Penyesalan Sang Madu

Penyesalan Sang Madu
Fase Tidak Sehat


__ADS_3

Pagi harinya, terlihat Arka setelah shalat shubuh, dimana Mira sedang memotong bumbu dapur, dimana makanan kemarin akan ia hangatkan untuk sarapan pagi ini bersama suaminya.


Jujur Mira merasa bersalah, karena keinginan suaminya telah di murkai pencipta, dari menolak ketakutan hingga berujung perdebatan dan Mira menangis, mengunci di kamar. Hingga pukul tiga dini hari, Mira membuka pintu kamar, melihat Bang Arka berada di sofa tertidur pulas.


Setelah mendengar suara keran, Arka pun bergegas mandi dan menunggu adzan shubuh di musholla terdekat. Rasanya aneh, ketika suara di dalam rumah terdengar hening, tanpa sepatah katapun, apalagi tak ada bicara dan melengos seolah tak melihat ada orang.


Mira sendiri ingin menyapa suaminya, tapi celos Arka merasa benar akan keputusannya, membuat Mira terlihat diabaikan. Mira mencoba sabar, dimana menjelang pagi, hal ketakutan Mira benar benar tersampaikan pagi ini.


"Abang pergi dulu dik. Assalamualaikum."


Hah!

__ADS_1


Hati Mira remuk, makanan pagi ini di lihat tanpa di sentuh, memang ini adalah makanan hangat sisa kemarin sore, tapi rasanya Mira ingin berpuasa dan membuangnya, tapi jika Mira buang, sungguh berdosa karena di luar sana masih banyak yang membutuhkan makanan. Tapi jika Mira ikut mogok karena rasa sedihnya, bukan tanpa alasan air asinya kelak akan macet, dan Mira tak bisa memberikan gizi untuk Ciya yang masih berusia 7 bulan.


Eeeaaak ... Eaaak.


Tangisan Ciya menyadarkan Mira kali ini, hingga dimana Mira mencoba kembali menarik nafas, mencoba memendam rasa tangisan dan kesedihannya.


'Ah! Rasanya, jika Mira masih ada ibu, mungkin ia akan melewati semua ini, tapi ia sendiri. Bahkan mertua nya ketika Ciya lahir, hanya beberapa kali saja menjenguk, entah apa yang terjadi pada ibu mertua Mira itu.


Mira kali ini segera meraih koran cetak, dimana ia melihat lowongan pekerjaan, namun di pikir lagi dan lagi. Jika ia bekerja, lalu Ciya sama siapa? Apalagi stok asi harus terpenuhi, dan Mira tak memiliki kulkas, hanya termos yang di isi batu es, itu pun membeli batu es pada tetangga sebelah.


Mira memberikan susu, tetap saja Ciya menangis. Ia membuatkan bubur bayi, tetap saja kali itu Ciya hanya makan lima suap, namun tidak mau lagi makan dan terus saja menangis.

__ADS_1


Mira menggantikan popok, membuat Ciya nyaman dengan baju ganti hangat, tetap saja hanya sebentar Ciya berhenti menangis.


Bahkan saat ini, terlihat seluruh ruangan, kamar berantakan, tidak sempat mencuci piring, ingin sekali Mira merapihkan tapi Ciya terus saja menangis, seolah tidak mau di lepas dan maunya di gendong saja. Mira penat, dan Mira tak kuat lelahnya seperti ini, dimana bang Arka jauh dari kata berkecukupan, bahkan Mira tak sengaja melihat cermin, dimana dirinya sudah tak terurus, kucel dan amat dekil pada umumnya.


Eaaaak ... Eaaak.


"Bisa ... Enggak ... sih nak, kamu diam sebentar .. hah?" teriak Mira, membuat ruangan menggema, dimana bayi itu memanyunkan wajah sedih, tapi pegangannya erat.


"Maafin bunda nak! Bunda lelah, tolong beri waktu bunda sejenak, kamu bisa kan diam sebentar, lihat semuanya berantakan. Bunda bingung kenapa Ciya terus nangis, .. " lirih Mira merasa bersalah, emosinya semakin tidak terkontrol.


Mira pun menggendong Ciya, dimana matanya yang sembab, bahkan air mata Mira jatuh, menetes beberapa kali pada pipi tembam bayi mungil itu.

__ADS_1


"Sebenarnya bunda bingung nak, entah kenapa bunda sering aneh seperti ini. Maafin bunda ya Ciya." tangis Mira sedikit sesak.


TBC.


__ADS_2