
Dua hari sudah berlalu, tidak ada yang tak menyangka ketika Diyan murung selalu di rumah, sehingga Asiyah meminta mbak nya itu bercerita.
"Mbak, Asiyah udah tahu dari bos Irham. Buat apalagi sih mbak ini baik sama orang yang enggak punya perasaan, udah jelas jelas mau dibantu malah begitu."
"Via, mana Via. Mbak minta bantuan sama dia soalnya, lagi pula dia lagi kuliah Hukum kan."
"Mbak jangan bilang mau bantu bu Viola keluar dari penjara, mbak udah deh. Kenapa sih ribet banget, jual aja toko rotinya."
"Benar juga sih, tapi mbak mau kamu dan Via yang kelola gimana?"
"Mending pindah kepemilikan aja mbak, yang kalau tiap bulan, mbak tetap dapat royalti. Apa ya itu namanya, aku lupa."
"Toko itu udah mbak bagi atas nama Ciya, jadi hanya bisa kelola sampai Ciya besar. Mbak tipe yang mau menepati janji."
Mendengar hal itu Asiyah pun mengerti, tak lama Amel pun pulang dari sekolah, anehnya anak itu pulang bersama Irham, yang membuat Diyan kembali canggung, tak melanjutkan pembicaraan.
'Mbak, Asiyah pamit ya.' di anggukan Diyan.
***
Sementara di berbeda tempat, Mira nampak kebingungan dengan banyak tetangga yang sering melempar telur kuning, bahkan sampah di buang ke depan rumahnya, yang membuat Mira sulit keluar rumah.
__ADS_1
"Bang, di luar lagi lagi tetangga buat ulah, pas Mira beli beras dan kopi mereka nutup warungnya, dan Mira harus beli ke ujung jalan raya, warung dekat bilang ga mau nerima pembeli yang uangnya uang haram."
"Astagfirullah. Tetangga kok ada model kaya gitu, orang lagi kena musibah malah hakim sendiri, mereka gak sadar apa sama aja fitnah. Lagian teman ibu yang nipu belum ketemu, abang juga usahain biar ibu cepat keluar dari penjara."
Mira sendiri sebenarnya bingung, ia sudah sulit untuk memasak. Bahkan masak pun ia dan bang Arka, sulit menelan sebab ibu mertuanya masih ada di penjara. Tapi sedikit cemilan stok membuat Mira makan, agar air Asi nya tetap sehat untuk Ciya.
'Maaf ya bang, andai Mira punya materi yang cukup, Mira hanya bisa bantu selain doa.' gumamnya, dimana melihat suaminya berkali kali menelepon tapi sering di matikan.
Terlihat Ciya kembali tidur, ia meletakkan di kasur. Lalu kembali ke pada Arka, dimana ia sempat mendengar ocehan suara Arka yang seperti mendapat penolakan.
'Pak, untuk kali ini saya mohon! masa enggak bisa bantu, saya mohon, saya janji bakal lakuin apapun!'
Itu adalah kata kata yang terlontar bang Arka pada seseorang di telepon, yang mana Mira bingung. Suaminya akan melakukan apa, dan meminta bantuan apa.
Dan beberapa jam kemudian.
Tok ..
Tok ..
Ketukan pintu terdengar, hal itu membuat Mira keluar melihat siapa yang datang, namun tak sangka kala seseorang yang datang membuat mata Mira membola.
__ADS_1
"Assalamualaikum .."
"Walaikumsalam." balas Mira.
"Mbak Mira, bisa panggil om Arka. Saya mau om Arka tanda tangani prosedurnya, setelah itu ibu Vio akan keluar dari penjara."
"Via .. masuk Vi!" lirih Arka, dimana Mira belum berkata apa pun, namun sepertinya suaminya meminta bantuan pada Via, dan menyambut Via untuk masuk.
Via sendiri memang kuliah hukum, meski begitu history keluarganya sangat lumayan kaya meski terbilang anak broken home. Mira jadi ingat, hutang dirinya saat bang Arka masuk rumah sakit, dan Mira masih berhutang pada sepupu mbak Diyan yang kala itu, Via ada disana. Sayangnya bang Arka belum tahu soal itu.
Lantas kali ini suaminya meminta tolong pada Via, dimana hati Mira benar benar terasa tak punya muka sebagai istri. ' Ya Tuhan, kenapa aku jadi banyak hutang begini, kenapa masalah tidak berhenti henti.' batin Mira.
Via pun masuk, dimana Mira membuatkan teh untuk tamu, dimana suaminya kali ini menandatangani kontrak perjanjian, yang Mira tidak berani bertanya, soal apa lagi.
"Baiklah om, semua sudah beres. Via bakal proses minta bantuan papa! ingat ya Om sesuai janji, jika lewat tempo ada konsekuensinya sama papa, yang Via juga enggak tahu."
"Ehm .. ya Via, makasih banyak atas bantuan kamu. Salam juga sama papa kamu Frans ya."
"Tentu, ya udah kalau gitu. Om .. Via pamit, mbak Mira aku pamit." senyum Via penuh kewaspadaan, yang terlihat Mira seperti aneh menatap Via yang akan pergi, sebab lirikan matanya seolah centil pada suaminya.
'Ah, ini pasti perasaan saja.' batin Mira sadarkan diri.
__ADS_1
TBC.