Penyesalan Sang Madu

Penyesalan Sang Madu
Suamiku Sakit


__ADS_3

Sejak semalam Arka terdiam, diam nya membuat Mira nampak merasa bersalah. Bahkan pagi ini, saat Ciya masih tertidur dalam pelukannya, masih mode menggendong, bang Arka nampak tidak menatap ke arahnya seperti biasanya.


"Bang, maafin Mira. Abang masih marah ya?"


Mira nampak meletakkan teh tawar hangat, lengkap dengan singkong rebus. Dimana ia melayani sarapan Arka, dengan menggendong sang bayi.


"Abang ga marah dik, lagi pula keadaan seperti apapun kamu jangan malu, dan jangan merasa tersaingi. Bagaimana pun Abang ingin bertemu, terkait gugatan Diyan di setujui, meski tanpa dia hadir."


Gleuk.


Mira nampak membeku dan terdiam, bagaimanapun ia baru tahu. Mira pikir mbak Diyan kembali, karena tahu ingin mencari keberadaan Arka dan kami semua, sungguh benar benar pikiran madu yang egois dan ketakutan jika kedatangan Diyan, akan membuat sikap bang Arka kembali acuh padanya.


"Maaf bang. Mira hanya malu akan keadaan ini semua."


"Kalau Tuhan saja tidak malu, kenapa kamu malu dik. Atau kamu merasa takut .. jika abang .. istighfar dik, jangan cemburu berlebih. Abang tidak akan melakukan kesalahan seperti dahulu, hanya saja memang diri abang yang salah, abang yang tidak adil. Abang begitu terbuai bahagia menunggumu saat hamil, melupakan Diyan yang sedang dalam operasi dan tidak sedikit pun abang memperhatikannya."


Benar, perkataan bang Arka ada benarnya. Lalu kenapa harus ia cemburu, namun meski aku yang pertama, tetap saja kisah manis Arka dan mbak Diyan begitu indah. Jika bukan karena kehamilan Mira, mungkin Mira tidak akan bisa mengambil kesempatan memiliki bang Arka yang selalu full ada disisinya.


Sruput.


"Ciya ga pernah anteng ya dik, apa enggak sebaiknya di taruh di kasur?"


"Ciya setiap pagi, hingga sampai dzuhur selalu seperti ini bang. Mangkannya setiap cucian kotor, piring dan lain lain. Mira ga sempat, kalau Ciya nangis terus. Apalagi Mira trauma, waktu Ciya jatuh di kursi roda saat itu."


"Maaf ya dik, gak apa kalau pekerjaan rumah berantakan jangan dijadikan beban, abang harus buka cucian motor, kamu jangan panik dan banyak sabar di rumah. Jagain Ciya jangan dibikin panik, doakan abang hari ini ramai."

__ADS_1


"Iya bang, makasih."


Arka pamit, dimana Mira nampak dikecup keningnya. Bahkan mengantar sampai pagar rumah, ketika tak terlihat Mira pun menutup pintu dan menguncinya. Dimana ia akan membereskan yang kecil kecil sambil menggendong.


Apalagi uang pinjaman ibu mertuanya, membuat Mira kepikiran dan semakin takut jika sang mertua mengungkit. Dimana Arka meminjam pada ibunya, sudah pasti akan datang kapan saja menagihnya.


Hal yang membuat Mira tenang hari ini adalah, menatap Ciya yang lelap dalam gendongannya terus menerus, dimana bang Arka membawanya ke dokter psikiater. Dimana Mira tidak boleh panikan, dan pasca melahirkan memang rentan emosi, maka Mira harus pandai mengontrol, dan tidak membuat beban berlebih. Jika seharian mendengar tangisan Ciya, maka Mira rasanya lelah dan tak sanggup, ingin ikut berteriak sekencang mungkin dari tangisan Ciya.


Maka dari itu, Mira menggendong Ciya, agar rasa kepanikan mendengar tangisan, tidak terjadi. Terkadang lepas kontrolnya, membuat Mira menyesal. Dan takut jika bang Arka atau orang lain melihatnya, yang kadang Mira pikir terasa aneh pada dirinya.


Mira nampak melihat berita, ia mencari berita tentang health. Dimana mencari seputar ibu pasca melahirkan, hal itu membuat Mira ingin banyak tahu, untuk bisa menjadi ibu yang baik bagi Ciya. Mira tidak ingin lepas kontrol lagi, jika ia pernah berteriak pada bayi mungilnya, di saat dirinya meninggalkan sebentar ke samping rumah, memetik daun sayuran. Apalagi melihat Ciya sudah jatuh di usia satu bulan, membuat rentan takut bayinya kenapa kenapa.


Jam pun semakin maju, membuat nampak sore terlihat. Dimana Ciya senyum seolah tahu, jika sang ayah sudah datang.


"Ciya, lihat ayah pulang." senyum Mira, di iringi bocah itu, ikut senyum meski belum bisa merangkak.


Walaikumsalam bang.


"Dik, abang masuk angin. Maaf, hari ini abang bawa rejeki sedikit."


"Gak apa apa bang, alhamdulillah. Terimakasih atas nafkahnya hari ini bang, semoga allah mudahkan abang lagi, untuk mencari rejeki buat keluarga. Mira ikhlas kok."


"Masyallah, makasih ya dik."


Arka sendiri nampak mengambil handuk, ia membersihkan diri. Dimana Mira, kali ini sedang menyiapkan teh untuk suaminya. Dan yang membuat Mira takjub, Ciya di saat sore dan kedatangan bang Arka, ia selalu tenang. Bisa di tinggal, dan tidak pernah rewel seperti pada pagi hari hingga siang hari.

__ADS_1


“Sudah enakan, Bang?” tanya Mira. Ia masih mengoleskan minyak kayu putih sambil memijat punggung suaminya dengan lembut.


“Enak, hangatnya terasa tapi pegalnya belum hilang, tadi siang abang sempat panas dingin.” ucap Arka. Tangannya menekan pelipisnya.


“Aku buatkan jahe hangat. Abang tunggu sebentar, kenapa atuh siang enggak pulang aja langsung.”


Mira menggeser tubuhnya, berniat pergi ke dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk suaminya.


“Jangan Mira! Kamu temani abang saja di sini. Siang tadi abang baru panglaris, masa tega abang bawa lima puluh ribu." tangan Arka mencengkeram erat tangan Mira.


Mira mengurungkan niatnya karena sang suami meminta untuk menemaninya. Arka mengerjapkan mata seperti menahan sakit. Mira tidak mengerti apa yang sebenarnya dirasakan suaminya.


“Bang, apa yang sakit?” tanya Mira penuh khawatir.


Bruk.


Arka yang sedang duduk bersila tiba-tiba ambruk. Tubuhnya tersungkur serta wajahnya mengenai kasur. Mira nampak menjerit. Kedua tangannya memegang lengan Arka dan berusaha mengangkatnya agar dapat mengubah posisi tubuhnya menjadi terlentang.


Mira memeriksa udara di sekitar hidungnya, masih ada tiupan napas. Lalu beralih ke dadanya, dan jantungnya masih berdenyut. Ia memiliki keyakinan Arka tidak sadarkan diri.


Mira nampak panik, namun belum keluar dari kamarnya untuk meminta bantuan kepada pasangan suami istri yang bertugas menjaga villa di sebrang gubuknya itu, sekaligus di sebrang itu adalah ART villa disana.


Selama Mira dan Arka menghabiskan waktu di tempat ini. Keluarga Mira telah tiada, yang lain tidak ada seorang pun yang ikut tinggal, apalagi ibu mertuanya hanya sesekali. Alasan mereka tidak ingin mengganggu pasangan yang sedang menikmati indahnya masa-masa awal pernikahan, apalagi rumahnya benar pengap dan sempit.


"Bang, abang bangun bang!" Mira nampak memberikan minyak kayu putih, berharap suaminya siuman.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2