
Sementara di Alam bawah sadar Arka, dia nampak berada dalam dejavu lagi lagi .. dejavu kehidupan masa lalu. Dimana ia berada dalam dua rumah putih, dengan jubah putih menatap dua bahu wanita yang nampak Arka sendiri memanggilnya, akan tetapi saat ia memanggil Diyan, dimana wajahnya yang menoleh adalah sosok Mira.
'Diyan .. kenapa jadi Mira?' lirih Arka, dalam bawah alam sadarnya yang kebingungan entah ia berada dimana.
Ah, tidak enak sekali hidup dengan dua istri yang berbeda rumah. Rasanya hati dihantui rasa bersalah serta keresahan yang ada.
Padahal, sama-sama sudah sah, tetapi hatinya tak tenang dan berasa selingkuh dari istri pertama. Itulah yang kini Arka rasakan, rasanya jika ingin mengulang waktu, harusnya Arka tegas tak menuruti Diyan untuk menikah lagi.
Entah mengapa nasibnya menjadi seperti ini. Ia tidak senang dan justru gelisah, memikirkan dua wanita agar tidak ingin tersakiti sekaligus. Bahkan menatap bahu wanita yang ia kenal, kini Arka tahu dirinya telah mempunyai istri dua, dimana bayang bayang kesalahannya nampak di perlihatkan oleh sebuah cermin yang tiba tiba ada di hadapannya.
Dosakah dirinya yang memikirkan keadaan Diyan di saat sedang bersama Mira? Ah, rasanya ingin dibelah dua saja raganya agar bisa mendampingi mereka masing-masing tanpa harus berpindah satu posisi menuju posisi lainnya.
__ADS_1
Arka pun menghela napas, lalu fokus memandang bahu Mira.
Tangannya sudah menopang di bahu Mira agar wanita itu, tak lagi mencecar seolah tak ingin terbuka padanya.
Wanita itu tidak tahu akan tatapannya saat ini, tetapi sekuat apa pun Mira memaksa posisinya memang tak bisa berubah, sebab di hatinya hanya Diyan sebagai pemenang hati Arka selamanya.
Arka merasa bersalah karena mengabaikan wanita bernama Mira. “Dik, maafin Abang. Abang nggak mau kamu cemburu.”
Ia kembali berkata dan menelisik manik mata Mira yang sendu. Tanpa diberitahu pasti Mira sudah paham apa yang sedang dirinya pikirkan.
Sejujurnya tidak ingin menyakiti, tetapi untuk bercerita tentang istrinya bernama Diyan, ia enggan rasanya. Apalagi untuk sekadar berbagi kisah, sebab hati wanita sangat sensitif dan mudah sekali rapuh.
__ADS_1
“Maafkan Abang, Dik. Abang memang salah, tetapi Abang tak membedakan kamu dengan Diyan. Kalian setara posisinya, tetapi di satu sisi Abang belum terbiasa denganmu dan merasa enggan.”
"Tapi aku adalah hidup abang kini dan nanti." balas Mira, membuat tatapan itu menyedihkan.
'Ya rabb, satu sisi aku salah. Harusnya aku lebih bisa cari tahu, kenapa Diyan begitu memaksa menjodohkan semua ini. Bahkan rasanya aku tidak sanggup menduakan hati Diyan.' batin Arka, merasa sakit ketika kini merasa menyakiti dua perempuan.
Dimana bahu wanita yang ia kenali adalah Diyan, nampak berjalan pergi tanpa menoleh kebelakang ke arah Arka. Namun sosok wanita bahu Mira menoleh, senyum hampiri Arka yang mematung saat itu juga.
"Bang Arka, cintai Mira dengan tulus. Mira sanggup berada dalam keadaan apapun, salah Mira yang terlalu mencintai amat dalam pada abang, yang Mira sudah tahu Abang sudah mempunyai hati tertancap untuk wanita solehah seperti mbak Diyan. Tapi abang harus yakin, dan harus pahami. Istri abang adalah Amira."
Arka nampak terkejut, ia mengucapkan lafadz asma tuhan. Di mana keadaan kini dirinya terbaring, pada dinding dinding celah berwarna putih dan bau menyengat obat obatan. Kali ini Arka menggerakan bola matanya, dimana ia menatap seseorang sedang menunggunya.
__ADS_1
"Di mana ini?" lirih Arkan dengan suara terpatah patah.
TBC.