Penyesalan Sang Madu

Penyesalan Sang Madu
Mimpi Buruk


__ADS_3

Arka dan ibu mertua telah kembali, kali ini terlihat sekali senyuman dan ramah bahagia yang Mira panjatkan. Sebab kembalinya ibu mertua membuat Mira senang.


"Bu, alhamdulillah ibu udah pulang."


"Cih, kamu pasti seneng kan kalau ibu enggak ada di rumah."


"Bu, udah dong. Mira nyapa dengan tulus juga. Oh ya Mir! abang sama ibu mau pergi lagi, pulang mau naro barang dulu. Kamu jaga baik baik sama Ciya di rumah ya."


"Iya bang."


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Se'perginya ibu mertua dan suaminya pergi, Mira mendapati satu berkas hutang piutang, dan kontrak kerjasama suaminya dengan pak Frans. Hal itu membuat Mira kaget bukan main.


Tak lama Ciya menangis, Mira segera melangkah menuju putri kecilnya, ia menyusui hingga beberapa saat, mata lelahnya kembali membuat Mira terlelap saat Ciya pun tertidur.

__ADS_1


Hingga dalam beberapa lamanya mata terpejam, tak terasa mata Mira berair. Entah mengapa sebuah mimpi yang membuat mata Mira ikut teriris sampai ia terbangun dan berteriak.


Arrggh ...


"Astagfirullah .." lirihnya, mencari minum dan menepuk da-daanya untuk lebih tenang.


Mira menatap cermin, dengan ilusi mimpi yang membuat Mira tak percaya, mimpi itu adalah :


“Ti-tidak, Dik. Abang hanya ingin mengajak Via, pulang dan ternyata sedang berbincang sama kamu. Jadi nggak enak untuk mengganggu,” kata Arka dengan napas yang naik turun.


Mira menghela napas. Ia rasa bukan itu masalahnya, tetapi ada sesuatu yang disembunyikan dan tidak sesuai dengan apa yang diucapkan.


“Aku, pergi dulu, Dik!”


Mira mengangguk, tidak ada yang salah dengan sikapnya. Ia pun mengizinkan Arka untuk pergi bersama Via. Akan tetapi sikap Arka berubah, ketika pamit tanpa Mira bahkan tidak mencium tangannya, atau mas Arka mengulurkan tangannya, atau ia lupa. Ah sakit sekali!!


“Mba, pamit dulu, ya. Titip salam sama Ciya bye ..., in syaa Allah nanti Via main ke sini lagi,” ucap Via ramah. Ia tidak ingin bermusuhan apalagi membedakan yang statusnya sama, di depan Mira saat ini.

__ADS_1


Namun, bergandengan di hadapan Mira merupakan masalah besar untuknya. Sungguh, Via merasa tak enak hati padanya.


Sementara Mira, merasakan tertusuk duri dalam rumah tangganya dari permintaan, atau sekedar petaka yang ia buat. Pikirannya kembali fokus, berharap semesta mau memaafkan sikapnya yang terombang ambing berubah.


'Ya rabb, tetapkan hatiku hanya ibadah. Aku tahu sulit berbagi suami, tapi aku tidak punya pilihan. Inikah semua jalan yang telah di atur.' lirih Mira membatin, seolah tak ingin melihat dibelakang tubuhnya yang sedikit lemas, kaku. Yang mungkin kala itu Via menoleh Mira.


Tetapi Mira fokus lurus tak terlihat lebih dulu, ingin bicara pada Arka tapi ia tak sanggup. Dan mungkinkah ini perasaan dahulu yang tersimpan oleh mbak Diyan, sejak ia merebut suaminya. Alih alih menjadi madu, tapi karena suami mbak Diyan adalah masa lalunya, Mira seolah ingin memiliki seutuhnya, dan kali ini ketakutan Mira adalah, ketika sampai waktunya tiba.


Bang Arka, tidak bisa menebus perusahaan yang harus ia jalankan, dan tebusan hutang ibu sehingga pak Frans meminta Menikahi suaminya dengan putrinya.


'Ah sakit sekali, ini pasti ketakutan dan pikiran buruk saja. Semua mimpi dan perasaan pikiran aneh itu, itu pasti tidak akan terjadi.' batin Mira bergumam.


Tok ..


Tok ..


Tak terasa, kali ini seseorang terlihat datang, entah siapa tamu yang datang mengetuk pintu. Mira pun bangkit, melihat Ciya masih tertidur pulas, ia melihat pampers nya. Masih saja kering, Mira pun memakai kerudung dan segera keluar. Memastikan apakah bang Arka sudah kembali lagi.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2