Penyesalan Sang Madu

Penyesalan Sang Madu
Serba Salah


__ADS_3

Dik, abang mau berangkat lagi karena berkas ketinggalan. Lagi pula tinggal disini enak, enggak pake bayar semua biaya, kamu harus pandai ambil hati ibu, jika abang mendapat kerjaan pun, abang pasti akan merepotkan ibu, kita sedang di uji, maafin semalam abang yang memaksa kamu memberi hadiah sama ibu, semua karena abang tidak bisa kembalikan keadaan semuanya, ibu hanya menagih janji berapa banyak yang kita pakai uang tabungan ibu, maafkan abang ya Dik!


Udah anggap aja angin lalu ok! Abang harus pamit takut telat, doakan abang keterima kerja meski itu hanya sebagai karyawan kecil. Keputusan kamu mengembalikan kunci toko roti Diyan, adalah hal terbaik, abang tidak ingin hadiah itu dari Diyan, jika kamu terima, konsekuensinya adalah kamu harus memutar cara keinginan ibu dipenuhi, tanpa campur tangan abang.


Deg, sesak hati Mira.


"Iya bang, hati hati ya!"

__ADS_1


"Assalamualaikum." kecup Arka kala itu, membuat Mira kembali terdiam, masih menatap Ciya dalam gendongan yang tertidur pulas.


Mira menatap suaminya, benar membuatnya gila semakin lama. Haruskah ia bertahan lebih lama, dimana semua ini bukan keinginannya. Dimana mendapat hadiah untuk putrinya dari mantan istrinya, Arka enggan dan menolak. Pantas saat Mira baru lahiran, Arka nampak menyembunyikan dan menyerahkan usaha toko roti dikelola ibunya, rupanya sikap gengsi pemberian mantan istri, bang Arka enggan terima. Atau bang Arka masih mencintai mbak Diyan, ah sakit. Beginilah hidup jadi yang kedua, dimana istri tua mengalah untuknya, bukan kebahagiaan pada umumnya yang ia dapat.


Jika dulu Mira sempat rem kenyataan, rem tingkahnya menguasai Arka saat mbak Diyan membutuhkannya, mungkin Mira mengulang masa indah dimana ia menerima lamaran bang Irham, dan tidak jadi yang kedua meski rasa cinta masa lalunya pada bang Arka tidak pernah luntur.


"Sadar Mira, semua sudah jadi bubur. Tidak baik menyesal. Dimana penyesalan tidak ada yang datang di awal."

__ADS_1


Kembali Mira meletakkan bayi Ciya di kasur, dimana saat ini ia melihat bahan semua pampers kebutuhan Ciya sudah menipis, tinggal dua pcs saja. Jika Ciya tidak pakai pampers, ia akan sering mencuci baju dan itu akan membuat omelan ibu mertua yang memperhatikannya terus, ketika melakukan sesuatu sambil mengoceh nyelekit padanya.


"Ya rabb, aku berserah diri dan berikan keluasan hati dan rezeki kami dan mudahkan langkah suamiku mencari rezeki yang halal di ridho mu, jika engkau marah berikan saja semua dosa masa lalu Mira yang tanggung." lirihnya, seolah menatap Ciya tapi pikiran dan mata Mira memutar, apa yang harus ia lakukan untuk membantu keadaan kembali seperti dulu.


Melakukan aktifitas, kegiatan di rumah ibu mertua membuat Mira tidak bisa bergerak, sebab banyak hal hal tidak bebas, dari apapun Mira harus sadar diri, bahkan ketika makan saja Mira sedikit lapar, tapi ia takut di omelin ibu mertuanya ini. Jika ia masak mie instan pun, ibu mertua akan rewel ketika ia makan saja sendirian. Benar benar serba salah, setiap langkah yang dilakukan Mira selalu saja salah dan kena amarah ibu mertua.


"Ciya .. ibu harus gimana nak? semoga kesabaran ibu semakin kuat bertambah ya nak. Kita harus hadapi semua ini." senyum nya pada Bayi yang sedang mengoceh.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2