Penyesalan Tak Berujung

Penyesalan Tak Berujung
13. Kebencian


__ADS_3

Didalam perjalanan menuju rumah Alisa mereka hanya diam dalam kesunyian.


Rangga yang sangat benci dengan kalimat Intan membuat wajahnya ketat dan sangat marah " seenaknya saja dia bilang aku pemenang palsu " gumamnya pelan.


Namun Alisa dapat mendengar gumaman Rangga dengan jelas dan dia mencoba menenangkan " sudahlah mas jika apa yang dikatakan Intan itu tidak benar mengapa kamu harus marah ?" Alisa mengelus pelan punggung Rangga agar amarah nya mereda.


" Itu semua tidak benar cuma aku kesal dengan omongan intan itu dia selalu merendahkan aku , aku tahu kalau dia tidak suka dengan aku tapi tidak juga dia bisa seenaknya begitu memojokkan aku dan mengatai diriku sebagai pemenang palsu" katanya sambil memegangi stir mobil dengan geram dan menginjak gas dengan kuat sehingga mobil yang dikendarai melaju dengan sangat cepat.


Seketika itu juga Alisa berubah panik dan ketakutan " mas jangan terlalu kencang mas , bahaya nanti kita bisa celaka" kata Alisa memohon karena dia memang sangat merasa ketakutan karena dia trauma pernah mengalami kecelakaan sewaktu belajar menyetir.


Alisa menutup kedua matanya dengan kedua tangannya dan menangis karena ketakutan nya semakin menjadi-jadi tak kala Rangga menambah kecepatan.


" Mas hentikan mas... hentikan hiks hiks hiks" kata Alisa yang terus menangis dan menutup mata dengan kedua tangannya.


Rangga yang mendengar tangisan Alisa pun menurunkan gas mobil itu sehingga mobil itu tidak lagi melesat seperti tadi dan kecepatan mobil sudah pelan akhirnya Alisa bisa bernafas lega dan sedikit tenang. Nafasnya yang tadi tidak karuan juga sudah mulai teratur dan kembali normal.


**********


Keesokan paginya berita di media online pun bermunculan mulai dari kemenangan Rangga sebagai seorang CEO perusahaan yang sukses sampai pernikahannya dengan Alisa yang akan diselenggarakan bulan depan.


Mereka pun menyiapkan segala persiapan untuk pernikahan mereka semua sudah siap Alisa tinggal duduk manis seperti ratu sehari.


Tanggal pernikahan pun sudah ditetapkan dan tinggal menunggu waktu hari bahagia itu tiba.

__ADS_1


Semua ikut senang dengan rencana bahagia itu terkecuali Tommy, Ratih dan Intan orang yang berada di garda depan sebagai orang yang tidak suka dengan pernikahan mereka karena Alisa memilih Rangga sebagai suaminya orang yang mereka tahu tidak mencintai dirinya dengan tulus.


Namun mereka tidak berbuat apa-apa karena semua keputusan ada pada Alisa dan menjalankan juga Alisa mereka hanya bisa mendukung.


Di sebuah restoran ketika sedang meeting dengan klien Rangga tidak sengaja bertabrakan dengan Tommy mereka saling tatap dengan penuh kebencian.


" Apa kamu lihat-lihat? Apa kamu tidak pernah lihat wajah aku? " Kata Rangga dengan nada tinggi dengan wajah yang penuh kebencian.


" Tidak usah GR dech kamu aku lihat kamu karena aku heran apa sih yang lebih dari kamu sampai Alisa begitu mencintai kamu. Perasaan dari segala hal aku lebih dari kamu " ujarnya sambil tersenyum sinis.


" Itu pasti karena aku lebih dari kamu jangan bilang tidak ada kelebihan dari dalam diriku, kalau aku tidak lebih dari kamu mana mungkin Alisa memilih aku " balas Rangga lagi dengan penuh percaya diri.


" Ahh kurasa dirimu hanya memakai susuk pemikat untuk menarik perhatian dan membuat Alisa jatuh cinta dengan pria seperti kamu" kata Tommy sambil menutup mulutnya kelewat batas.


Rangga yang mendengar kalimat dari Tommy langsung ingin mendaratkan pukulan ke pipinya karena dia benar-benar tersinggung , namun Tommy yang melihat gelagat Rangga yang ingin memukul Tommy langsung lari dan berkata " sorry bro ini bukan singahsana tinju jangan kamu mau main pukul saja" .


" Siapa takut paling juga kamu yang keok" kata Tommy lagi sambil terus meninggalkan Rangga dalam keadaan marah , sementara Tommy sangat senang sekali melihat kemarahan Rangga.


" Dasar brengsek awas kamu nanti lihat saja pembalasan ku" ketusnya dan kembali ke meja tempat tadi dia sedang meeting bersama kliennya.


Dert...dert...dert...


Rangga melihat satu nama tertera pada layar ponselnya dan nama itu adalah Alisa , dengan malas Rangga mengangkat panggilan itu " ya ada apa kamu telepon aku ? Aku lagi meeting".

__ADS_1


" Mas kamu kenapa kok jawaban kamu begitu? Apa aku ganggu karena menelepon kamu ?" Kata Alisa dengan nada takut " biar aku tutup teleponnya".


" Tidak aku cuma lagi kesal karena tadi aku bertemu dengan pengagum kamu". Kesal Rangga sambil mengingat kejadian tadi.


" Pengagum? Siapa mas, sepertinya aku tidak punya pengagum?" Alisa bingung dan penasaran siapa yang Rangga maksud.


" Siapa lagi kalau bukan si Tommy yang selalu merasa paling tampan dan paling segalanya dari aku " tukasnya dengan nada sinis.


" Hahaha kamu mas, walaupun dia lebih segalanya dari kamu....cinta aku kan untuk kamu mas" kata Alisa sambil tertawa karena lucu mendengar perkataan Rangga.


Ternyata pernyataan Alisa itu membuat Rangga semakin kesal karena jawaban Alisa.


" Jadi kamu membenarkan kalau dia lebih segalanya dari aku " Rangga marah karena Alisa menganggap kalau benar Tommy lebih dari dirinya.


" Tidak mas bukan begitu maksudnya, dimata aku kamu lebih dari dia mas " kata Alisa sambil menutup mulutnya karena salah bicara padahal Rangga tidak melihat apa yang dilakukan oleh Alisa. " Jadi bagaimana mas, apa mas jadi kerumah?" Kata Alisa untuk mengalihkan pembicaraan.


" Iya jadi kamu tunggu saja aku di rumah " kata Rangga dan langsung mematikan sambungan teleponnya sakin jengkelnya.


Rangga kembali menyelesaikan semua urusannya dengan perasaan hati yang tidak stabil tidak jarang dia melampiaskan kepada rekan kerja nya. Sekertaris nya juga tidak luput dari sasaran kemarahan Rangga.


Kejadian tadi saat bertemu dengan Tommy terus menerus menari-nari di kepalanya dia sangat tidak terima dengan kata-kata Tommy yang mengatainya menggunakan pelet " apa aku serendah itu" katanya dalam hati.


Tidak mungkin dia menggunakan cara licik yang dituduhkan kepada dirinya. Jangankan menggunakan hal seperti itu bahkan Rangga merayu Alisa saja tidak pernah malah Alisa yang selalu seperti ulat bulu dan sangat ganjen kepada dirinya. Selalu mencari-cari perhatian kepada Rangga dan terkadang rasa risih selalu hinggap tak kala Alisa yang memberikan perhatian yang tidak Rangga perlukan. " jadi bagaimana mungkin aku memakai cara licik seperti itu, lagi pula aku ingin menikah dengan Alisa nanti hanya untuk balas dendam bukan karena aku mencintainya" gumam Rangga dalam hatinya.

__ADS_1


Akhirnya meeting dengan klien berakhir dan Rangga kembali ke kantor untuk melanjutkan semua pekerjaannya sebelum pergi menemui Alisa dirumahnya nanti malam.


Bagaimana cerita selanjutnya jangan lupa like dan komen ya 😊🙏


__ADS_2