
Esok harinya, Mira nampak terlihat lesu ketika rutinitas ia gagal melamar kerja, dimana ia tidak rela meninggalkan Ciya. Maka Mira mencoba bersabar, mencari pekerjaan freelance yang bisa ia kerjakan dari rumah dan bisa membawa Ciya meski hanya delapan jam saja, sang atasan tidak mempermasalahkan. Hingga akhir ini ia membawa kue untuk mengganjal perutnya.
Tok.
Tok.
Mira menggendong Ciya, dikejutkan dengan senyuman bang Arka yang sudah pulang.
"Assalamualaikum dik."
"Bang Arka, lihat sayang. Lihat Ayah udah pulang."
"Kok ga di jawab sambutannya?"
"Walaikumsalam ayah, maaf bang Mira habisnya saking senang abang udah pulang."
Mira pun membukakan sepatu Arka, lalu mengambil minum untuk suaminya yang baru pulang, dimana masih menggendong Ciya saat itu juga. Dan rasa lapar dari kemarin Mira tahan untuk berpuasa, ia minum air hangat terus menerus sampai suaminya pulang.
"Kamu sakit dik, pucat sekali?"
__ADS_1
"Enggak bang, mungkin karena Mira shaum. Mira lagi ada niatan, semoga kehidupan kita semakin lebih baik, dan abang di mudahin rezekinya."
"Amiin. Masyallah dik, terimakasih ya. Dan maafin abang, abang tidak jadi ambil kerjaan disana. Sebab abang harus tinggal di sana selama kontrak dua tahun, abang gak sanggup tinggalin kamu dan Ciya."
Deg.
Hati Mira benar benar tertusuk, tapi ini sudah ujian bagi pernikahannya, dirinya benar benar sedang di uji dalam segi ekonomi. Sementara melihat mbak Diyan dahulu, dia berkecukupan dengan segala materi kehidupan bang Arka dulu juga benar benar bisa membelikan sebuah rumah dan dikatakan tabungannya banyak, hanya saja mbak Diyan di uji dengan satu penyakit yang tak bisa punya anak.
Hingga sampailah Mira hadir, dimana mbak Diyan mengalah dan mengugat bang Arka, karena suatu janjinya pada Mira, untuk menyerah dan memberikan kebahagiaan suaminya untuk Mira selamanya, akan tetapi setelah itu perusahaan bang Arka gulung tikar, semua aset rumah hadiah pernikahan pun terjual demi menutupi semua kerugian itu, hingga kini Mira merasa sesak, apakah ini tamparan seorang madu yang tidak tahu diri, sepertinya.
"Dik, kenapa kok bengong?"
"Gak apa apa dik, abang juga dapat uang transport balik, selama disana. Tapi hanya segini, cukup cukupin ya. Kamu bisa belanja kebutuhan Ciya dan dapur. Abang besok bakal buka cucian loundy an lagi. Sampai abang dapat kerjaan yang lebih baik."
"Alhamdulillah, iya bang. Mira mengerti, makasih ya bang. Kalau begitu uangnya Mira gunain buat beli pampers Ciya, apalagi beras, minyak juga habis."
"Ya udah kamu ke warung gih, biar Ciya sama abang."
"Eh dik, ibu kemana kok gak keliatan?"
__ADS_1
"Ibu .. sejak kemarin Mira ga lihat bang, apa ibu masih tidur sepagi ini. Nanti Mira coba ketuk pintu kamar ibu ya bang?"
"Ga usah dik, biar abang aja. Kamu ke warung gih, beli apa aja. Abang udah kangen masakan kamu."
"Kalau gitu Mira pamit sebentar ya bang, Ciya sayang. Sama ayah dulu ya sayang."
Mira benar benar bersyukur kali ini suaminya sudah kembali, namun Mira masih tak habis pikir emang ada ya, interview ke luar kota hanya dua hari, dapat uang pergantian transport lima ratus ribu, dimana bang Arka sendiri nampak menolak pekerjaan itu.
'Sebenarnya perusahaan apa ya bang Arka temui ya?' batin Mira sedikit kebingungan menuju warung dengan rasa penasarannya.
Hingga dimana Mira setelah selesai saat berbelanja dari warung, ia bertemu keramaian ibu ibu, dimana saat itu terlihat Viola, ibu mertuanya berjalan cepat menuju ke arahnya, karena gang rumah itu hanya satu arah.
"Ibu .."
Viola nampak risih dan pergi begitu saja, setelah mendorong Mira ke arah ibu ibu.
Brugh..
"Aw ..sakit. Sssst!" lirih Mira yang entah kenapa mertuanya lari gelagat aneh.
__ADS_1
TBC.