Penyesalan Sang Madu

Penyesalan Sang Madu
Tinggal Di Mertua


__ADS_3

Diyan dan Irham tak menyangka kehidupan Mira kini berubah, sehingga Diyan mengatakan jika toko kue itu milik Ciya kelak, dan Mira turut andil untuk membesarkannya sampai Ciya bisa mengelolanya.


Mira sendiri sangat bersyukur, akan tetapi Diyan hanya melihat Arka dari balik jendela, dan pamit bersama Irham, setelah Ciya di berikan pada Mira, padahal Mira sendiri sangat malu pada mbak Diyan yang memberikan suatu hadiah aset untuk pernikahan mereka, padahal Mira sudah merebut suaminya.


'Jadi aku salah sangka pada Mbak Diyan?' batin Mira berkecamuk.


Hingga beberapa minggu kemudian, dimana Arka sudah lebih baik, namun terkadang ada hal aneh mudah emosian padanya, ketika tinggal di kediaman ibu Viola.


'Bang, jika Mira ingin. Mira benar benar ingin tinggal saja di gubuk, tanpa penat ikut campur pada ibu apalagi di kaitkan serakah pada usaha toko kue milik cucunya, bukankan toko kue itu masih milik mbak Diyan.' batin Mira.


"Dik, jaga baik baik di rumah ya. Abang pamit dulu, kamu yang akrab dan pandai ambil hati ibu."

__ADS_1


"Iya bang," senyum Mira, jika bukan karena pertumbuhan Ciya dan Arka yang pesakitan melihat suaminya bekerja menjadi cuci laundry, mungkin Mira tidak ingin satu atap bersama mertuanya, dimana baru tinggal beberapa minggu saja kuping dan segala hati batinnya sangat menyakitkan.


Seperginya bang Arka, Mira meletakkan Ciya ke dalam box bayi, dimana ia melihat pembukuan digital dari ponsel asal toko kue itu, dimana Diyan mempercayakan Mira yang memegang selama Ciya belum 17 tahun. Entah apa rasanya, jadi madu yang mendapat kebaikan seorang istri pertama yang tersakiti, bahkan Mira turut andil melukai wanita cantik hati dan parasnya itu.


Tiba saja langkah, seseorang membuat Mira terhenti di pintu kamar, yang akan mengambil minum dan satu tangannya lagi memegang ponsel.


"Kamu pasti bisanya habisin uang suami saja," bentak bu Viola.


"Uang yang mana ya bu?" balas Mira penuh sopan.


"Apa? Kenapa kamu jadi sombong sekarang? Apa semenjak pembukuan toko kue kamu jadi belagu ya, ingat kamu tinggal di rumah mertua gak gratis." ujarnya menatap aneh.

__ADS_1


"Wah, mbak Mira ada disini sekarang ya bibi?" tiba-tiba Vina muncul.


"Kamu Vi-na. Kok bisa disini?"


"Ya, dia itu keponakan sohib ibu. Udah ibu anggap anak, selama kalian gak tinggal disini. Ibu urus toko kue dan rumah ini sama Vina. Tapi sekarang Vin, kita enggak bisa lagi masuk turut andil. Si Diyan itu udah kasih ke dia ini, hanya karena dia ibu dari Ciya." celetug Viola, membuat Mira nampak sedikit tertekan sebenarnya.


"Ayo Vina, ikut bibi!" ajak ibu mertuanya, dimana Mira merasa bingung kenapa ia harus merasakan, kepahitan tinggal bersama ibu mertua yang membuatnya semakin sakit, jika tak ada bang Arka sentilan ocehannya begitu menyedihkan untuk Mira yang mencoba mengontrol emosi.


'Sabar sabar ya Mir. Semua demi Ciya dan bang Arka tinggal disini, kalau sudah cukup sepertinya harus ngontrak rumah.' batin Mira.


Menyebalkan sekali benalu-benalu ini. Dengan hati sedikit kesal, Mira segera masuk kamar. Membersihkan diri dan ingin beristirahat. Sepertinya, Arka juga belum pulang. Mungkin, sebentar lagi pulang.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2