Penyesalan Sang Madu

Penyesalan Sang Madu
Aku Tidak Tahan


__ADS_3

Mira nampak dipeluk Arka, dimana mereka berjalan pulang, nampak juga terlihat Arka meminta maaf dan mereka berdiri lalu menatap ke arah mobil, dimana Asiyah juga ikut menatap dari jendela. Arka hanya melambai kode pergi, dan membawa Mira serta bayinya dengan berjalan kaki. Mungkin Mira sedang menjelaskan apa saja di dalam mobil, serta memberitahu suaminya soal kunci toko roti.


'Kasihan kamu toko roti, pemilikmu berganti ganti ya. Baiklah aku akan melihat seberapa hancur toko roti ini di kelola bu Viola dahulu, apalagi baru beberapa hari di pegang Mira, nampak sekali mereka ribut besar. Pasti mereka ribut besar, karena om Arka enggak mau terima. Tapi gimana aku jelasin ke mbak Diyan soal kunci ini ya?' batin Asiyah, kemudian kembali menjalankan mobilnya.


"Kasihin dulu ajalah, perkara hal lain gimana nanti." kembali Asiyah berbicara sendiri.


Pagi Harinya.


Membuatkan teh manis pagi hari, Mira yang awalnya senyum pada ibu Viola, beringsut begitu saja.

__ADS_1


"Ga usah buat minum manis manis, gula mahal. Emang semua enggak pake dibeli apa? udah lahiran tuh yang gercep, buat susah suami, nambah seret rejeki lagi. Kalau di pikir pikir, kamu tuh istri pembawa seret rejeki loh Mira." ujar ibu mertua, membuat Mira menelan saliva terasa pahit.


"Insyallah yang sabar ya bu, bang Arka juga bentar lagi mau interview, di kota pusat pt terkenal itu loh, semoga diterima, sebab pangkalan loundryan terlihat semakin sepi." lembut Mira yang mencoba berdamai dimana ia juga hidup menumpang di rumah mertua, tapi bagaimanapun seorang istri ikut pada suaminya dan berjanji tidak akan kabur di saat bertengkar, karena kejadian itu membuat Mira berfikir dua kali.


"Alah, lembut mau gimana. Orang tiap hari minta duit aja kerjaannya, terus kamu ini kenapa bodoh sih, kenapa kamu pake acara kasihin kunci ruko toko roti ke si Diyan, ga punya malu kamu. Harusnya otak kamu itu berfikir kamu juga disini beban nyepetin mata ibu, numpang banyak yang harus dibayar, mau kembali ngontrak ke rumah gubuk reot, sebulan 900rb aja kamu gak sanggup bayar, pake acara kabur semalam. Kontrakan model lega doang, tapi membahayakan Ciya buat apa, udah minggir sana! biar suruh Arka cari perempuan lain, yang bisa kasih rejeki bagus buat putra ibu, biasanya dia bakal lancar tuh rejekinya kalau ganti istri." oceh ibu mertua dengan spontan berkata nyelekit, hingga tak terlihat.


Mira nampak syok, ketika Arka tak ada. Ibu mertua yang dulu hangat, ternyata benar benar membuatnya sakit hati, dulu ia sangat di manja dan diperhatikan, tapi setelah pernikahan, Mira baru tahu sikap dan sifat asli Bu Viola. Apakah dulu mbak Diyan mendapat perlakuan seperti ini, sehingga ia membuka usaha kecil dan menyibukkan diri.


Ah! Sungguh malang, membuat Mira nampak menutupi rasa tangisannya.

__ADS_1


Mira, diam bersabar di dalam kamar menangis, hingga beberapa jam kemudian bang Arka pulang. Mira pun senyum menghampirinya, seolah kejadian malam itu dan keributan sudah ia lupakan, tapi entah dengan bang Arka.


"Bang, udah pulang? apa abang diterima kerja, kalau diterima kita ngontrak lagi yuk bang. Meski petak, kita tinggal bersama Ciya aja."


"Dik .. kamu ini baru juga abang dateng, udah ngelantur terus. Kamu kenapa dik?"


"Bang, ibu selalu salahin aku terus seperti biasanya, meski petak kecil. Kita bisa nyaman tinggal, aku mohon bang, aku sungguh ga tahan "


TBC.

__ADS_1


__ADS_2