
Ciya nampak sekali menangis terus menerus, dimana sebuah pasir dari atap terdengar membuat Mira nampak bingung.
"Bang, itu apa ya. Kok bikin ngeres lantai deh."
Arka yang baru saja lepas shalat, nampak melihat wajah Mira lelah, letih dan panikan. Atau semenjak Mira melahirkan, dan usahanya anjlok dirinya saja yang tidak peka akan nafkah lahir sang istri.
"Musang paling dik, maaf. Abang janji jika sudah cukup, dan bengkel lancar. Kita akan kembali menebus rumah yang di sita dik. Abang hanya belum menemukan klien abang, yang dimana dia menipu abang soal masalah itu."
'Ia, itu karena bang Arka, selalu saja memikirkan mbak Diyan, dimana mempercayakan pada orang yang salah, melepas begitu saja. Sehingga menumpuk hutang bank atas nama bang Arka, apalagi bang Arka menandatanganinya tanpa baca lebih dulu, karena pikiran dan jiwa abang hanya mbak Diyan saat itu.' batin Mira, ingin sekali ia berbicara seperti itu, tapi tak sanggup karena takut dosa.
"Dik, kok diam?" tanya Arka.
"Gak apa bang, maaf juga soal Mira yang tidak baik melayani abang, dan tidak mampu mengurus Ciya. Terkadang Mira sedikit ingin berteriak, ternyata mempunyai bayi lucu, tidak semudah yang Mira bayangkan saat itu."
__ADS_1
"Astagfirullah. Semua karena abang tak mencukupi kamu layak dik, maaf juga karena kamu harus merasakan semua ini."
"Bukan begitu bang, nih teh nya. Lagi pula, istri kemanapun suami pergi, sudah seharusnya bukan ikut dan ikhlas, insyallah Mira sanggup." ujarnya duduk sambil menggendong Ciya dalam pelukan, memberikan Asi.
"Oh iya dik, tadi kamu kenapa enggak jadi belanja baju Ciya dan daster?" tanya Arka yang menyeruput teh hangat senyum.
Mira sendiri tak cerita, jika tadi ia bertemu mbak Diyan. Melihatnya saja Mira enggan dan malu, apalagi keadaannya sekarang dengan rumah mirip gubuk yang jauh dari tempat tinggal mereka dulu.
"Gpp bang, kebelet pipis. Ciya juga ga betah kayaknya, soalnya nangis terus." jelas Mira, membuat Arka manggut.
Pasangan suami istri itu pun di kamar saling diam, tanpa ada yang berbicara. Hening dengan pikirannya masing-masing. Mata Mira masih terjaga tak habis pikir bisa satu ranjang bersama orang yang pernah menjadi harapannya, tapi kini keadaan amat berbeda sekali karena finansial yang jauh dari kecukupan.
Namun, bukan kebahagiaan yang ia dapat, justru kesedihan yang sedang ia pendam sekarang dimana bang Arka pasti masih terus memikirkan mbak Diyan, hanya saja di gubuk ini bang Arka terlihat biasa saja, tapi Mira pernah memergoki bang Arka menatap foto Amel dan Diyan. Jika sejak awal sudah tahu siapa yang akan menjadi suaminya, Mira pasti akan menolak secara terang-terangan, dan tak lagi serakah kala kebaikan mbak Diyan dulu.
__ADS_1
“Dik,” lirih Arka yang membelakangi tubuhnya seketika bergerak menjadi terlentang. Ia yakin jika Mira pun belum benar tertidur.
“Maafkan Abang atas kesalahan yang sudah Abang perbuat, kesulitan ini semua karena abang." katanya melanjutkan.
Arka sadar betul tentang kesalahannya terdahulu dan seharusnya tidak pantas untuk kembali, dan mengukir kisah baru bersama Mira dan saat bersama Mira pun masih memikirkan Diyan entah ada dimana, sebab saat Diyan pindah pengobatan ia dilarang menemuinya lagi meski untuk terakhir.
Entah bagaimana rasa sakit Mira yang dialami pada saat itu. Arka berasa menjadi pria yang tidak gentle dan sangat lemah.
Lemah karena tak bisa menjaga perasaan. Perjalanan mengejar pendidikan Magister membuat Arka melupakan sosok Mira dan bertemu dengan Diyan. Diyan juga membawanya pada Mira dan menyakiti batin Mira, sehingga kebangkrutan dirinya mungkin sentilan baginya untuk sadar karena tidak bisa adil.
'Abang janji akan memulihkan keadaan hati dan finansial keluarga kita dik.' batin Arka, menatap wajah Mira yang lelah.
TBC.
__ADS_1