
Kini Rohana telah benar-benar sembuh dari sakitnya. Setelah keadaan Rohana membaik. Rohana sudah diizinkan pulang dari rumah sakit.
Dua hari kemudian. Siang itu setelah makan siang. Dengan menaiki mobilnya. Gabriel berencana untuk pergi ke Bandung untuk menjemput sang istri.
Kedatangannya ke Bandung sama sekali tidak ia beritahukan kepada Nandini. Karena ia ingin memberikan kejutan kepada sang istri.
Banyak kejutan yang ingin Gabriel ceritakan kepada Nandini. Dan ia ingin menceritakannya langsung pada Nandini tanpa ingin memberi tau nya melalui sambungan telepon.
Setelah kurang lebih lima jam mengendarai mobil dari Jakarta ke Bandung. Gabriel telah sampai di tempat kost Nandini ketika waktu telah jelas petang.
Ketika itu Nandini sendiri baru saja sampai di kamar kostnya. Setelah seharian penuh ia bekerja.
Ketika Nandini baru saja hendak ke kamar mandi. Sebuah ketukan pintu menyita perhatiannya.
Sejenak Nandini berpikir. Siapa yang berani mengetuk pintu kamarnya pada malam hari seperti ini. Selama ini tidak ada seorangpun yang berani mengetuk pintu kamarnya kecuali Gabriel yang sudah tahu ia ngekost di situ.
Dari balik pintu, Nandini bersuara menanyakan siapa mengetuk pintunya.
Ketika Gabriel menyahut jika dirinya lah yang datang. Begitu mendengar suara sang suami berada di balik pintu. Dengan antusias dan hati yang gembira Nandini langsung membukakan pintu.
Begitu pintu itu dibuka, Nandini langsung meraih tubuh sang suami dan memeluknya. Kemudian Nandini memeluk Gabriel dengan begitu erat.
Gabriel sendiri merasa sedikit terkejut. Karena tidak biasanya sang istri sangat antusias menyambut dirinya.
Mendapatkan sambutan yang istimewa dari sang istri membuat hati Gabriel ikut senang. Ia pun kemudian mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Aku merindukanmu sayang." ucap Nandini, berbisik pada Gabriel. Ketika mereka masih saling berpelukan di ambang pintu.
"Jangan di sini pelukannya, kita teruskan di dalam saja. Malu juga dilihat orang."bisik Gabriel. Spontan Nandini pun langsung menarik pelukannya. Karena ia baru sadar. Jika ia berpelukan dengan sang suami diambang pintu
Nandini kemudian menyuruh Gabriel untuk masuk dan kemudian ia menutup pintu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Mas ke Bandung kok nggak bilang-bilang. Kenapa tidak menelpon ku? Dan tidak memberitahu jika Mas mau datang ke Bandung!" Nandini mendorong berbagai pertanyaan itu kepada Gabriel.
"Aku sengaja tidak memberitahumu sayang. Aku ingin memberi kejutan untukmu." jawab Gabriel santai sambil tersenyum tipis.
Kemudian ia melepaskan jaket yang ia kenakan. Dan kemudian disambut oleh Nandini yang meraih jaket sang suami.
"Ya begitulah sayang. Aku sengaja tidak ajak sopir. Aku mau setir sendiri sambil menikmati waktu dengan mu." timpal Gabriel yang kemudian merebahkan tubuhnya ke kasur lantai Nandini.
"Kenapa tidak temui di hotel mas. Mas kan sekalian bisa menginap di hotel."
"Kata siapa aku mau nginap di hotel. Aku mau nginap di sini. Aku tidak butuh hotel. Disini adalah tempat paling nyaman." jawab Gabriel.
"Terserah mas lah. Aku juga baru pulang kerja. Mas pasti lapar, aku keluar dulu ya. Aku cari makan untuk mas." seru Nandini, yang terlihat begitu gugup dengan kedatangan sang suami yang begitu mendadak.
"Sudah jalan repot-repot. Kita order makanan saja nanti. Kamu juga pasti capek kan, baru pulang kerja. Soal makan gampang. Kalau tidak mau order makanan nanti aku yang keluar cari makan. Sudah duduk sini sayang. Aku kangen sama kamu." Gabriel mulai bersikap manja.
"Aku kotor mas, tubuh ku lengket. Aku mau mandi dulu. Sebelum mandi aku mau buatkan mas El teh hangat. Agar capek mas El hilang." ujar Nandini yang kemudian ia membuatkan minuman buat Gabriel.
__ADS_1
Nandini kemudian menyalakan sebuah teko listrik yang ada di kamarnya dan ia membuatkan teh hangat untuk sang suami.
"Terima kasih sayang." ucap Gabriel ketika menerima secangkir teh hangat yang dibuat oleh Nandini.
"Ceritanya nanti ya mas. Aku mandi dulu."ucap Nandini, kemudian ia meraih handuk dan berlalu ke kamar mandi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Oke, sekarang ceritakan. Bagaimana mas El bisa sampai di Bandung. Pasti ada sesuatu yang penting. Kalau tidak ada yang penting. Tidak mungkin mas nekat kesini malam malam begini." sergah Nandini yang kini sudah duduk bersebelahan dengan Gabriel.
"Mas ke sini memang ada tujuannya. Yang pertama, karena mas sudah sangat kangen sama istri mas yang cantik ini." ucap Gabriel sambil mencubit hidung mancung Nandini.
"Yang kedua, aku kesini untuk menjemput mu sayang. Kembalilah ke Jakarta. Aku membawakan pesan permohonan maaf dari mama untuk mu." mendengar hal itu membuat Nandini terkesiap.
"Maksudku mas?"
Gabriel kemudian menceritakan kepada Nandini tentang apa yang sudah dikatakan oleh mamanya. Tentang berbagai macam penyesalan dan rasa bersalah yang mamanya rasakan terhadap Nandini dan juga untuk hubungan mereka yang telah lalu.
Gabriel menceritakan semuanya. Dan juga menyampaikan pesan permintaan maaf sang mama untuk Nandini.
Nandini sendiri tidak menyangka, jika sang mama mertua bisa berubah pikiran secepat itu.
Setelah bertahun-tahun lamanya hubungannya dengan Gabriel tidak mendapatkan lampu hijau.
Dan puncaknya ketika ia pergi meninggalkan rumah besar. Rumah yang pernah Nandini anggap sebagai rumah neraka. Karena berada di dalamnya sama sekali membuat Nandini tidak bahagia. Karena ia tau, ia sangat di benci dengan mama mertuanya, Rohana.
__ADS_1