
Tak begitu lama, selang beberapa jam terlihat Arka pulang
"Assalamualaikum dik."
"Walaikumsalam bang, abang tumben udah pulang lagi?"
"Iya, sebab tadi ada perbaikan jalan, jadi ruko cucian abang di tutup sementara. Kamu udah cek pembukuan toko kue?"
"Udah bang, tapi kalau di pikir pikir omsetnya lumayan, Mira kayaknya harus datang deh, meskipun toko itu ada berapa persen milik mbak Diyan, tetap saja meski mbak Diyan menolak, ada royalti bagian Amel. Kalau dalam dua bulan seperti ini, kayaknya kita bisa nyuruh orang untuk jadi irt bantuin Mira jaga Ciya, kemana Mira pergi Ciya dan suster atau irt itu ikut, gimana menurut abang?" tanyanya, membuat Arka diam.
"Mira, daripada kamu buang-buang uang untuk menggaji pembantu tidak berguna, mending uangnya buat Ibu. Kamu kan bisa mengerjakan pekerjaan rumah sebagaimana fungsi kamu sebagai istri, apalagi uang yang kamu pakai dulu lagi kesusahan sama Arka itu banyak loh hutangnya sama ibu." ucap komentator terbaik dunia itu, yang membuat Mira nampak kesal sekali kala ibu mertuanya ikut campur terus menerus.
"Begini, ya, kalau menumpang, ya menumpang saja. Jangan melunjak, apa lagi tidak tahu diri! Jadi baiknya kamu ikuti kata kata ibu mertuamu ini Mira. Arka, ajari istrimu berhemat!" ujar Viola, membuat Mira benar benar menahan sabar.
"Bukannya bibi ulang tahun bentar lagi, minta hadiah mobil aja bi." cetuk Vina, membuat Mira merasa kesal dalam membatin.
"Mobil, emang ibu udah perlu. Buat apa?"
"Ya perlu lah Arka, kamu kan tahu mobil ibu dulu dijual dan enggak punya supir lagi bekas kamu koleps. Kamu mau itung itungan sama ibu, Arka, kamu udah berani sama ibu?"
"Bukan begitu bu, biar nanti Arka bicarakan lagi."
"Bang, tapi maaf, Mira sungguh kerepotan. Bang Arka sendiri enggak mau mengelola toko kue itu karena milik mbak Diyan, jadi itu hadiah Ciya yang harus Mira kelola, dan hasilnya ada bagian kedua anak anak abang. AMEL DAN CIYA, meski mbak Diyan tidak meminta, tapi ini adalah balas budi Mira, seenggaknya Mira tahu mana yang penting dan enggak."
"Kamu enggak mau kasih ke ibu?"
__ADS_1
"Kenapa bukan kamu saja yang kasih, Bang? Aku hanya bisa memberinya gamis atau tas standar sebagai hadiah ulangtahun ibu. Ibu mertuaku aku anggap ibuku juga kok bang. Hanya saja kalau mobil Mira enggak berani ngutang, akan jadi beban angsurannya juga." jawabku.
"Apa-apaan, sih, kamu?? ibuku ulang tahun tapi kamu hanya akan memberinya gamis atau tas? Keterlaluan sekali. Kenapa kamu jadi begitu pelit, apa setelah toko kue di serahin sama kamu, kamu udah mulai sok ya Mira??"
"Bang, bukan gitu maksud Mira. Maaf, jika melukai hati abang. Ta ..pi?"
Tak kuduga, bang Arka akan marah mendengar jawabanku.
"Loh, Abang, nggak salah, tuh?! Kamu bilang aku pelit. Yang beri makan keluarga kamu, yang menampung dan menyediakan makanan camilan buat mereka bukankah aku dahulu, sekarang karena kesulitan abang, kamu jadi itungan ya dik? Kamu pernah berfikir kesitu ga sih?" celetug Arka, membuat Mira terdiam kaku.
"Kamu memang sudah mulai perhitungan, Bang!!"
"Kamu yang perhitungan dik, andai abang tahu Diyan datang, abang akan tolak semua hadiahnya. Karena itu abang yakin, kamu enggak sanggup hidup bersama abang dari nol kan?"
"Abang, jangan anggap Mira pelit bang. Maksud Mira tidak seperti itu. Maaf."
"Bang .."
"Terserah! Kamu memang egois. Aku sudah menganggap keluarga kamu sebagai keluargaku. Namun, kamu meng orang lain kan keluargaku, dik." teriak lagi Arka.
"Bang, kenapa kamu malah marah padaku??"
"Lalu, aku harus marah sama siapa? Sama siapa, hah!! Sama ibu?! Atau Vina yang udah bantu ibuku tinggal selama aku hidup sulit? Nggak mungkin, Mira."
Kali ini, aku ribut cukup besar dengan bang Arka. Sampai suara kami bersahutan, dan sampai ke telinga ibu mertuaku yang mungkin mereka tertawa, apalagi Ciya jadi menangis. Entah Mira kebingungan, sebenarnya apa yang menyebabkan bang Arka selalu terlihat emosi akhir akhir ini padanya.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" tanya bu Viola begitu membuka pintu kamar kami.
"Sudahlah, Bu. Ini urusanku sama bang Arka. Aku tidak mau masalahnya menjadi tambah besar," ucap Mira.
"Ibu mau tahu apa yang terjadi, bilang pada ibu?! Ibu berhak tahu," perintah Viola.
"Bu, tolong jangan ikut cam …." terdiam Mira, yang sambil menggendong Ciya kala itu.
"Mira tidak mau memberikan hadiah ulang tahun untuk ibu," celetuk bang Arka sambil menatap nanar ke arahku.
"Bang kan tadi Mira udah bilang, pengeluaran tidak boleh lebih dari pemasukan. Sebab... dan Mira tidak pernah bilang tidak mau, Bang."
"Ibu maunya mobil, Arka anggap hutang kamu dulu pada ibu, kalian harus berkorban dong, gimana caranya kamu harus hadiahin mobil." timpal bu Viola.
"Iya, Bu, Arka lagi membujuk Mira agar mau membelikan Ibu mobil. Tapi, Mira malah tidak mau, dan melawan Arka." lapornya.
Mira terdiam kaku, entah ia harus apa. Dimana sosok bang Arka dahulu, kenapa setelah pulang dari rumah sakit, sikapnya jauh 80 derajat.
Mira pun mengambil tas, ia pergi dengan Ciya dan pamit begitu saja.
"Bang, Mira harus tenangkan diri Mira Maaf, Mira harus ajak Ciya. Assalamulaikum."
Nampak terlihat Mira menangis sejadi jadinya di dalam taksi, tak tentu arah ia harus pergi kemana. Jujur saja, perlakuan ibu mertuanya dan bang Arka sendiri membuat hatinya tersayat sayat patah.
Hingga dimana taksi berhenti, membuat Mira terdiam. Siapa wanita yang berdiri, yang menghadang taksi dengan sebuah motor menghalangi jalan.
__ADS_1
TBC.