
"Duh lama banget sih, dapet kamu embernya?"
"Udah bu, tapi warnanya ini."
"Baguslah, dapat berapa kamu pasti murah ya. Lima ribuan, biasa kalau lagi promo. Untung sepuluh ribu kan, sini sisanya!"
Astagfirullah, Mira nampak mencoba sabar.
"Bu maaf, tapi tadi harganya rata rata semua 45 ribu, itu pun Mira tambahin sisa uang beli kerupuk sarapan bang Arka, yang sisanya belasan ribu. Maaf Mira ga pegang uang lagi. Bahkan harusnya Mira beli pampers sachet."
"Alah, kamu mah ga bisa nawar Mira. ya udah sana pergi gih, ibu mau masak buat makan siang."
"Iya bu."
Tentunya sang menantu hanya bisa beranjak, dimana ibu mertuanya akan masak untuknya sendiri, andai Mira banyak uang mungkin keadaan akan berbalik, dimana saat ini hati Mira remuk terancam sakit hati yang tertahan.
Mira sendiri nampak tidak bisa melakukan hal bebas, ketika ia berada di rumah mertua. Andai ingin sekali Mira pulang ke rumah orangtuanya di kampung, atau mungkin Mira coba minta izin ke kampung, untuk melihat rumah lamanya. Yang mungkin bisa ia gunakan untuk tinggal, atau ia kontrakan saja kelak, tapi rumah lamanya itu kan sedikit reot terbilang gubuk dan memakan uang pastinya kala ia meminta pada bang Arka.
Begini kah hidup dengan mertua, dimana sang menantu sangat miskin dan tergolong tidak banyak membantu ekonomi di rumah mertuanya itu.
Di kamar Mira hanya minum saja, terakhir ia makan bersama dengan kerupuk dan kecap. Niat hati sisa kembalian bang Arka akan ia gunakan untuk membeli mie di warung untuk makan siang tapi .., kali ini Mira harus menahan lapar mungkin sampai malam, sampai bang Arka pulang.
__ADS_1
Eaaaak ...
'Ciya sayang jangan nangis ya nak, cepat besar! Maafin ibu yang ga bisa berikan kamu kehidupan yang layak.' batin Mira, yang mencoba tenang, dimana dengan keadaan tenang ia tidak akan panik.
Harusnya sang ibu masih ada, mendiang ibu Mira itu sangat hangat, apalagi di saat kondisi seperti ini Mira merasa rindu pelukan sang ibu, tapi hanya asma tuhan dan dirinya saja ia kuatkan untuk bertahan.
Tak berselang lama, terlihat juga notif pesan di ponsel jadul, yang membuat Mira nampak terkejut akan isi pesan itu.
"Dik, maaf mas harus interview ke bandung hari ini juga, bersama rekrutan lainnya. Jaga diri kamu baik baik ya dik! Titip si kecil Ciya."
"Iya bang, hati hati di jalan ya bang." balas pesan Mira kala itu juga, hingga ia meneteskan air mata.
Karena melihat jam, sudah pukul enam sore, dan terasa lapar Mira saat ini.
Mira nampak memegang perutnya, ia membuka bajunya terlihat goresan merah pada bekas jahitan yang runyam, tapi Mira tempelkan saja bedak tabur milik Ciya.
Ciya yang saat itu tidur di kasur, Mira mencoba tinggalkan dimana ia mencari ibu mertuanya.
Nampak di dapur ada tiga mie instan, dimana Mira ingin meminta izin sang ibu mertua jika Mira memintanya untuk ia masak satu, karena sedang lapar.
"Bu .. ibu .."
__ADS_1
"Bu, Mira boleh izin minta satu mie nya ya bu." teriak panggil Mira, nampak melihat seisi kamar dan ruangan tak ada ibu Viola.
Mengetuk pintu kamar pun tak ada jawaban saat itu juga.
"Aku masak aja apa ya? Tapi .."
Mira yang tak tahan, terakhir makan itu pukul 06 pagi, ia segera mengambil panci dan memasak mie, meletakkan mangkok dan terlihat dalam beberapa menit mie itu mendidih, Mira tuangkan kedalam mangkok hingga saat ia aduk aduk untuk ia cicipi sedikit tapi ditebas, ketuslah seseorang dari sampingnya.
Praaang.
"Astagfirullah bu." terdiam Mira, kala mangkok itu sengaja di senggol bu Viola.
"Kamu benar benar gila ya, lancang sekali pake mie instan yang bukan milik kamu, kamu ga peka atau buta, ya. Itu punya siapa?"
"Bu .. maaf, tapi Mira tadi lapar. Dan Mira udah ketuk ketuk pintu kamar ga ada jawaban buat izin, Mira minta maaf bu!"
"Ibu haramkan kamu makan mie ini, karena enggak izin. Apalagi Ciya ke dapati minum asi dari mie hasil colongan." teriak Ibu Viola, yang nampak membuat Mira menangis, dimana mie itu di injak dan membuat teriakan kencang, yang membuat Ciya menangis dari Kamar, mungkin pecahan mangkok tadi dan suara ibu Viola yang teriak amat berisik.
Bahkan terlihat seseorang mengetuk pintu, mungkin ingin tahu ada apa ramainya rumah yang Mira tinggali saat ini.
Assalamualaikum .. sapa ketukan dari pintu membuat Mira menghapus air matanya setelah membersihkan lantai dari pecahan mangkok dan mie tadi, tapi dibarengi tangisan Ciya saat itu juga. Rasa laparnya begitu saja tertahan akibat kejamnya sang ibu mertua.
__ADS_1
Tbc.