Penyesalan Sang Madu

Penyesalan Sang Madu
Ulah Sepupunya


__ADS_3

Selepas Amel pergi ke kamar, Asiyah menceritakan semuanya. Di mana hati Diyan amat sakit, keadaan benar benar tidak seberuntung Diyan saat ini. Apalagi dengan kondisi bayi mungil itu dengan keadaan sulit. Diyan merasa teriris mendengarnya.


"Stop Asiyah, mbak gak mau dengar lagi. Kasihan sekali kamu sayang?" Diyan mengelus pipi bayi itu.


Diyan terlihat senyum, menciumi jemari bayi Ciya, dimana Vina di buat syok kala Diyan benar benar sangat welcome, apalagi besok berniat menjenguk keadaan madunya itu dengan suaminya dahulu.


"Mbak Diyan yakin, bakal jenguk. Secara mereka itu pernah sakiti mbak loh."


"Vina, begini saja. Biar rencana kita lebih indah, mbak yakin rencana di atas akan indah. Lagi pula Mira itu udah mbak anggap Adik, sama kaya kamu ini. Jadi mbak yakin, jika mas Arka bisa bimbing Mira jadi istri yang sempurna. Enggak kaya mbak yang pesakitan dan gak bisa membuat suami bahagia." jelasnya.


"Tapi keadaan rumah mereka juga jauh drastis loh mbak, Asiyah sampe ngenes liatnya. Mbak yakin ga bakal jadi masalah kalau mbak jenguk mereka."


"Mbak akan urus semuanya Asiyah, apa yang terjadi sama mereka bukan keinginan mereka. Hanya saja, mbak perlu bicara soal toko pada Mira, kenapa? apa toko kue bangkrut setelah di kelola, sampai sampai kesulitan seperti ini."


Vina dan Asiyah hanya menggeleng kepala, jadi mbak Diyan memberikan satu usaha agar di kelola sang madu demi kelangsungan hidupnya. Aneh jerih payah mbak Diyan dari nol, begitu saja di berikan pada madu dan mantan suaminya itu. Aku rasa satu dari ribuan seperti mbak yang legowo ini jarang ada. Gerutu Vina kala itu sebal bercampur.

__ADS_1


'Terbuat dari apa hati mbak Diyan ini, aku harus kabari om Irham.' batin Vina, ia berusaha mendekatkan om Irham yang masih saja jomblo, dimana cerminan sosok Diyan ini terbilang langka. Vina memastikan agar om Irham mengantar Diyan, untuk menemui madunya itu, tanpa izin pada Asiyah dan mbak Diyan, seolah surprise.


PAGI HARINYA :


Diyan sudah bersiap rapih, dimana suara tangisan bayi tidak diam sedari tadi. Amel yang sudah berangkat di temani Asiyah, ia segera merapihkan syari, dimana mengambil tas dan mencoba menggendong Ciya agar terlihat manis dan tenang di gendongnya.


"Diyan kamu yakin mau antar Ciya kamu sendiri?"


"Bu, kan ibu yang bilang. Diyan ga boleh dendam, dan harus berdamai dengan kenyataan. Jika Diyan sempurna, mungkin Diyan tidak akan mengambil jalan seperti ini bu. Lagi pula, Diyan enggak yakin hidup Diyan bisa berumah tangga. Meski keadaan sakit Diyan pulih, ibu kan tahu. Sejatinya Diyan banyak kekurangan."


"Ibu harap kamu baik baik ya Diyan. Ibu ga mau kamu kecapean, ibu ga mau kamu sedih terus menerus. Keluasan hati kamu, semoga kamu dapat pendamping yang mengerti kamu Diyan. Agar ibu pergi kamu ga sepi .."


Ciya pun di gendong, dimana sedang meminum susu botol, Diyan segera mencoba telepon Asiyah sudah sampai mana.


- Kamu udah sampai mana Asiyah?

__ADS_1


...


- Apa, kamu ga bisa anter. Terus gimana alamatnya, masa mbak yang nyetir bawa ini bayi. Kamu harus tanggung jawab loh, kamu loh yang mulai bawa bayi ini malam malam!


...


- Apa .. Asiyah, kamu jangan bercanda .. masa ..?!


...


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Terlihat Irham datang, dengan setelan kemeja biru navy, di padu celana bahan berwarna cream. Hal itu membuat tatapan bu Nira menatap putrinya.

__ADS_1


"Diyan .. kenapa Irham ..?" saat itupun Diyan menggeleng sebab ini pasti ulah sepupunya.


TBC.


__ADS_2