Penyesalan Sang Madu

Penyesalan Sang Madu
Pilihan Sulit


__ADS_3

Kesakitan Mira, kali ini kembali datang. Mira sedikit aneh, ketika benjolan dibawah perutnya terasa gatal, dan memerah sakit. Mira rasa efek dari sayatan melahirkan, hal itu membuat Mira lagi lagi tidak mau bicara pada suaminya.


Meletakkan Ciya di kasur, dan tas. Mira mencoba ingin pergi ke kamar mandi, sementara bang Arka terlihat menelepon seseorang, sesampai dari rumah ibunya.


Mira membasuh wudhu, selagi Ciya tidur pulas. Hingga beberapa saat setelah rukuk, sujud dari shalatnya, entah kenapa Mira merasakan sakit di perut bagian dalam.


'Aku kenapa ya, kok kram lagi. Apa maag telat makan, aduh. Enggak, bang Arka kalau tahu, dia pasti bawa aku ke rumah sakit. Yang ada, uang untuk aqiqah Ciya terpakai.' batin Mira.


Minum air putih, setelahnya membuat Mira memberikan rasa lega sakit berkurang. Tak lama bang Arka masuk ke kamar dan meminta sesuatu.


"Dik, buatkan abang teh ya!"


"Iya bang, segera Mira buatkan."

__ADS_1


Menuju dapur, gula habis, teh habis. Sisa sedikit membuat Mira memakai yang ada, teh tadi pagi yang ia taruh di dalam gelas, terpaksa Mira pakai lagi. Lagi pula sudah malam, untuk ke warung rasanya amat sakit jika di paksakan.


Cetrek.


"Teh nya bang."


"Makasih ya dik."


"Bang, boleh enggak Mira tanya sesuatu?"


"Kenapa abang harus pinjam uang pada ibu, kan check up ga perlu bang, Mira udah baik baik saja. Soal aqiqah bukannya bisa di kumpulin, lagian terlalu memaksa. Rasanya Mira takut memberatkan abang."


"Aqiqah tidak boleh di tunda dik! Abang enggak mau kamu mikir bukan bukan, besok abang sudah janjian sama custumer yang suka cuci motor, katanya aqiqah terima beres 1,7 juta. Insyallah kita bagikan ke yang berhak, selamaten kecil kecilan aja."

__ADS_1


Penjelasan Arka, membuat Mira mengangguk. Sebenarnya ada rasa mengganjal dari lubuk hati Mira, yakni perkataan ibu mertuanya yang nyelekit seperti itu. Tidak ada kata kata maaf juga dari bang Arka, soal kata kata ibunya, semenjak menikah dengan Mira, kehidupan Arka jadi sulit ekonomi.


"Bang, Mira boleh tanya enggak. Soal email yang Mira sempat buka, maafin Mira karena sudah lancang. Kabar mba Diyan dimana, kenapa abang tidak berniat menemuinya? Terus toko cake sweet, apakah Mira boleh tahu?"


Deg.


Arka meletakkan pena di atas meja, menghentikan tulisan pengeluaran untuk persiapan besok. Juga pendapatan yang harus ia sisihkan setiap hari, agar uang ibunya bisa di kembalikan.


"Dik, abang enggak tahu Diyan tinggal dimana, pertengkaran itu membuat abang salah, apalagi kondisinya abang tidak bisa adil membaginya. Jadi maafkan abang! Abang masih meminta informasi juga, jika Diyan tinggal dimana saat ini. Yang jelas dalam waktu dekat, sidang akan mempertemukan kami."


Mira terdiam, ketika Arka sudah beranjak dari meja, apalagi panggilan berdering membuat pembicaraan mereka terhenti, apalagi Mira belum mendapat balasan soal toko Diyan, apa maksud dia jika toko roti itu kado untuk buah hatinya, dan di minta Mira yang mengelolanya. Bahkan suaminya sendiri tidak mengatakan hal apapun, yang Mira tahu toko itu sudah di jual beberapa bulan lalu.


'Harusnya jika abang merasa bersalah, dan ingin berusaha adil. Pilih lah salah satunya bang, agar abang bisa sadar atas apa yang abang lakukan adalah egois.' lirih Mira, tangisannya jatuh begitu saja, ia masuk ke kamar dan mendekap Ciya putri kecilnya yang mungil itu.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2