih, makasih ndok kamu bantu nenek jualan siang ini."


"Nek, aku ikhlas kok. Uangnya ambil buat nenek aja."


"Jangan ndok, kamu juga sama sama butuh. Kamu kemana siang siang begini bawa bayi kamu panas panasan ndok?" tanya nenek itu pada Mira.


Deg.


Terdiam Mira, tidak mungkin ia katakan pada nenek itu ia sedang mencari pekerjaan dengan membawa bayi.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2