Penyesalan Sang Madu

Penyesalan Sang Madu
Bertemu Mantannya Suami


__ADS_3

"Bu, tolong buka pintunya bu!" teriak Mira.


"Jeng Viola cepat buka pintunya, tolong ya bayar hutangmu pada kami!" teriak empat ibu ibu.


Arka akhirnya memaksa pintu terbuka, sehingga Ciya yang di sofa menangis. Tak lama ibu ibu pun datang masuk menghakimi mertua Mira.


"Tunggu ibu ibu, silahkan duduk. Saya akan bertanggung jawab jika ibu saya salah." ujar Arka, dimana ia melihat para ibu ibu marah.


"Kami hanya mau uang kami perorang 25 juta dikembalikan, sekarang juga!"


Deg.


Arka terdiam, ia meminta Mira membawa Ciya keluar, dan mencari angin ketika Arka mengurus soal ibunya yang kini dihakimi.


"Dik, kamu bawa Ciya satu jam saja. Abang akan selesaikan masalah ibu!"


"Bang .. tapi...?"


"Baiklah bang, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


Hingga Mira menggendong Ciya dan membawa sebotol susu besar, tak lama di jalan Mira kaget satu orang turun dari mobil, di depan gang jarak lima kilo, dimana mbak Diyan senyum menghampirinya.


"Mir .. ikut aku sekarang boleh!" ujar Diyan membuat Mira menoleh ke arah lain, agar bang Arka tak melihatnya.


Beberapa puluh menit kemudian. Dalam gendongan pulas Ciya saat itu juga, membuat mata Mira tak karuan.


Sembari menunggu, Diyan sedikit berbincang padanya sebagai permulaan, mengkorek informasi yang belum dirinya ketahui kenapa mbak Diyan tiba tiba mencari alamatnya.


“Bagaimana keadaan ibu Vio, Mira?” tanya Diyan padanya.


“Alhamdulillah baik, Mba Diyan.”


Mira berbicara apa adanya namun tak mau memberitahu mengapa ia berada di luar. Jujur, dirinya sedikit tegang karena tak biasa bertemu mbak Diyan, lalu mengajak makan di luar seperti ini.


Makanan pun datang, Diyan mempersilakan Mira untuk menikmati makanannya terlebih dahulu. Ia tidak ingin membuat Mira shock akibat perkataannya nanti.


Setelah saling berbicara, kini berubah menjadi tatapan yang serius. “Mir, apa kamu tidak mau katakan yang sebenarnya .. anggap aku kakakmu?”


Deg.


'Bagaimana bisa kakak?' batin Mira serba salah.

__ADS_1


Selama ini, ia mengetahui jika Mira masih sama seperti dulu dan belum ada yang mampu membuat hati Diyan bertanya, hanya saja alangkah baiknya jika Diyan memastikan kembali sebelum memberitahu keinginannya soal toko yang ia serahkan pada ibu mertuanya, namun nampak sekali jika Mira pulang mbak Diyan akan bertemu Arka dan mertuanya yang sedang membuat ulah.


Mira yang mendengar meneguk saliva kasar. Entah mengapa Mba Diyan menanyakan hal yang lebih privasi. Namun, melihat tatapannya tersirat rasa ingin tahu yang begitu besar.


“Kenapa Mba Diyan bertanya seperti itu, Mira benar benar menyerahkan kunci roti pada keponakan mbak karena merasa Mira tidak pantas." jelasnya.


Sekarang Diyan yang terdiam memikirkan perkataan yang tepat untuk ia lontarkan, tetapi sekuat tenaga Diyan memberanikan diri, mengambil lengan Mira dan menggenggamnya erat.


“Saya ... saya ingin kamu mengelola untuk Ciya, kamu pantas untuk menerimanya Mira."


Mulut Mira ternganga. Hatinya berdetak lebih kencang setelah mendengar perkataan yang membuat tubuhnya hampir limbung.


Kini, bibirnya terasa kaku ditambah cengkeraman Mba Diyan yang menggenggam lengannya begitu kuat. Tak habis pikir dengan pikirannya setelah menikahi suaminya, lalu usaha salah satu yang ia rintis kini diminta untuk Mira lanjutkan, lalu jika ia kembali mengambilnya apa tidak akan runyam hubungannya dengan bang Arka kelak.


"Kenapa diam, apa kita ke rumah mu saja. Mbak Diyan ingin bicara apa yang kamu takutkan Mira, percayalah hanya silaturahmi. Mbak tidak akan mengusik rumah tanggamu, tapi hanya ingin toko itu untuk Ciya, adanya Ciya dan kamu membawa kebahagiaan. Dan hadiah untuk masa depan anak anak."


Mira benar benar tersentuh, dimana ia juga kebingungan apakah ia harus memberitahu alamat kediaman mertuanya yang baru, pulang bersamanya saat ini.


"Tapi tidak bisa sekarang mbak." lirih Mira.


"Kenapa ...?" tanya Diyan kaget, masih menatap bayi mungil dipangkuan Mira.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2