
Mila merasa hidupnya benar benar beban, ia benar benar tak percaya sang Tuhan mengambil Ciya, dan membuat tamparan lagi adalah usahanya dirintis oleh Via, dan bang Arka selalu disibukan dengan mereka disaat Mira depresi.
Setelah mengatakan kalimat sederhana yang membuat para pengunjung betah, Mira pun pergi meninggalkan. Hatinya menahan sesak, berusaha kuat di hadapan mereka.
Di dalam mobil, ia tak kuasa lagi menahan. Air matanya tumpah, setumpah-tumpah nya. Tidak ada lagi yang mencegah dan Mira bisa mengeluarkan semua bebannya di sini.
“Ya Allah, kuatkan diriku,” lirih Mira. Ia benar tak sanggup lagi menopang pertanyaan mereka yang selalu mencolos hati.
Setelah hatinya mereda, Mira melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ia pun memastikan jika sudah tidak ada lagi air mata dan mata sembab.
Satu jam perjalanan, Mira sudah berada di parkiran rumah sakit. Ia turun dengan membawa buah tangan yang sebelumnya mampir di supermarket tadi. Ia pun memasuki koridor rumah sakit dan berhenti di meja resepsionis untuk menanyakan kamar ibunya Mira dirawat.
“Ibu naik ke lantai dua, kamarnya ada di sebelah kanan paling pertama, ya,”
Mira mengangguk mengerti. Ia pun menaiki lift seperti yang dikatakan suster tadi, lalu menekan tombol angka dua dan tak ada waktu lima menit pintu lift pun sudah terbuka.
__ADS_1
Sesuai arahan, Mira memasuki ruangan yang pertama tepat di sebelah kanan dirinya. Ia berjalan masuk dan belum mengetuk pintu, dan Via sudah lebih dulu membukanya.
“Mba Mira datang kemari?”
"Boleh aku masuk Vi?"
"Ayo mbak masuk aja!"
***
Sementara di tempat lain, seorang pria tengah melamun dan tak fokus dalam memimpin rapat. Sudah setengah jam yang lalu sejak presentasi, pria itu hanya termangu dengan pikirannya yang melalang buana.
“Maaf, Pak Arka apa rapatnya bisa dilanjut?” Intruksi dari salah satu karyawan yang tak lain sekretarisnya sendiri.
Tidak ada respon dan salah satu temannya pun menyenggol lengannya dan membuat Arka terjatuh kaget.
__ADS_1
Untungnya rapat ini hanya dilakukan dengan para direksi kantor bukan dengan para investor atau kolega bisnis lainnya yang mungkin akan memalukan. Sungguh, keterlaluan pemimpin satu ini.
Temannya memberi kode jika bukan waktu yang tepat untuk melamun. Saat itu pula, Arka menyadari kesalahannya. Ia menghela napas dan memandang karyawannya satu persatu.
“Maaf, agaknya saya lagi kurang sehat. Kita bisa lanjutkan rapat nanti,” kata Arka singkat, lalu bangkit dan meninggalkan ruangan tersebut.
Ia segera berjalan ke ruangannya dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Sungguh, pikirannya tak bisa diajak bekerjasama untuk hari ini. Entah apa yang terjadi, sejak semalam sudah merasa tak enak karena mimpi yang datang kepadanya. Terlebih keterlibatan dirinya dengan Via, membuat hati Arka merasa bersalah, kecerdasan Via mengelola toko kue menjadi besar dan merubah bisnis franchise. Membuat Arka naik dalam beberapa bulan terkait mengelola bisnis putri kecilnya yang telah di surga, namun merasa bersalah dihantui ketika sukses adalah sedikit melupakan Mira.
Bagaimana tidak, sejak permintaan Mira untuk dirinya menikah lagi, menjadi bumerang bagi Arka. Ia tidak paham lagi dan seperti kehilangan sosok Mira mirip dengan Diyan dahulu yang ia kenal. Apalagi ia masih menyembunyikan dirinya dengan Via, dan belum berterus terang apa yang terjadi saat Mira depresi berat.
Bahkan kekecewaan Mira sudah berada di puncaknya setelah kemarin mengetahui tes sesungguhnya yang membuat Mira terpuruk, padahal sebelumnya para dokter selalu mengatakan baik-baik saja dan tidak mempersalahkan kandungannya, hanya saja setelah rahim di angkat pasca tertabrak mobil hal ini membuat Mira tidak sanggup, dan menyetujui permintaan bu mertuanya untuk menikahkan Arka pada Via yang ibu mertuanya kenal.
“Argh.” Arka teriak frustasi menjambak rambutnya sendiri. Hidupnya begitu rumit dan pelik.
Seolah Mira sudah kehilangan kesabaran dan permintaannya mengenai salat Istikharah cukup menakjubkan bagi Arka. Ia tidak mengerti dengan jalan kehidupan ke depannya nanti, jika istrinya meminta dirinya menikah lagi. Bahkan ini adalah pernikahan untuk ketiga kalinya.
__ADS_1
'Kenapa aku sulit mendapat keturunan, dan kenapa setiap pernikahan mempunya cerita pedih Ya Rabb.' batin Arka memohon berdoa.
TBC.