
Semua harus berjalan sempurna. Aku harus bisa membuat kesan bahwa pertemuan ku dengan Nandini adalah sebuah pertemuan yang tidak di sengaja.
Jika aku langsung menemuinya. Pasti Nandini akan curiga padaku. Dan pasti dia akan menghindari ku.
Kemudian Gabriel terdiam sambil berpikir.
Sejurus kemudian, wajah Gabriel nampak sumringah.
Sepertinya ia sudah menemukan ide dan cara bagaimana untuk membuat pertemuan di antara dirinya dan Nandini merupakan pertemuan yang tidak di sengaja.
Aku tau apa yang harus aku lakukan
Sambil tersenyum, Gabriel kemudian berdiri dan meningalkan cafetaria untuk kembali menuju kamar hotelnya.
Berada di kamar hotelnya. Gabriel nampak mondar-mandir.
Ia kembali menimbang nimbang. Apakah ide itu cukup efektif untuk bisa mempertemukan dirinya dan sang istri.
Setelah yakin dengan ide yang ia gagas. Gabriel kemudian berjalan ke kamar mandi.
Sampai di kamar mandi. Gabriel nampak mengambil tissue yang ada di kamar mandi.
Kemudian, dengan mengunakan tissue itu. Gabriel sengaja menyumbat lobang yang ada di kamar mandi dengan tissue yang sudah ada di tangannya.
Gabriel sengaja membuat saluran air yang ada di kamar mandi itu menjadi tersumbat.
Dengan menaruh sebanyak-banyaknya tissue yang Gabriel sumpalkan ke lubang pembuangan air yang ada di kamar mandi. Otomatis, membuat saluran air itu menjadi terhambat.
Gabriel tidak peduli jika mungkin nanti pihak hotel akan meminta pertanggungjawaban atas tindakannya tersebut.
Karena yang Gabriel inginkan saat ini adalah untuk bisa bertemu dengan sang istri Nandini.
Setelah melakukan aksi pertamanya. Kini Gabriel melakukan aksi kedua. Yaitu menghubungi layanan servis kamar hotel.
Menekan nomor layanan servis kamar hotel. Gabriel berniat untuk melakukan komplin.
__ADS_1
Lewat sambungan tersebut, Gabriel sengaja meminta petugas kepala kebersihan untuk datang ke kamarnya. Untuk di lakukan pengecekkan. Karena saat ini Gabriel sudah tau jika Nandini berprofesi sebagai eksekutif housekeeping di hotel tersebut.
Komplain yang di lakukan oleh Gabriel pun segera di tindak lanjuti oleh petugas hotel.
Oleh petugas hotel, aduan yang dilakukan oleh Gabriel kemudian tersambung dan sampai pada Nandini yang saat itu sedang berada di sebuah kamar hotel yang lain pada sore itu.
Mendapat laporan jika di kamar hotel nomor 1015 sedang mengalami masalah. Seketika membuat Nandini langsung bergegas untuk menuju kamar tersebut. Untuk ia lakukan pemeriksaan.
Aku baru mengecek kamar 1015 dalam kondisi baik sehari lalu. Memangnya ada kendala apa di sana. Nandini membatin.
Karena hal itu sudah menjadi tugasnya. Nandini pun tidak ingin membuang waktu segera pergi ke nomor kamar hotel tersebut.
Sesampainya di kamar tersebut. Tepat saat Ia sudah berada di depan pintu kamar. Nandini kemudian menekan bel pintu kamar itu.
"Selamat sore, ada yang saya bantu." ucap Nandini ramah dan sopan. Dan, sejurus kemudian. Wajah Nandini berubah pias.
Perhatian mata Gabriel begitu menatap iris mata Nandini untuk pertama kalinya sejak mereka berpisah. Seolah-olah seperti ia sedang menatap wanita yang membuat ia jatuh cinta pada pandangan pertama.
Getaran, debaran, dan rasa hangat itu seolah-olah telah menjalar keseluruhan tubuh Gabriel.
Mata Nandini yang bulat penuh itu. Terpusat perhatiannya pada seseorang yang baru saja membukakan pintu kamar hotel untuk nya.
Seorang Pria yang tidak asing lagi baginya. Seorang pria yang sudah meluluhlantahkan hati dan perasaannya ketika ia meninggalkan rumah besar.
Pria yang telah menikahinya selama kurang lebih 9 bulan itu kini ada di hadapannya sekarang.
Pria yang membuatnya jatuh cinta dan juga Pria yang membuat dirinya terluka dan juga kecewa
"Nandini." sebut Gabriel, sengaja memasang wajah terkejut.
"Sedang apa kamu di sini Mas." tanya Nandini, saat mereka masih sama-sama berada di ambang pintu kamar hotel.
"Aku ke sini ada urusan bisnis, urusan pekerjaan. Aku menginap di hotel ini. Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan di sini Nandini." Tanya Gabriel berpura-pura tidak tahu.
Sejenak, Nandini memberanikan diri untuk memperhatikan wajah sang suami. Saat Nandini memperhatikan dirinya. Gabriel nampak mengulas senyum tipis.
__ADS_1
Nandini kemudian menghela nafas panjang. Baru saja ia bisa menikmati ketenangan. Tapi kini ia kembali bertemu dengan suaminya. Seseorang yang sangat ingin ia hindari saat ini. Wanita cantik berusia 27 tahun itu hanya bisa pasrah dan menghela nafas panjang.
Untuk beberapa menit. Nandini hanya menundukkan wajahnya. Ia menunduk seakan-akan ia tengah berpikir. Kata apa yang akan ia ucapkan kepada sang suami yang saat ini yang sudah berada di depannya.
"Maaf, aku harus bersikap profesional. Tadi, anda menghubungi customer servis yang di hotel ini. Dan mereka mengatakan bahwa kamar mandi anda mampet saluran airnya. Saya datang kemari untuk memeriksanya."
"Iya, sepertinya saluran air nya mampet. Bicara biasa saja dengan ku Nandini.. Tidak perlu formal."
"Saya tetap harus bekerja secara profesional. Karena anda adalah costumer kami. Maka kami harus bersikap profesional pada pelanggan."
"Terserah kamu Nandini."
"Boleh saya memeriksanya?"
"Tentu saja. Masuklah." Gabriel kemudian memberikan jalan kepada Nandini untuk bisa masuk ke kamar hotelnya.
Setelah Nandini masuk. Gabriel kemudian langsung buru-buru menutup pintu kamar hotelnya. Bahkan dia mencabut kartu akses kamar.
Melihat pintunya ditutup. Nandini kemudian membalikkan tubuhnya ke belakang.
"Kenapa pintunya di tutup." Tanya Nandini penuh dengan rasa curiga.
"Tidak masalahkan di tutup."
"Aku, maksud ku, saya adalah petugas hotel. Jika ada petugas hotel yang ada di kamar costumer. Sebaik pintu tetap di buka saja. Tidak perlu di tutup." jawab Nanini.
"Tidak masalahkan jika pintu nya aku tutup sayang. Kita suami istri." jawab Gabriel sambil mengulas senyum manis terhadap Nandini.
Ada satu pertanyaan yang ada di dalam hati Nandini.
Terakhir kali Nandini meninggal Gabriel. Gabriel saat itu dalan kondisi marah padanya.
Bahkan sikap sang suami kala itu acuh terhadap dirinya. Tapi kenapa sekarang Gabriel menjadi bersikap lembut dan banyak senyum.
"Jangan bengong sayang. Ayo kita ke kamar mandi. Kamu harus memeriksanya sendiri. Ada masalah apa di kamar mandi." ujar Gabriel.
__ADS_1
Mengabaikan pikirannya. Nandini kemudian berjalan menuju ke kamar mandi. Dan memeriksa keluhan yang di sampaikan Gabriel pada layanan servis kamar hotel.