
Meninggalkan kisah Arka yang baru sadar, di temani Mira, dan merelakan bayinya di bawa oleh Asiyah meski perasaan khawatir dan keadaan mendesak, membuat Mira mengizinkan bayinya di bawa saat itu juga.
Ada Asiyah yang pulang, dimana saat ini di antar oleh Vina, dimana bayi perempuan itu membuat Asiyah redup tenang. Jika ia mengajaknya pulang, dimana sudah pasti mbak Diyan akan senang.
"Serius kamu mau bawa tuh bayi ke rumah mbak kamu?"
"Serius, kasian. Lihat ga sih tadi Mira, keliatan sulit. Aneh ga sih, kalau peran setiap istri membawa rejekinya masing masing berbeda, atau dasarnya emang ujian terberat mereka kali ya. Secara dulu juga mbak Diyan temani Paman Arka itu dari nol."
"Jangan disamain lah As, kamu harus tahu. Kalau itu bisa jadi sentilan kaya semacam karma. Mbak kamu itu kan dulunya udah punya usaha kecil kecilan sejak kuliah kan. Udah mandiri, yang aku ga habis pikir dia di rekrut sama Diyan, terus rebut suaminya. Jadi penasaran pengen lihat kehidupannya yang tersulitnya, bagus ada kamu itu. Dompetnya aja puluhan ribu, miris ga sih."
"Vin, kamu gak boleh dendam sama drama orangtua kamu, yang persis sama kaya mbak ku. Tapi kamu janji ya jangan buat aneh aneh, aku ngerasa kasian sama Mira juga soalnya. Apa yang aku dengar belum tentu real, karena aku samar tahu kalau Mira bekas karyawan mbak Diyan aja. Dah gtu syok pas di penang, mbak ku bilang mau nikahi suaminya sama Mira, karyawan bagian design di butiknya dulu."
"Itu namanya udah pasti, dia pelakor. Apapun itu, pelakor udah ga bisa dimaafin. Ketambah hasrat cowo kalau istrinya penyakitan emang ga pandang bulu, dia nikah aja gitu tanpa mikirin perasaan istri pertamanya. Lihat sekarang nasibnya 90 derajat beda sama istri pertama kan?"
__ADS_1
Asiyah terdiam, benar benar bingung bicara sama Vina. Asiyah berharap, Vina jangan melakukan hal aneh aneh pada rumah tangga mantan suami mbak Diyan, memang motifnya itu adalah dendam pada semua pelakor yang telah mencuri sosok ayahnya, Vina merasa kehidupan anak dari mbak Diyan, akan sama sepertinya, akan dendam mencari jodoh pria yang beristri.
"Alhamdulillah udah sampe, ingat ya Vina. Jangan lakuin hal aneh, kalau kamu dendam apa bedanya kamu sama perempuan perebut di luaran sana."
"Ya, Asiyah bawel. Yuks aku bantu, aku masuk ke dalam. Kali aja mbak kamu belum tidur, sekalian mau singgah aja. Udah lama juga."
Asiyah mengangguk, dimana Vina terlihat sebal. Ia ingin melihat reaksi mbak Diyan, kala sepupunya membawa anak dari mantan suaminya itu, yang sudah pasti di pikiran Vina akan menjadi masalah batin baru.
Entah ada angin apa, di saat Diyan dan bu Nira kini sedang makan buah bersama, dengan Amel. Mereka dikejutkan dengan seseorang yang menarik perhatian Diyan.
Walaikumsalam.
"Eh, ada Vina. Masuk Vina, eh tunggu .. Asiyah kamu bawa anak siapa ini?"
__ADS_1
"Eh, mbak. Bu, bener deh. Asiyah kebetulan aja ini, sekaligus bantu doang. Tadi sempet ketemu pengacara mbak itu, kasih akte yang harusnya di kasihin paman Arka. Tapi .." terdiam Asiyah.
"Tapi kenapa?"
"Tapi disana ada trouble, kalau mantan mbak itu sakit pingsan, ditambah kritis deh keadaan mereka." sambar Vina, yang meminta maaf memotong pembicaraan.
Deg
"Apa ..? Eum, Amel sayang. Kamu kalau sudah makan ayo gosok gigi dan segera tidur ya. Besok kesekolah pagi."
"Iya bunda, padahal Amel lucu liat dede bayi itu tidur. Itu bayi siapa ya bunda ..?" penasaran.
"Amel sayang, ayo nanti kita lanjut besok ya. Nenek temani ya!" tambah Nira mengajak cucunya.
__ADS_1
"Iya nek."
TBC.