Penyesalan Tak Berujung

Penyesalan Tak Berujung
19. Foto dalam dompet


__ADS_3

Tepat pukul delapan pagi Alisa sampi di kantor Tommy tempat dia bekerja yang lebih tepat lagi tempat dia mencari pelarian untuk menghindari kebosanan.


" Selamat pagi pak " katanya kepada Tommy yang sekarang adalah atasannya.


" Ahh kamu Al, kenapa harus seformal itu panggil saja aku Tommy, atau mas karena na aku lebih tua sedikit dari kamu " Tommy memberi penawaran.


" Ahh tidak bisa seperti itu pak , ini kantor jadi kita harus profesional. Hubungan kita antara bawahan dan atasan " tegas Alisa.


" Ok terserah kamu saja yang mana yang membuat kamu nyaman " seulas senyum terlukis indah di bibir tipis Tommy.



" Dari dulu kamu tidak berubah selalu teguh dalam pendirian, itu yang membuat aku semakin jatuh cinta dan tertantang ingin memiliki mu sejak dulu " kata Rangga lagi kepada Alisa yang sekarang terkejut mendengar penuturan Tommy.


" Kamu jangan macam-macam aku kini sudah menjadi nyonya Rangga Dika Ananta jadi buang jauh- jauh perasaan itu " jelas Alisa kepada Tommy berharap lelaki itu membuang jauh perasaan itu.


" Kamu tahu Alisa aku sudah mencoba berbagai cara agar aku melupakan mu, dan terakhir aku kerumah mu bersama mama ku dulu. Waktu itu kamu masih SMA dan kebetulan kamu tidak dirumah. Aku mencuri sesuatu dari dalam rumah mu dan hingga sekarang aku masih menyimpan nya dengan rapi di dompetku. Aku selalu berharap aku bisa mendapatkan mu dan menjadikan mu kelasihku" ujar Tommy sambil mengingat masa itu.


" Maksud kamu ? Apa yang kamu curi dan kenapa bisa ditaruh dalam dompet ?" Alisa berfikir "mana mungkin barang berharga bisa di taruh didalam dompet dan kenapa harus mencuri kamu kan bukan orang yang kekurangan kamu malah berlebih " Alisa bertanya penuh keheranan.


Tommy menunjukkan sebuah foto ke arah Alisa.



" Inikan foto waktu SMA waktu itu malam prom night saat itu, kenapa kamu mencurinya? Untuk apa ?" Begitu terkejutnya Alisa dengan apa yang sekarang dilihatnya ternyata seorang Tommy sudah lama mengagumi dirinya.


" Waktu itu aku berpikir ketika melihat foto mu yang terpajang itu, aku berharap bisa memiliki mu. Sejak aku kembali dari luar negeri dan menetap kembali di Indonesia aku langsung mendatangi mu berharap kamu masih sendiri. Tapi...ternyata aku salah aku hanya bisa menjadikan mu teman " Tommy hanya tersenyum kecut dan melihat Alisa yang tertunduk malu.


" Aku hanya bisa menelan pil pahit karena kini kamu dimiliki lelaki yang tidak pernah mencintai kamu. Miris bukan " kata Tommy menatap manik mata Alisa.


" Sudah aku tidak mau bahas lagi. Ini berkas yang kamu perlukan " Alisa menyerahkan dan menaruhnya di atas meja kerja Tommy dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Tommy dengan angan-angan yang sedari tadi menguasai dirinya.


Setelah berada di ruangan kerjanya Alisa langsung menyibukkan diri dengan pekerjaan yang masih menumpuk.


Tililit...tililit..tililit....

__ADS_1


Telepon kantor yang ada di atas mejanya berbunyi dan dia sangat tahu itu panggilan dari Tommy karena telepon itu hanya melayani panggilan dari Tommy. Itu khusus untuk Tommy yang merupakan seorang direktur di perusahaan Adma jaya group.


" Ya pak " jawab Alisa ke bosnya itu.


" Kamu ikut saya , untuk mengikuti rapat bersama pengusaha-pengusaha properti yang akan diselenggarakan nanti jam satu setelah jam makan siang di gedung Antara Palma " sebelum Alisa menjawab Tommy kembali berucap. " Kamu siapkan semua apa-apa yang kita butuhkan".


Deg...


" Baik pak " Alisa menginyakan dengan nada yang tidak bersemangat karena dia tahu disana dia akan bertemu dengan Rangga.


********


Di gedung Antara Palma Tommy dan Alisa duduk bersama dan di meja lain yang tidak jauh dari mereka duduk saat ini ada Rangga dan asistennya Ari.


Tommy membisikan sesuatu kepada Alisa " Al..lihat suami mu memandang ke arah kita dan perhatikan wajahnya mulai masam ".



Alisa langsung memandang ke arah suaminya dan tatapan mereka sama-sama bertemu , namun Alisa langsung menunduk karena dia takut melihat tatapan mata Rangga.


" Kamu yang maju ya Al, aku yakin kamu pasti bisa , aku serahkan dan aku berharap ke kamu untuk memenangkan proyek ini " Tommy memegang tangan Alisa memberi semangat.


Rangga yang melihat Tommy menyentuh istrinya langsung panas dan membuka jasnya, karena kegerahan menatap tajam ke arah Tommy.



Tommy yang melihat Rangga seperti marah langsung bereaksi. Dia memoyongkan mulutnya dan ternyata reaksinya itu membuat panas Rangga.



Alisa berjalan menuju tempat untuk dia berprestasi dan dia sangat menguasai materi yang dia bawakan, sehingga semua orang yang berada disitu terkesima dengan penjelasannya Alisa yang dianggap sangat sempurna, tidak terkecuali Rangga yang takjub dengan kemampuan Alisa istrinya yang berbicara dan berinteraksi dengan orang dan sangat terlihat profesional.


Padahal yang Rangga tahu Alisa adalah seorang yang sangat pemalu dan jarang mau ikut campur tangan soal pekerjaan dikantor papanya yaitu pak Brata.


" Kenapa dia bisa menjadi sepintar ini" gumam Rangga dan Ari sang assiten juga ikut memuji istri bosnya itu.

__ADS_1


" Aduh pak ibu sangat berbakat , mereka pasti bisa menang dalam proyek ini apalagi biaya yang mereka tawarkan jauh lebih rendah dari kita " kata Ari kepada bosnya yang sekarang ikut dengan Rangga dan juga mengenal Alisa.


Rangga melihat istrinya itu tak jua berkedip dan dia tidak mendengar celotehan Ari sang asisten.


Alisa duduk setelah menyampaikan semua ide dari perusahaan nya. Alisa langsung menghadap Tommy seraya bertanya " bagaimana pak , apakah memuaskan hasilnya?".


Dengan mengangkat ke dua ibu jarinya ke arah Alisa dan berkata "bagus sekali Al, kita pasti menang dan akan mengalahkan perusahaan suamimu. Aku suka penampilan kamu sungguh sempurna" kembali senyum indah terukir dibibir Tommy.


" Terimakasih pak " Alisa pun tersenyum mendengar pujian dari bosnya itu.


Rangga yang melihat keakraban antara Tommy dan istrinya membuat Rangga semakin "Gegana" gelisah galau merana, dia tidak terima namun tidak bisa berbuat apa-apa karena selama ini juga Rangga tidak pernah memperlakukan Alisa dengan baik, jadi bagaimana dia bisa marah atau sekedar melarang istrinya untuk dekat dengan orang lain, apa lagi Tommy adalah bosnya.


Setelah semua peserta yang rapat dalam ruangan itu selesai mempresentasikan hasil kerja mereka akhirnya keputusan dibacakan dan yang memegang tender besar itu jatuh ke perusahaan Tommy yaitu Adma Jaya Grup.


Semua memberi tepuk tangan dan semua setuju karena memang konsep Adma Jaya Grup sangat baru dan lebih menarik semua pemilik saham.


" Al...ini semua berkat kamu , aku akan kamu kasih bonus besar " kata Tommy sambil mengulum senyumnya ke arah Alisa.


" Terimakasih pak " di iringi anggukan sopan Alya memberi hormat kepada Tommy.


Jam kantor sudah berakhir dan secara tiba-tiba, tangan Alisa ada yang mencekal dan dia berbalik melihat siapa yang mencekal tangannya dan hampir dia marah serta memaki. Cekalan itu sangat sakit dan memberi bekas dilenganya. Sebelum dia marah dia terkejut dengan orang yang memegangi tangannya itu.


" Mas Rangga " pekiknya karena kaget melihat sosok yang mencekal tangannya.


" Kamu pulang dengan aku, lagian kamu sudah selesai dengan tugas kamu sebagai sekertaris si cunguk Tommy ini kan " sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Tommy.


" Es....jangan kasar brother dan jangan sentimen seperti itu , aku tahu kok ini sudah selesai jam kantor dan aku juga tidak akan menyuruh karyawan aku untuk kerja lembur. Tapi...aku juga tidak mungkin menolak untuk untuk dia mau lembur, itu terserah saja. Lagi pula karyawan aku yang cantik ini sudah membantu aku memenangkan tender dengan nilai milyaran jadi aku sangat berterimakasih." Senyum devil Tommy terukir dan Tommy bisa mastikan bahwa Rangga saat ini sedang meradang.


"Aku tidak mau ikut kamu mas, aku mau ambil barang bawaan aku yang tertinggal dulu dikantor" sambil melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rangga.


" Upss...kasihan ditolak ya mas?" Nada mengejek terdengar dari kalimat Tommy dan itu semakin membuat Rangga geram.


"Pak Tommy ayo kita kekantor dulu pak dan selesai itu apak harus mengantarkan saya bertemu dengan Intan ya pak " kata Alisa dan itu menambah ke geraman pada Rangga.


Bagaimana cerita selanjutnya ,apa penasaran dengan cerita saya, jangan lupa like dan komen 😊🙏

__ADS_1


__ADS_2