
Diyan yang tadinya akan datang bersama Via, entah mengapa malah bersama Irham, yang awalnya bertiga nampak sekali Via, meminta diberhentikan guna ingin ke bengkel sebentar dan akan menyusul.
"Vi, kamu kenapa turun sih?"
"Mbak, aku sama Asiyah mau ada urusan dulu, ini menyangkut masa depan. Please, om Irham tolong antar sesuai maps ya. Please!" pinta Via.
"Eh, kamu ini Vi, kamu pikir aku supir online apa. Tapi untuk kali ini jangan nakal ya, jangan ngadi ngadi, jangan bilang kalian punya siasat."
"Enggak kok, beneran deh. Assalamualaikum" ujar Via.
"Walaikumsalam."
Kembali Irham menyetir, setelah Via turun. Nampak sekali Diyan canggung kali ini, dimana Irham menyetir untuk kedua kalinya menemani Diyan, tempo lalu sih mungkin Diyan antar Irham, tapi kali ini entah kenapa rasanya canggung.
"Kita pulang aja kali ya Ir."
__ADS_1
"Kenapa, karena aku ikut?"
"Bukan gitu, tapi rasanya gak enak aja. Apa pikiran orang nanti soal ..?"
"Diyan, aku tahu. Tapi peta nya udah sampai di gang yang di tunjuk nih, kamu yakin enggak jadi datang. Bukannya kamu mau memastikan soal kunci toko roti itu, kenapa selalu balik di tolak."
"Iya juga sih, bismillah deh. Entah kenapa aku gugup, aku takut pikiran Mira, pasti was was atau berfikir bukan bukan karena aku ganggu suaminya lagi, itu yang aku takuti aja sih Ir."
"Contohnya karena kita dulu se friendly begitu, tapi karena kamu nikah sama Arka, aku mundur dan kita jadi canggung berteman kan."
"Kita udah sampai nih, kayaknya itu rumahnya deh. Ta-tapi kok agak rame ya ..?" ujar Irham.
"Aku takut ada sesuatu deh Ir."
"Diyan .. nama kamu sekarang udah berubah jadi Diyan! bukan lagi istri pertama yang menyerahkan suami kamu demi mertua kamu itu kan, bukankah maaf dari penyakit kamu dahulu, kamu ingin kembali damai, demi sebuah pengakuan dan kamu ingin lakukan demi perasaan kamu seperti apa."
__ADS_1
"Ir, tolong jangan ungkit soal itu."
"Aku tahu, karena kenyataannya Irham tidak tahu, kamu memilih Mira karena mertuamu itu kan, jadi ayo kita turun, setelah tahu kejelasan kenapa mereka menolak, aku rasa kamu enggak perlu lagi datang kemari, cukup menyakiti hati kamu Diyan. Atau kamu tidak perlu rubah nama kamu lagi, jika kamu masih seperti ini. Tetap saja menjadi pendirian nama Asna yang selalu mau jadi istri yang bisa di madu."
Deg.
Perdebatan itu pun kembali, sehingga Diyan meminta maaf dan meraih tasnya.
"Maaf aku sudah buat kamu sedih dengan kata kata ku!" ujar Irham.
"Iya enggak apa apa, aku yang salah, aku paham karena kamu begitu peduli tentang aku dari dulu. Irham ayo kita turun!" senyum Diyan.
Saat pintu mobil terbuka, tidak tahu kenapa terlihat seorang ibu ibu menarik ibu Viola, dimana Diyan kali ini terkejut bukan main, tidak ada hal yang begitu sakit ketika mantan mertuanya di jambak, dan di kerumuni bagai maling yang di amuk masa.
"Assalamualaikum, ada apa ini ya ibu ibu, maaf kedatangan saya tidak tepat." ujar Diyan, dimana semua mata melihat Diyan dari ujung hijab kepala sampai ujung kaki yang masih tertutup syari.
__ADS_1
TBC.