Penyesalan Sang Madu

Penyesalan Sang Madu
Alamat Mira


__ADS_3

Diyan Saat ini telah kembali, dimana Amel juga berterimakasih pada om Irwan. Kala dirinya pulang sekolah, di ajak jalan bersama sang bunda.


"Aku pamit dulu ya, hai Amel cantik. Jaga bunda kamu ya!"


"Siap om." senyum Amel kala itu.


Nampak Diyam meminta Amel membersihkan diri ke kamar, dimana Diyan juga akan mandi sekedar melepas lelah. Namun tidak sangka, ketika ia duduk di kasur, dimana ia melihat sebuah foto dirinya dengan ibu mertua yakni bu Vola dan mas Arka. Dimana saat tadi Diyam mampir ke toko kue, bu Vola tak ada di tempat.


Benar saja, dimana saat ini Diyan mengingat dirinya yang nampak mengingat sang suami menikah lagi, dimana awalnya bu Vola tak setuju, karena Diyan pasti akan hamil lagi setelah pasca keguguran. Tapi mengejutkan, kala Diyan di vonis mempunyai sakit yang ganas, yang menyebabkan diri Diyan mendapat perlakuan tidak enak terhadap bu Vola yakni ibu mertuanya setiap harinya.


Ingatan lalu :


Saat itu Diyan, sudah membuka mulut, akan tetapi dia tidak diberikan kesempatan untuk menjawab. Sekarang ibunya yang memotong,


“Diyan, di keluarga kita tidak ada yang mengalami masalah kesuburan. Ibu yakin, kamu juga sebenarnya subur. Hanya saja, mungkin, Tuhan memang belum memberimu mongmongan. Ibu juga setuju dengan mertuamu Vola. Nanti kita sama-sama bantu kamu untuk program kehamilan. Di bawah bimbingan dokter yang berpengalaman dan ahli di bidangnya. Jadi, ibu minta kamu jangan bicara yang bukan-bukan lagi. Oke, Sayang?”


Diyan yang rapuh kala itu, ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


“Tidak, Bu. Sama sekali tidak ada gunanya. Diyan sudah mencoba hampir semua program kehamilan selama tujuh tahun ini. Tapi, hasilnya nihil. Sampai sekarang Diyan masih belum hamil,” sahut Diyan dengan nada bicara yang tetap tenang.


“Bu, Diyan tahu, ibu dan ibu Vola sudah sangat ingin menimang bayi. Karena itu, Diyam mohon dengan hati yang paling dalam, tolong, Ibu dan juga bu Vola, mengerti posisi Diyan. Tolong dukung keputusan yang Diyan ambil untuk mencarikan Mas Arka istri baru agar bisa memiliki anak. Diyan sudah mengantongi kandidat yang benar benar baik.'


“Tapi, Diyan ...”

__ADS_1


“Bu. Diyan tidak mau egois. Apa yang Diyan lakukan semua ini adalah demi kebaikan kita semua, bu. Bukan demi Diyan atau Mas Arka, bukan?! Tapi, demi kebaikan bersama,” ujar Diyan saat itu terus berusaha meyakinkan ibunya.


"Ibu tahu, kan, kalau sebuah keluarga tidak akan lengkap tanpa hadirnya seorang anak? Anggap saja, ini sebuah bukti jika Diyan benar-benar sayang, benar-benar cinta dengan Mas Arka. Anggap saja ini merupakan bakti seorang istri pada suaminya.”


Suasana ruang keluarga yang awalnya riang gembira seketika menjadi hening. Semua orang diam, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


Berita itu begitu mengejutkan, bahkan untuk Arka sendiri yang kala itu baru tiba di susul ibunya. Dia sama sekali tidak tahu jika Diyan berencana untuk mencarikannya seorang istri.


Selama hidupnya, selain bekerja, Arka sama sekali tidak pernah berpikir untuk mempunyai dua istri. Bahkan dalam mimpinya yang paling liar sekalipun tidak. Tapi, tiba-tiba saja, tidak ada angin tidak ada hujan, istrinya mengatakan jika dia akan mencarikan istri lagi untuk dirinya.


Padahal, Arka masih ingat dengan sangat jelas sekali jika semalam, sebelum mereka tidur, Diyan masih mencoba membujuknya agar mereka menunda memberitahukan kebenaran yang ada kepada orang tua mereka.


Ya, Diyam masih bersikeras jika program bayi tabung berikutnya yang akan dia ikuti, pasti akan berhasil. Arka merasa ada yang tidak beres dengan istrinya. Tidak mungkin dia berubah pikiran dengan begitu cepat. Hanya dalam waktu satu malam saja. Tapi, apa yang tidak beres dengan Diyan? Arka juga tidak tahu.


Arka menarik napas dalam - dalam lalu mengembuskannya perlahan, setelah itu dia pun membuka mulutnya dan berkata.


“Tapi, Mas Arka. Anak adopsi dengan anak kandung tentu saja beda,” protes Diyan.


"Aku ingin Mas Arka punya anak kandung, yang punya hubungan darah dengan Mas Arka. Bukan anak adopsi. Lagipula, aku sama sekali tidak keberatan kalau harus dimadu. Tidak apa-apa, Mas. Asalkan Mas Arka bisa punya anak kandung, darah daging Mas sendiri. Dengan begitu keluarga kita akan lengkap.”


“Tapi, Diyan ...”


“Mas, aku mohon, Mas Arka tolong mengerti. Aku tahu ini sulit untuk kita berdua, tapi, ini satu-satunya jalan yang ada agar Mas bisa punya anak kandung. Mas Arka tidak usah khawatir, aku baik-baik saja. Aku tidak apa-apa dimadu. Demi Allah, Mas. Karena, aku akan bahagia kalau Mas juga bahagia. Mas Arka mau, ya, untuk nikah lagi? Aku mohon, Mas!”

__ADS_1


Diyan terus menerus berusaha meyakinkan semua orang agar mendukung keputusannya. Dia tahu jika Arka pasti akan menolak usulnya untuk menikah lagi.


"Maaf dik, mas tetap menolak." ujar Arka dan berlalu.


Hanya saja, itu satu-satunya cara agar dia bisa memiliki keturunan. Arka memang tidak mempermasalahkan apakah Diyan mempunyai anak atau tidak. Baginya itu sama sekali bukan masalah.


Akan tetapi, tidak dengan kedua orang tua mereka. Tidak memiliki anak itu sama dengan aib keluarga. Apalagi mereka berdua berasal dari keluarga yang cukup terpandang. Orang-orang di luar sana pasti akan menggunjing kan anak mereka yang tidak bisa punya anak, mengolok-olok dan membuat malu.


"Tidak, dik! Mas tidak mau hal itu sampai terjadi." lirihnya kembali.


Dan Diyan tidak akan membiarkan hal itu terjadi pada keluarganya. Meskipun dia harus berkorban perasaan, dia akan melakukannya untuk menyelamatkan nama baik kedua keluarganya. Dia tidak ingin sampai ada yang kemudian merasa kecewa atas dirinya.


“Dik, coba kamu pikirkan semuanya secara matang terlebih dahulu sebelum membuat keputusan,” ujar Arka kembali, setelah lama kemudian.


"Tidak ada cara lain lagi mas." balas Diyan dengan kesedihan yang pilu.


“Sayang, kehidupan poligami itu tidak semudah yang kamu pikirkan dik! tidak seperti pada sinetron-sinetron. Aku tahu kamu melakukan ini semua untuk kebaikan kita bersama, tapi, aku tidak mau kalau kamu sampai terluka. Tidak, Dik. Aku tidak mau kamu menderita dan tidak bahagia. Aku tidak mau jadi suami yang gagal.” peluk Arka.


Dimana ingatan itu, membuat Diyan benar benar ingat kisah manisnya. Akan tetapi sejak melihat Mira, nampak terlihat tidak baik dan sedang kesulitan. Diyan merasa ingin tahu kehidupan mas Arka saat ini bersama Mira saat ini.


Bahkan Diyan sudah punya Amel, anak dari sang bibi yang syahid kala itu melahirkan Amel. Namun jika kehidupan mas Arka dan Mira seperti sedang kesulitan, Diyan ingin melihatnya dan membantunya apa yang mereka perlukan, dimana Diyan ingin tetap berbicara terakhir ketika akte cerai mereka telah sah.


Dredddt ..

__ADS_1


Ponsel Diyan, mulai bergetar balasan dengan nama seseorang. Ia memang meminta seseorang mencari tahu alamat kediaman terakhir Mira sang madu nya. Dimana Diyan berharap, ia dapat bertemu Mira dan bersilaturahmi.


TBC.


__ADS_2