Penyesalan Sang Madu

Penyesalan Sang Madu
Kedatangan Istri Tua


__ADS_3

Mira nampak kesakitan sejak bangun tidur, terlihat sarapan sudah memenuhi meja makan. Dan kali ini, membuat Mira nampak kebingungan kala bang Arka sudah menyambutnya dengan senyuman, apalagi ia menggendong Ciya mengajaknya bermain.


"Sudah bangun dik?"


"Abang, maaf Mira jadi telat bangunin abang shubuh, ini sudah pukul 07 pagi, Mira minta maaf ya bang."


"Kamu masih demam dik, abang bangunin kamu subuh, karena Ciya nangis terus, lihat kamu panas, abang handle ya. Lain kali kamu harus jaga kesehatan ya dik."


Mira nampak bahagia, ketika perlakuan bang Arka membuat hatinya nyaman. Mira pamit membersihkan diri, dimana dirinya mandi dan bersiap siap, sebab semalam bang Arka bilang, akan meliburkan usaha loundryan, karena akan berbelanja untuk kebutuhan aqiqah. Arka juga berniat membeli kebutuhan sembako, di sebrang mall baru.


Beberapa puluh menit kemudian, nampak perut Mira ada benjolan mirip bisul, dimana sedikit merah dan gatal. Mira paksa untuk mengoleskannya minyak, berharap serangga yang melekat di perut bagian jahitan Mira, itu segera hilang.


'Ini pasti serangga sih. Tapi kok sedikit sakit ya?'


Mira minum hampir tiga gelas, entah mengapa ia enggan memberi tahu, apa yang terjadi dengannya, Mira merasa takut di samakan dengan istri yang tak bisa berbuat apa apa, bahkan dirinya kerap dibandingkan dengan mbak Diyam yang mandiri.

__ADS_1


"Udah siap dik?"


"Iya bang, udah. Mira lagi ambil tas dulu."


Perjalanan Mira dan Arka, menuju gedung aqiqah. Membuat Arka ingin mampir ketoko sembako, di sebrang mall yang pernah ia lewati, melihat kebutuhan di dapur banyak yang kosong, Arka berniat membeli yang diperlukan saja.


Saat itu Ciya entah mengapa tidak rewel bayi itu nampak mengoceh dan tenang, dikala kesibukan Arka dan Mira yang telah sampai proses aqiqah, rencana Arka adalah tinggal membagikannya langsung.


"Bang, Mira lihat lihat itu ya?"


"Iya dik! Tunggu abang dulu ya, jangan masuk ke dalam mall nya!"


"Hehe .. iya bang, Lagian cuma mau lihat setelan baju Ciyya. Iyakan sayang?" tatapan Mira, pada bayi mungilnya dibalas tawa ocehan bayi riang.


Hingga dimana Mira sampai, perutnya kembali terasa sakit saat berjalan, membuat ia terhambat dan duduk untuk minum lagi. Sejujurnya Mira ingin tahu, tanyakan pada dokter. Tapi takut uang bang Arka habis, karena bang Arka punya rejeki untuk Ciya dulu, dan selamaten kecil kecilan.

__ADS_1


"Bunda dah baik, yuk kita lihat baju baju lucu ya buat Ciya." lirih Mira, hal itu membuat ia memilih milih, tak sadar posisi Mira hampir menghalangi ke tengah, dimana mobil ingin lewat saat parkir.


"Mbak boleh minggir dikit?" ujarnya, seorang pria dengan sopan, dari balik kaca.


"Eh iya maaf, bole .." terdiam Mira kala menoleh ke arah belakang.


Dimana saat itu, Diyan sendiri melihat Mira dengan tampilan yang tidak dikenali, bahkan Mira menggendong bayi. Mira melihat sosok Irham, yang membuat mata Irham juga tertuju.


'Mi .. Ra ..'


'Irham dan mbak Diyan ada di kota ini .. ?' lirih Mira, yang kala itu melihat dari kaca mobil, terlihat jelas wajah mbak Diyan, wajah istri tua suaminya yang benar benar membawa Mira dalam duka dan terluka kembali.


'Katanya di penang, apa mba Diyan berniat ingin kembali?' goyah guncangan hati Mira, semakin berdegub dan melangkah pergi.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2