Penyesalan Sang Madu

Penyesalan Sang Madu
Temani Aku


__ADS_3

Diyan pun menoleh ke arah pintu, dimana Irham teman kuliahnya datang. Mungkin ia bisa minta tolong untuk mencari alamat Mira dan Arka saat ini, sebab sudah lama sehat kesehatannya membaik. Diyan merasa sudah saatnya bertemu mereka sekedar silaturahmi, bagaimanapun ada Amel yang mungkin masih anggap bang Arka abienya.


Kedatangan seorang pria, membuat Diyan menelisik sebelah alisnya, hal itu membuat senyuman Irham yang datang tanpa memberitahu.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam. Eh, nak Irham, pas banget datang! Ayo masuk, sini nih kebetulan ada dua gelas teh, baru aja. Biar ibu buatkan lagi."


"Ga usah repot repot bu, maaf Irham datang kebetulan lewat. Diyan, kabar kamu gimana, aku sebagai teman merasa ingin datang, dan maaf baru datang! Karena kantor."


Irham dipersilahkan duduk oleh Diyan, setelah Diyam mempersilahkan, sementara bu Nira terlihat masuk ke dalam, mungkin membuat teh lagi. Irham yang meletakkan keranjang buah, dan dua coklat silverqueen dengan pita, membuat Diyan melirik dengan tatapan pisaunya.


"Coklat ..?"


"Eh, untuk Amel. Aku tahu pasti Amel sudah berangkat kan, jadi sekalian nitip. Anak itu kan suka banget sama coklat."

__ADS_1


"Pasti kamu sepagi ini bukan cuma mampir, ada hal apa Irham?" Diyan pun disebelahnya seolah gusar, apalagi ia lebih tahu soal Irham.


"Beneran mampir aja, enggak lebih. Cuma tadinya sekalian, kamu kalau enggak bosen. Sebelum jemput Amel, biar naik mobil aku. Jadi toko ku di mall Bengawan baru buka, mau ajak kamu dan Amel buat ramein. Kalau perlu ajak ibu, dan Asiyah kalau bisa."


Uhuuk .. Uhuuk.


"Eh, minum dulu Diyan. Pelan pelan!"


Diyan hampir saja tersedak, membuat ia minum teh hangat, ketika Irham datang, benar saja. Pikiran Diyan kali ini adalah Asiyah, sejak beberapa waktu terlihat Diyan melihat Asiyah menerima telepon dari temannya itu.


"Diyam, please ya! Lagi pula ini bukan di penang As, ayolah sekali kali. Mall yang berdiri dua tahun ini, baru banget aku buka usaha disana loh. Kamu dan ibu, Amel sama Asiyah udah bagian keluarga, mau ya Diyan! trus soal alamat mereka berjalan aja, kenapa sih kamu perhatian terus ama keadaan mereka?" Irham penuh harap.


"Insyallah Diyam ikut, kamu nih nak, jauh jauh temen kamu datang, kok ga mau ikut ramein, sebentar aja kan? Biar ibu yang bilang setuju."


Hahaha.

__ADS_1


Tawa gelak Irham, bu Nira membuat Diyan tidak punya pilihan, lalu meminta Irham menunggu karena dia mempersiapkan diri untuk bersiap siap. Lama beberapa saat, setelah Diyan masuk, Irham sendiri lebih dekat dengan bu Nira, apalagi Irham kini setelah lepas dari kantor dan koleps, ia tidak tahu lagi kabar Arka dan istrinya, terkait kekecewaan Irham, ia pergi memajukan usaha keluarga, dan menenangkan diri.


Layaknya seperti Diyan, tenang tanpa beban kesakitannya melihat suaminya bersama madunya semakin intim, kekecewaan dari ketulusan berubah kesedihan yang membuat Diyan mungkin menalak suaminya. Karena setahu Irham, kabar dari Asiyah sepupu Diyan, Diyan sedang menggugatnya, dan perkiraan Irham dia sudah bercerai.


"Lancar usaha kamu nak?"


"Alhamdulillah bu, baru buka cabang lagi dua. Semoga baik kedepannya dimudahin."


"Amiin, ibu juga lagi enggak tega sama Diyan, dia malah mau buka butik lagi, kamu tahu kan. Pasca butiknya itu dijual, hati ibu mana yang melihat Diyan rela menjualnya demi jauh dari kehidupan orang yang ia sayang begitu toxic, ditambah toko roti serahin untuk madunya lanjutkan usaha. Ah ibu, cuma mau berdoa aja. Semoga Diyan sepulih dari sembuhnya bahagia selalu."


"Amiin bu, yang sabar suport doa Diyan terus ya bu!" Irham dengan sopan, membuat bu Nira tertawa dengan pembicaraan lain.


Terlihat juga Diyan kala itu yang melihat dari jendela, merasa tersentuh. Irham selalu akrab pada ibunya dan membuat orang tertawa dengan tingkah konyol, akan tetapi wibawanya membuat Diyan yakin, jika Irham mungkin cocok dan berjodoh dengan sepupunya itu bernama Asiyah.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2