Penyesalan Sang Madu

Penyesalan Sang Madu
Anter Akta Cerai


__ADS_3

"Mbak punya bpjs gak?"


Asiyah mendekat, kala Mira melihat bayinya tertidur di pangkuan keponakan Diyan. Apakah baunya Diyam membuat Ciya tenang, hingga menatap lirik ke arah suster dan uang recehan logam, serta uang berwarna biru dan hijau terlihat di loket.


"Ga ada bpjs, mbak Mira belum sempat urus sebab .."


"Ah, kalau begitu pakai kartu atm Asiyah mbak. Asiyah ikhlas kok, yang utama kesehatan dulu."


"Ta- tapi .. Asiyah."


"Ga ada tapi tapian mbak, ini lebih penting."


Hingga Mira nampak malu sekali, dimana benar benar keluarga Asna sangat baik padanya, tapi lupa dengan pertanyaan ada apa Asiyah bisa sampai ke gubuknya semalam ini, tapi jika di pikir Asiyah tidak datang dengan temannya. Entah akan bernasib apa pada suaminya Arka.

__ADS_1


Mereka pun menunggu, dimana dokter keluar dan menjawab kerisauan keluarga pasien.


"Nyonya Arka, pasien boleh pulang besok. Hanya saja, perlu observasi lebih lanjut, hasil rontgen akan keluar besok. Dimana saat ini, hanya efek kelelahan dan sebuah cidera ringan pada kepala kanan. Apa sebelumnya pak Arka pernah jatuh?"


"Bang Arka jatuh, sepertinya enggak dok."


"Kalau begitu, pasien akan kami pindahkan. Jika sudah membaik, dan hasilnya cukup bagus di perbolehkan pulang. Kalau begitu, saya permisi. Pasien akan sadar dalam beberapa jam, mohon tunggu saja ketika obat kini masih bereaksi."


"Terimakasih dokter."


Tapi melihat kondisi saat ini, kenapa melihat madunya mbak Diyan, terlihat seperti kesulitan.


"Mbak, kami pulang dulu ya. Apa Asiyah boleh bantu, karena bayi ini ga boleh terus di rumah sakit. Apa susunya biar Asiyah rawat sampai kondisi mbak Mira dan suami mbak kembali ke rumah."

__ADS_1


"Asiyah, saya udah repotin kamu. Jangan buat saya merasa bersalah dan gimana saya harus kembalikan semuanya sebab .."


"Mbak kita kan keluarga, jadi jangan sungkan. Namannya siapa tadi .. Ci-Ciya ini anteng aja kok."


Mira nampak malu, sangat tidak benar jika kondisi seperti ini, ia harus lagi lagi menyusahkan orang lain. Andai waktu bisa di putar, Mira mungkin tidak akan membuat kesalahan melepas pekerjaannya dan kariernya dahulu, tapi astagfirullah... Pujian mengingat namanya, agar Mira tidak lagi berkata menyesal.


"Sekali lagi makasih ya Asiyah, tapi kamu kok bisa datang ke rumah gubuk mbak."


"Jangan begitu mbak, gimanapun rumah semewah apapun, tinggal dengan orang yang kita cintai akan seperti istana bukan. Lagi pula, kebetulan Asiyah bawa titipan, dari pengacara pak Ehsan, nitip akte cerai buat paman Arka. Karena mbak Diyan, enggak mungkin kasihin. Dimana saat itu pengacara hubungi paman Arka, enggak ada jawaban."


"Akte cerai, jadi ...?" terdiam Mira, nampak lesu atas apa yang ia pikirkan saat ini pada suaminya.


Sementara di Alam bawah sadar Arka, dia nampak berada dalam dejavu lagi lagi .. dejavu kehidupan masa lalu. Dimana ia berada dalam dua rumah putih, dengan jubah putih menatap dua bahu wanita yang nampak Arka sendiri memanggilnya, akan tetapi saat ia memanggil Diyan, dimana wajahnya yang menoleh adalah sosok Mira.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2