
Perjalanan dimulai dengan rencana pak Brata dan Ratih yang ingin menyatukan lagi anak dan menantunya itu.
Alisa semobil dengan Rangga, namun wajahnya selalu saja cemberut, seperti tidak ikhlas dengan perjalanan ini.
"Kamu kenapa Al, kok cemberut terus nikmati dong perjalanan ini" kata Rangga yang tetap fokus pada lahan yang ada di depan matanya.
"Bagaimana cara untuk bisa menikmati perjalanan ini, sementara disamping aku kamu" katanya kesal.
Padahal di sekeliling mereka terhampar pemandangan yang begitu indah.
Hanya butuh waktu lima belas menit mereka sampai di Batu Kursi desa Sialagan , mereka di sambut oleh pengelola tempat wisata itu.
Pengelola tempat wisata itu menjelaskan satu persatu tentang objek wisata Batu Kursi itu, mulai tempat rapat hingga tempat pemancungan orang yang berbuat kesalahan hingga harus dihukum mati.
Setelah berada kurang lebih satu jam mereka melanjutkan perjalanan, menuju pantai pasir putih Parbaba (nama tempat) yang dipenuhi banyak pengunjung.
Lanjut lagi ke Pangururan, pemandian air hangat.
Brata , Ratih, Rangga dan Airin sangat menikmati perjalanan ini. Hanya Alisa yang tidak merasa senang dengan perjalanan ini.
Sepanjang perjalanan menuju air hangat ini mereka duduk di sebuah pendopo.
Alisa terus manyun , Rangga yang melihat Alisa murung dan merujak alias merajuk menghampiri Alisa dan berkata " Al... jangan seperti anak kecil dong malu sama Airin" kata Rangga.
Alisa yang mendengar perkataan Rangga hanya memutar bola matanya dengan malas. Menunjukkan kepada Rangga yang tersenyum melihat tingkah istrinya itu.
__ADS_1
"Udah nanti matanya keluar loh dan jalan-jalan di tanah !" Goda Rangga pada istrinya.
Alisa yang kesal memilih pergi meninggalkan Rangga yang masih betah dengan kopi panas yang mereka pesan, mereka hanya berjalan berdua saat ini sebab pak Brata ibu Ratih dan Airin telah lebih dahulu pulang ke hotel karena Airin kurang enak badan.
Setelah Rangga membayar semua yang mereka pesan, Rangga mengejar Alisa untuk mengajaknya naik kedalam mobil.
"Al...ayo naik , disini kendaraan umum susah. Nanti kamu capek, ayo naik" bujuk Rangga.
Alisa hanya melihat sekilas dan tidak mau mendengar perkataan Rangga dan memilih terus berjalan.
"Males...aku mau sendiri" kata Alisa ketus.
Karena hampir dua ratus meter Alisa tak kunjung mau masuk ke dalam mobil , Rangga turun dan menggendong Alisa bergaya bridal style.
"Lepas turun kan aku , aku mau turun" kata Alisa sambil memukul pundak Rangga.
Tidak berapa lama Rangga dan Alisa sampai di sebuah danau, iya itulah danau di atas danau yang diberi nama oleh pemerintah daerah setempat Aek natonang yang artinya air yang tenang.
Rangga duduk di sebuah kursi yang disediakan oleh pemerintah setempat untuk pengunjung bisa menikmati keindahan danau di atas danau itu.
Sementara Alisa tidak mau turun dari mobil, Rangga turun sendiri dan memandang sendu ke arah Alisa dan seperti ingin menangisi penyesalan yang tak berujung ini.
"Al...turunlah ! Aku mohon pada kamu jangan siksa aku lebih lama, aku capek , aku lelah Al" kata Rangga dengan nada yang rendah dan meratap.
Alisa turun dari mobil dan duduk di ujung kursi danau itu, dia sengaja agar tidak terlalu dekat dengan Rangga.
__ADS_1
" Maafkan aku Al...aku tidak ingin semua berakhir dengan penyesalan Al. Buka sedikit hati kamu untuk aku Al...!"
Alisa yang mendengar perkataan Rangga diam tidak bergeming karena dia belum merasa yakin dengan apa yang dikatakan oleh Rangga.
Alisa menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan nya seraya berkata "Maaf kata kamu? Setelah apa yang kamu lakukan , pada saat aku menjadi istri kamu? Kamu tinggalkan aku di malam pengantin kita, kau biarkan aku tidur sendiri? Tanpa pernah kamu hargai aku sedikit saja. Sekarang kau merengek untuk aku berikan maaf dan kembali begitu saja. Emang siapa dirimu yang selalu mau menang sendiri, tanpa berpikir perasaan orang lain. Maaf pak Rangga Dika Ananta aku bukan bawahan kamu, yang diam saja jika kamu marahi" kata Alisa panjang lebar dengan nada tinggi.
Alisa bisa berteriak karena memang pada saat itu tidak ada orang hanya kerbau-kerbau yang sedang menikmati rerumputan hijau yang terbentang di sekeliling danau , sambil digiring oleh pengembala hewan si pemakan rumput itu.
"Al...aku mohon maaf, beri aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya Al " sambil berlutut di hadapan Alisa dan memohon.
Alisa berdiri di dekat Rangga yang sekarang masih jongkok dan memegangi kursi taman itu.
"Rangga aku mau pulang ke hotel, aku ngantuk dan aku sangat lelah sekali" kata Alisa dan berjalan menuju hotel.
Rangga mengacak kasar rambutnya dan mengikuti Alisa dan langsung duduk di kemudi, dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Rangga berusaha untuk tetap tenang , agar tidak lagi terjadi keributan yang akan membuat suasana tidak kondusif.
Sepanjang perjalanan menuju hotel mereka hanya terdiam tanpa suara dan setelah sampai langsung masuk ke dalam kamar hotel.
Sampai di dalam kamar Alisa langsung duduk di kepala ranjang dan menyandarkan tubuhnya , karena lelah seharian berjalan-jalan.
"Al..kamu lelah , mau aku ambilkan minum" kata Rangga sambil menuangkan air ke dalam gelas kosong yang terletak di atas meja yang tersedia di kamar hotel itu dan membawakannya kepada Alisa air yang tadi di tuang kedalam gelas dan mendekati Alisa yang masih betah duduk di kepala ranjang hotel itu.
Alisa hanya tersenyum kecut dan beranjak dari tempat tidur dan mengambil air sendiri, Alisa tidak menerima air yang dibawakan oleh Rangga. Alisa meminum air yang dituangkan nya itu hingga habis, karena memang dia merasa sangat haus.
Rangga marah sekali karena merasa tidak dihargai niat baik Rangga dan Rangga meminum air itu sendiri dan meletakkan kembali gelas dengan keras. Alisa yang mendengar pun terkejut.
Alisa tidak menggubris akan apa yang di perbuat oleh Rangga, dia malah mengambil handuk dan pergi mandi. Alisa melangkah dengan santai seolah tidak melakukan kesalahan.
Rangga yang melihat itu langsung marah dan melemparkan gelas yang ada dalam genggamannya " arrgh kenapa dia tidak bisa sedikitpun menghargai niat baik ku" gumam Rangga.
Sementara Alisa cuek dan tidak perduli, seolah-olah Alisa balas dendam dengan apa yang dilakukan Rangga kepada dirinya tiga tahun lalu. Dimana selama enam bulan pernikahan mereka tidak sedikit pun Alisa meneguk madu , manisnya sebuah pernikahan mereka.
__ADS_1
Bagaimana cerita selanjutnya jangan lupa like dan komen ya agar autor semakin semangat up nya dan untuk yang sudah mendukung author dalam novel ini... author ucapkan terimakasih 🙏