Penyesalan Sang Madu

Penyesalan Sang Madu
Kantor Polisi


__ADS_3

Irham tak sampai hati, entah kenapa dahulu ia bersama Arka sohib, kali ini sejak tahu permasalahan Diyan, ia menjadi kesal dan memutuskan kerja sama pada Arka lebih tepat.


Membuka mobil, tangan Diyan dihentikan oleh ibu Vio saat itu.


"Diyan, ibu salah telah memintamu seperti ini, ini salah ibu. Tapi tolong kali ini Diyan!"


"Ibu, bagaimanapun saya tidak marah dan benci, hanya saja saya akan putuskan toko roti di kelola oleh sepupu dan temannya. Untuk soal membantu ibu, biar nanti Diyan kirimkan pengacara, akan Diyan bantu sebaik mungkin. Ibu tidak perlu memohon, yang ibu lakukan adalah ikuti prosedurnya dan Diyan akan hubungi seseorang membantu masalah ibu."


"Makasih Diyan, tolong ibu. Kamu anggap ibu seperti ibu mu juga kan, ibu enggak mau di penjara."


"Bu, Diyan pamit. Tidak ada yang pernah Diyan ingkar janji, tidak pernah Diyan melupakan janji orang yang Diyan sayangi. Assalamualaikum." pamit Diyan, masuk ke dalam mobil.


Diyan kali ini melaju, dimana Irham sudah menjalankan sebuah mobilnya. Tidak pernah dibayangkan, jika kali ini Mira melihat ibu mertuanya memilih menantu pertamanya itu, masalah Mira adalah satu yakni Ekonomi yang benar benar terbatas.

__ADS_1


Bahkan kegaduhan di dalam rumah, seorang ibu ibu menelpon polisi. Sementara suaminya hanya diam masih dengan egois hati yang memikirkan diri sendiri, atau memang pria dasarnya egois tinggi, dan gengsi yang amat besar, sehingga ia berlaku seperti ini tidak mau mengalah, Bahkan Mira bisa saja mengatakan akan mengelola roti kue, karena ia pernah bekerja, meski Mira kelak bisa menanggung malu pada karyawan lain, yang anggap dirinya adalah seorang pelakor.


'Seorang pelakor, akan terus di cap nama itu, melekat nama itu seolah membuat hidupku penuh penyesalan, tapi meski begitu kisahku hanya menolong mbak Diyan yang meminta menjadi madunya, aku bukan pelakor.' gumam batin Mira, sambil menggendong Ciya.


Ciya sendiri menangis terus menerus, seolah tahu perasaan orangtuanya yang sedang tidak enak, sedang bimbang dan khawatir.


"Vio .. ingat, bentar lagi polisi datang! mendekam kamu di penjara."


"Bu .. ibu .., apa gak bisa minta waktu. Saya tahu ibu saya salah, tapi saya mohon jangan di bawa ke kantor polisi."


Ibu Viola menangis terus sejak tadi, entah kenapa seperti ini Mira benar benar bingung untuk membantunya, bahkan Mira menoleh dan berbisik pada suaminya itu.


"Bang, apa enggak kita turunkan ego, minta bantuan sama .."

__ADS_1


"Cukup ya Mir! sekalipun abang enggak ya enggak .." tegas Arka, membuat Mira diam.


Dan dalam beberapa puluh menit saja, benar saja tak lama suara mobil polisi datang, hal itu membuat Arka nampak seperti putra yang tidak punya perasaan.


"Selamat siang bu, saya dapat laporan atas nama Viola dengan pasal penggelapan dana dan penipuan investasi bodong, boleh ikut saya langsung ke kantor!"


"Pak, saya enggak bersalah pak. Saya juga di tipu, saya mohon jangan bawa saya!" teriak Viola, dimana ibu ibu korban lain merasa lega setelah di pertontonkan warga keramaian dan pak Rt.


"Bawa aja pak, udah nipu mana ada maling ngaku, hukum seberatnya."


"Arka, tolong ibu nak. Ibu enggak mau dibawa ke kantor polisi."


"Ibu ikut arahan polisi aja, Arka akan menyusul dan pastikan ibu enggak bersalah."

__ADS_1


Arka juga memberikan ponsel Vio dan rekening, dimana polisi meminta bukti untuk tindak lanjut. Mira di depan pintu hanya bisa menangis, haruskan ia meminta bantuan tapi bukan dengan mbak Diyan, yang sudah pasti akan membuat bang Arka murka.


TBC.


__ADS_2