
Tidak butuh waktu yang lama. Nandini kini telah sampai di depan kamar hotel sang suami.
Dengan masih mengenakan seragam housekeeping nya. Sebuah blazer warna hitam dan dipadukan dengan kemeja warna putih. Serta masih mengenakan rok span selutut yang selalu ia kenakan untuk bekerja. Nandini tengah berdiri di depan pintu kamar hotel Gabriel.
Mendengar bunyi bel dari pintu kamar hotelnya. Langsung membuat hati Gabriel menghangat.
Gabriel yang kini sudah melepaskan kemejanya. Sengaja menggaruk-garuk beberapa bagian di tubuhnya. Sehingga garukan itu menimbulkan bekas luka memerah di tubuhnya.
Dan hal itu Gabriel sengaja lakukan demi bisa membuktikan jika dirinya terkena alergi.
Padahal itu hanya akal-akalan Gabriel yang sengaja menggarukkan tangannya ke leher, lengan dan beberapa bagian tubuhnya yang lain.
Setelah memastikan dirinya telah beraktingn dengan sempurna. Gabriel kemudian membuka pintu kamar hotel.
Begitu Gabriel membukakan pintu kamar hotel. Seorang wanita cantik berdiri di sana. Pemandangan itu langsung membuat hati Gabriel hangat dan juga bergelora.
Kehadiran Nandini di hadapannya membuat Gabriel panas dingin sekarang. Karena wanita yang ia sangat mencintai kini telah berada dalam kekuasaannya di kamar hotel.
"Hai sayang, masuklah." ucap Gabriel dengan suara bergetar. Kemudian ia memberikan jalan kepada Nandini untuk masuk ke kamar hotelnya.
Setelah memastikan Nandini masuk. Gabriel langsung menutup pintu kamar hotel dan juga langsung mencabut kartu akses kamar.
Hal itu ia lakukan untuk berjaga-jaga. Jika Nandini berulah dan memaksa diri untuk keluar dari kamar hotelnya.
Tentu saja ia tidak akan mengizinkan itu terjadi.
Karena saat ini ada banyak misi yang sedang ingin Gabriel lakukan terhadap istrinya tersebut.
__ADS_1
"Katakan ada apa mas? Apa yang bisa aku bantu sekarang. Dan jangan memberikan aku alasan konyol. Aku tahu mas berbohong kan. Untuk kasus alergi itu." sergah Nandini.
"Apa-apaan sih sayang. Aku benar-benar alergi. Kamu tidak lihat, ini tubuhku memerah." ucap Gabriel seraya menunjukkan beberapa luka merah di tubuhnya.
Nandini pun kemudian memperhatikan tubuh sang suami yang kala itu sudah tidak lagi mengenakan baju. Dan sang suami hanya mengenakan sebuah celana panjang santai.
Saat Nandini memperhatikan tubuh sang suami yang kekar berotot itu. Tanpa Nandini sadari. Menimbulkan sebuah desiran aneh pada dirinya. Sebuah perasaan dan hasrat yang sudah lama ia tidak melihat itu dari dalam dirinya.
Karena sudah lama ia tidak melihat tubuh telanjang sang suami yang memiliki bentuk tubuh yang atletis tersebut.
Ketika desiran aneh yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya makin besar. Nandini langsung berusaha untuk dikendalikan diri. Agar perasaan itu tidak menguasai dirinya.
"Mana ada alergi seperti itu. Itu hanya akal-akalan mas kan. Mas kan yang telah mencakar-cakar tubuh mas sendiri. Jangan kejam sama diri sendiri mas. Aku tau itu bukan merah karena alergi. Tapi itu luka cakaran." tebak Nandini.
Tau jika Nandini telah bisa menembak jika ia hanya berakting dan juga kebohongannya. Gabriel tidak bisa lagi mengelak.
Selangkah demi selangkah, kini Gabriel mendekati sang istri. Yang kala itu mereka masih sama-sama berdiri di dekat pintu masuk kamar hotel.
"Kamu tidak hanya cantik, tapi kamu itu memang wanita yang cerdas dan juga pintar Nandini." bisik Gabriel. Yang tahu-tahu ia sudah berada dekat di hadapan Nandini. Mereka kini saling berhadap-hadapan.
Perasaan Nandini mulai tidak karuan. Hatinya berdebar-debar dan makin memanas. Jantungnya pun kini semakin berdetak kencang.
Desiran dari dalam dirinya kembali menyeruak ke permukaan. Bahkan sudah menguasai dirinya.
Apalagi tatapan mata Gabriel pada dirinya seperti tatapan memangsa sekaligus memuja.
Perlahan-lahan, Gabriel yang sudah menghimpit Nandini ke tembok itu. Kemudian melepaskan tas yang masih melekat di pundak Nandini. Gabriel kemudian meletakkan tas itu kelantai dengan asal.
__ADS_1
Paham jika saat ini dirinya dalam situasi yang terkekang. Membuat Nandini ingin keluar dari situasi yang sudah membuatnya panas dingin tersebut.
"Mas, aku harus segera pulang. Tidak seharusnya aku datang ke sini tadi." ucapkan Nandini yang kemudian ingin melepaskan diri dari hadapan Gabriel.
Tapi sepertinya itu telah terlambat. Karena saat ini Nandini sudah berada di tangan sang pemangsa.
"Jangan buru-buru kabur sayang. Aku tidak akan melukaimu. Aku tidak akan menyakitimu. Tapi justru sebaliknya. Aku ingin memberikan kamu kebahagiaan." tutur Gabriel yang tidak mengalihkan perhatiannya ke wajah Nandini sedikitpun.
Iris mata memuja Gabriel tidak teralihkan sedikit pun dari memandangi iris mata Nandini.
Tatapan itu begitu menghujam relung-relung hati dan jiwa wanita yang baru saja move on dari rasa sakit yang di timbulkan oleh suaminya sendiri itu.
Tubuh Nandini makin terdesak oleh rangsekan tubuh Gabriel yang semakin menghimpitnya.
Hingga tubuh mereka kini sudah bagaikan kepingan puzzle yang melekat pas.
Dorongan tubuh Gabriel semakin di rasakan oleh tubuh Nandini. Tidak hanya tumbuh Gabriel yang semakin mendesaknya. Tapi kini tangan Gabriel juga sudah menyentuh bibirnya.
Nandini menjadi bisu dibuatnya. Tubuhnya seperti membeku. Mulutnya tidak bisa berkata-kata. Dan ia hanya bisa berpasrah saat Gabriel semakin mendekatkan bibirnya ke mulutnya.
Satu sapuan lembut bibir Gabriel menyapu bibir Nandini. Saat Gabriel memberi tekanan pada ciumannya. Yang memaksa bibir Nandini untuk terbuka. Nandini yang juga sudah di bakar hasrat itu tidak kuasa untuk tidak membuka mulutnya. Dan Nandini pun menyerah. Untuk mempersilahkan sang pemilik kehormatan untuk meneguk manisnya pagutan ciuman mesra mereka kala itu.
Dan tidak bisa terelakkan lagi. Kini bibir Nandini berada dalam kekuasaan penuh Gabriel.
Jangan lupa mampir ke karya ku yang lain 🥰🙏
__ADS_1