
Sejak malam itu hubungan suami istri itu semakin harmonis dan semakin membuat rumah tangga mereka semakin bahagia.
Alisa sekarang sudah tidak sering lagi kekantor ikut suaminya karena sekarang dia sekarang lebih suka dirumah.
Tidak terasa dua bulan sudah berlalu Rangga juga semakin mencintai dan menunjukkan rasa cintanya itu kepada Alisa, seperti saat ini Rangga selalu makan siang dirumah jika tidak ada urusan kantor yang memaksa dia harus makan diluar.
"Sayang kamu mau makan apa?" tanya Alisa kepada Rangga.
"Mau makan kamu. Boleh?" Jawab Rangga dengan senyum devilnya.
"Sayang kok makan aku sih , aku kan bukan makanan" kata Alisa cemberut sambil memanyunkan bibirnya.
"Al..jangan marah dong...kamu itu memang makanan aku yang tidak akan pernah habis" kata Rangga sambil berdiri memegangi pundak Alisa.
"Kamu sih...masa bilang aku makanan"
"Sayang aku kan bercanda kamu kenapa jadi sensitif seperti itu sih, biasanya kamu ngimbangin candaan aku." Tanyanya heran pada Alisa.
"Canda kamu tidak lucu sayang, aku sebel. Ya sudah ini makanannya kamu makan" kata Alisa sambil menaruh makanan tepat di depan Rangga. Sambil melipat kedua tangannya.
"Sayang senyum dong masa aku makan kamu jutek gitu" kata Rangga yang tidak memulai makannya.
"Senyum dong sayang masa kamu jutek terus" rayu Rangga.
Alisa senyum terpaksa dan tidak ikhlas.
"Sayang yang ikhlas dong masa tidak ikhlas begitu" kali ini Rangga memohon pada Alisa.
Akhirnya Alisa senyum dengan ikhlas dan penuh perhatian dan menatap suaminya itu intens.
"Nah gitu dong baru keren namanya, kalau begini makanan ini akan terasa lebih enak" kata Rangga menggoda istrinya itu.
"Ya uda aku balik ke kantor lagi ya Al..." kata Rangga sambil mencium kening istrinya.
"Iya hati-hati ya mas" kata Alisa sambil mencium punggung tangan suaminya.
__ADS_1
Sore hari ketika Alisa selesai mandi sore dia duduk di halaman belakang rumah, namun kepalanya terasa pusing sekali hingga tidak tertahankan. Sakin sakit nya kepala Alisa hingga membuat Alisa kehilangan kesadaran. Alisa pingsan hingga Rangga pulang.
"Al... Al... dimana kamu sayang?" Panggil Rangga kepada istrinya itu. Namun tidak ada jawaban Rangga mencari dikamar juga tidak ada, di dapur juga tidak ada. Akhirnya dia melihat pintu taman belakang terbuka dan dia berpikir bahwa Alisa pasti disitu.
Benar saja Alisa tergeletak di lantai tidak sadarkan diri, Rangga panik dan membawa Alisa ke rumah sakit. Rangga mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi berharap cepat sampai ke rumah sakit.
Namun harapan dan kenyataan berbanding terbalik, keadaan jalan macet dan itu membuat Rangga prustasi takut keadaan Alisa semakin parah.
Rangga memutar arah mencari jalan alternatif dan akhirnya sampai juga di rumah sakit.
Rangga langsung menggendong istrinya dan melapor ke bagian UGD agar istrinya cepat ditangani.
Dokter datang dan memeriksa keadaan Alisa, dokter tersenyum melihat tingkah laku Rangga yang sangat panik dengan wajah pucat pasih serta ketakutan yang amat berlebihan.
"Pak bapak tidak perlu sekuatir itu, istri bapak tidak sakit kok, dia hanya sedang hamil" kata dokter menjelaskan.
"Apa...apa dok...istri saya hamil" Rangga tidak percaya.
"Iya dok, sebentar biar saya panggilkan dokter kandungan agar bapak lebih yakin" kata dokter berjalan untuk memanggil dokter kandungan.
"Selamat malam pak, saya dokter kandungan dirumah sakit ini. Saya akan kembali periksa istri bapak ya" sapa dokter kandungan itu.
"Sus... siapkan alat USG ya"perintah dokter itu.
"Baik dokter" kata suster dan menyiapkan alat USG.
"Pak istri bapak memang hamil kandungannya sudah berusia delapan Minggu. Ini yang titik kecil ini adalah calon bayi bapak" kata dokter sambil memperlihatkan layar monitor yang membentuk sebuah titik yang berbentuk seperti bibit bayam.
Rangga terharu mendengar perkataan dokter itu dan menciumi kening istrinya yang belum sadar "terimakasih sayang" katanya dengan air mata yang lolos dari pelupuk matanya.
Alisa membuka matanya dan melihat keseluruhan ruangan dan dia melihat suaminya dan berkata "aku kenapa mas...kamu kenapa nangis? Apakah aku mengidap penyakit yang serius sehingga kamu menangisi aku?" kata Alisa yang sekarang takut jika dia benar-benar mengidap penyakit berat.
"Tidak sayang kamu tidak sakit" kata Rangga sambil tersenyum melihat lekat ke dalam mata istri dan mencium kembali kening istrinya itu.
"Terus kenapa kamu nangis? Jelaskan mas aku sakit apa? Jangan ada yang ditutupi aku siap mendengar sekalipun umurku tidak lama lagi" kata Alisa dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kamu tidak sakit sayang , tapi kamu hamil dan kita akan menjadi orang tua"
Alisa yang mendengar perkataan suaminya itu tersenyum seakan tidak percaya "benarkah mas? Kamu tidak bohong?".
"Iya sayang kamu hamil" kata Rangga sambil terus menciumi kedua pipi Alisa.
" Iya ibu , saat ini ibu sedang hamil dan ibu istirahat yang cukup. Karena ini adalah Tri semester pertama jadi harus dijaga tidak boleh kecapekan dan stress" kata dokter Siska sambil menulis resep.
"Ini resepnya dan boleh tebus obatnya di apotik, sekali lagi selamat ya pak bu. Saya tinggal dulu , karena masih ada pasien lain yang membutuhkan saya" kata dokter Siska sambil tersenyum dan keluar dari ruangan itu.
Pasangan suami istri itu langsung pulang kerumah setelah menebus obat Alisa.
Ketika sampai di parkiran dimana mobil mereka berada , Rangga langsung membuka pintu mobil dan menuntun istrinya itu untuk masuk. "Hati-hati sayang".
"Kamu kenapa mas...kok jadi over gini, aku bisa kali masuk sendiri" kata Alisa protes.
"Sayang seorang penerus dari Rangga Dika Ananta bersemayam di dalam perut kamu, aku tidak mau terjadi sesuatu pada calon bayi kita" kata Rangga menjelaskan dan itu membuat Alisa cemberut.
"Ohh...jadi kamu hanya peduli sama calon bayi kita , sama calon mamanya tidak? Begitu maksud kamu?" Alisa sewot.
"Tidak begitu sayang...aku juga peduli dengan kamu. Aku juga berterimakasih kepada kamu karena sudah mau mengandung buah cinta kita" kata Rangga agar Alisa tenang.
"Bukannya kamu cinta anak dalam kandungan aku saja" protes Alisa.
"Tidak sayang aku sayang kalian berdua" kata Rangga sambil tersenyum.
Alisa juga tersenyum dan mengangguk dan memeluk suaminya.
"Kita jalan ya mas kerumahnya mama aku mau ngabarin mereka tentang kehamilan aku ini" kata Alisa bersemangat.
"Kamu istirahat dulu dirumah kita besok baru kita kesana , karena dokter Siska bilang tadi kamu harus istirahat". Titah Rangga yang tidak bisa di ganggu gugat.
" Iya baik mas" jawab Alisa sambil mengerucutkan bibirnya tanda kesal
Rangga melajukan mobilnya dan dalam perjalanan Alisa tertidur entah bawaan bayi atau memang dia lelah karena berdebat dengan Rangga suaminya.
__ADS_1
Bagaimana cerita selanjutnya jangan lupa like dan komen ya agar autor semakin semangat melanjutkan ceritanya 😊
maaf lama up karena lagi sibuk buat soal ujian untuk mencerdaskan anak bangsa. ooh ya bab 43 tidak ada karena tidak lulus review karena di bab itu adalah bab dimana proses pembuatan baby jadi tidak lulus sensor 😀😀😀