Penyesalan Terdalam Seorang Suami

Penyesalan Terdalam Seorang Suami
Telepati


__ADS_3

"Maaf ya untuk ketidak nyamanan ini." ucap Rohana pada tamunya.


"Ada apa Tante, Tante baik-baik saja." Tanya Clarissa pada Rohana yang kala itu kembali ke ruang tamu dengan wajah pucat.


"Aku tidak apa apa Clarisa. Tante baik baik saja."


Dan akhirnya, dengan sedikit rasa menahan rasa malu. Rohana mengutarakan apa yang harusnya ia utarakan.


"Maaf ya Haris, Jeng dan juga kamu Carissa. Aku sungguh minta maaf. Sepertinya saat ini bukan moments yang tepat untuk membicarakan perjodohan. Karena Gabriel sepertinya sedang tidak dalam suasana hati yang bagus. Mungkin dia banyak masalah di kantor. Sehingga penyambutannya untuk acara malam ini jadi sedikit tidak baik. Aku sungguh minta maaf." ujar Rohana pada tamunya.


Haris dan istrinya pun kini saling tatap. Sedangkan Clarissa seperti sudah bisa menebak tanggapan apa yang dirasakan oleh Gabriel tentang rencana perjodohan mereka saat ini.


"Tidak apa-apa Rohana. Kalau begitu kami pulang dulu ya." ucap Ibu Clarissa. Kemudian memberi kode pada suami dan anaknya untuk undur diri.


"Sebaiknya kita makan malam dulu. Aku sudah siapkan makan malam yang spesial untuk kita nikmati. Semua sudah siap di meja makan. Ayo kita ke meja makannya." ajak Rohana pada tamunya.


"Tidak perlu repot-repot Rohana. Kami sebaiknya langsung pamitan saja. Kami tidak ingin mengganggu ketenangan kalian. Sebaiknya kamu jangan paksakan Gabriel. Jika dia memang tidak setuju dengan perjodohan ini. Ini bukan kali pertamanya Gabriel tidak antusias dengan niatan kita. Sebaiknya tidak usah lagi menjodohkan Clarissa dengan Gabriel. Sebagai orang tua, kami tidak mau putri kami tidak di sambut dengan baik di hari Gabriel." Jelas Ibu Clarissa menjelaskan.


"Jangan patah semangat Jeng. Gabriel pasti akan bisa menerima Clarissa. Dia hanya butuh waktu."


"Sebaiknya tidak usah dipaksakan Rohana. Jika dipaksakan, aku khawatir pernikahan mereka nanti tidak akan langgeng." imbuh Haris, yang juga ikut angkat bicara.


Dan Clarissa hanya bisa diam. Sejak dulu Clarissa memang sudah suka dengan Gabriel. Hanya saja Gabriel tidak pernah menganggapnya spesial.


Setelah menolak untuk diajak makan malam bersama. Clarissa dan kedua orang tuanya pamit pulang.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Berada di kamarnya, Gabriel masih terasa sesak dadanya ketika ia tadi sempat bersitegang dengan sang Mama.


Masih punya batas kewarasan. Gabriel tidak ingin terlalu keras kepada sang Mama.

__ADS_1


Bagaimanapun dia tetap harus menaruh hormat kepada sang Mama. Meskipun sang Mama sangat menentang dan juga begitu membenci sang istri Nandini.


Gabriel pun juga tidak bisa memaksakan agar sang Mama menyukai wanita pilihannya. Meskipun sekarang hubungannya dengan Nandini menjadi berantakan.


Jika dicari siapa yang paling bersalah untuk semua kejadian yang sudah terjadi. Yang paling bisa disalahkan adalah dirinya sendiri.


Gabriel lebih menyalahkan dirinya sendiri. Karena dari awal kesalahpahaman itu datang. Semua terjadi karena ia telah termakan oleh omongan sang Mama. Dan ia juga langsung mempercayai apa yang sudah di katakan oleh Mamanya.


Hati dan pikiran Gabriel saat ini di penuhi dengan rasa frustasi yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Gabriel hanya bisa memendam rasa penuh penyesalan yang begitu menyesakkan itu di hatinya.


Tidak hanya rasa sesal dan kesal yang Gabriel rasakan. Tapi ia juga rindu setengah mati pada pujaan hatinya.


Rindu yang begitu menderu kepada sang istri yang sangat ia cintai sudah tidak bisa diukur seberapa dalam dan besarnya.


Karena semakin hari, Gabriel justru semakin mencintai wanita yang kini tidak lagi bersamanya itu.


Sempat merasakan kesal dan juga marah terhadap Nandini karena hasutan sang Mama. Tidak lantas membuat cinta Gabriel berkurang.


Sayang ku Nandini, dimana kamu sekarang. Aku sangat merindukanmu mu.


Aku sangat menghawatirkan mu sayang.


Selama kau berada jauh dari jangkauan ku. Dan aku tidak tau dimana kamu sekarang berada. Semua itu sungguh menyiksa ku.


Hari hari ku berlalu sangat buruk selama kamu tidak ada.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Bandung

__ADS_1


Berada di kamar kostnya. Nandini yang kala itu sedang tiduran di kasur lantai miliknya tampak merenung.


Sekelebatan, wajah sang suami Gabriel selalu berputar-putar di wajahku.


Kelembutan dan juga kehangatannya yang pernah di berikan oleh sang suami padanya masih sangat bisa Nandini rasakan. Meskipun saat ini dirinya telah jauh dari Pria yang sampai sekarang masih berstatus sebagai suaminya itu.


Kira-kira kamu saat ini sedang apa Mas.


Aku harap kamu baik-baik saja di sana. Aku harap kamu juga selalu sehat. Jujur ya Mas, aku sangat merindukan berbagai moments kebersamaan kita.


Kita selalu bersama-sama setiap hari. Berangkat dan pulang bekerja bersama.


Setelah lelah bekerja seharian. Kita selalu menikmati waktu kebersamaan di kamar.


Bersenda gurau, bercengkrama, memadu kasih. Dan pastinya kau selalu menyediakan pundak mu untuk mendengar aku berkeluh kesah.


Dan Mas selalu menjadi pendengar yang baik untuk semua celotehan ku.


Mas selalu bisa meringankan beban hati dan jiwaku. Sehingga gundah gulana yang aku rasakan lenyap setelah aku curhat pada mu.


Dan mas pun adalah sebaik-baik penjaga rahasia ku. Jujur, aku sangat merindukan masa-masa itu Mas.


Mungkin ini adalah ujian cinta kita. Aku hanya memasrahkan semua apa yang terjadi ini kepada Tuhan.


Jika Tuhan masih memberikan kesempatan untuk menyatukan kita. Kita pasti akan dipertemukan kembali dengan caraNya Mas.


Tapi untuk saat ini. Hidup masing-masing mungkin adalah hal yang terbaik untuk kita berdua.


Agar kita bisa lebih memaknai seberapa besar cinta kita masing-masing. Dan seberapa dalam ikatan cinta kita.


Tapi, jika seandainya Mas ternyata melupakan aku. Aku iklas melepaskan Mas.

__ADS_1


Mas pantas bahagia dengan wanita yang mungkin sangat di sukai Mama untuk di jadikan menantu.


__ADS_2