Penyesalan Terdalam Seorang Suami

Penyesalan Terdalam Seorang Suami
Suami istri yang terpisah


__ADS_3

Sesampainya di kantor. Gabriel langsung masuk keruang kerjanya dan bersiap untuk beraktifitas.


Ada banyak hal yang hilang setelah Nanini pergi. Ia selalu berangkat dan pulang kantor sendirian.


Jika sebelumnya ia selalu berangkat dan pulang kantor bersama-sama.


Ponselnya pun kini menjadi sepi dari panggilan serta bunyi notif pesan dari nomor sang istri.


Nandini yang tipe romantis terkadang sering kali mengirimkan pesan pada dirinya di sela sela ia sibuk mengerjakan tugas kantor. Dan hal itu selalu membuatnya hangat dan bahagia.


Kini hal semacam itu sudah tidak ada lagi. Dan semuanya sangat Gabriel rindukan.


Ketika mendapati sang istri pergi pada malam itu. Gabriel sebenarnya tidak tinggal diam. ia langsung bergegas pergi untuk mencari istrinya.


Ia berusaha mencari keberadaan sang istri ke mana saja. Tapi Gabriel tidak bisa menemukan Nandini.


Dan keesokan harinya. Saat Gabriel bertanya pada atasan tempat Nandini bekerja. Ternyata Nandini telah mengajukan pengunduran diri kemarin sore.


Mendengar jika ternyata sang istri sudah tidak bekerja lagi. Memupuskan harapan Gabriel untuk bisa segera menemui Nandini dan meminta maaf.


Kini ia tidak lagi bisa menemui sang istri di tempat kerjanya. Yang sebelumnya Nandini berkantor di gedung yang sama dengannya.


Sejak peristiwa dimana Nandini pergi dari rumah. Gabriel tidak putus asa mencari.


Rasa sesak itu kembali menyeruak di hari Gabriel. Bila ia ingat dengan pesan yang Nandini pernah tulis untuknya.

__ADS_1


Mas aku perlu bicara dengan mu. Aku perlu penjelasan untuk semua yang sudah kamu lakukan terhadap diriku.


Jika ada waktu sekarang, aku tunggu Mas di rooftop gedung. Datanglah Mas, aku ingin kita bicara baik-baik.


Aku ingin kita bicara dari hati ke hati. Katakan apa salah ku dan letakkan di mana. Mas sudah menuduh ku. Padahal aku tidak sama sekali tidak melakukan perbuatan yang Mas tuduhkan. Aku tidak bisa di diamkan seperti ini Mas.


Mas juga telah melukai ku secara fisik. Aku tunggu di rooftop sekarang. Kita hanya punya waktu satu jam. Jika dalam satu jam itu Mas tidak datang. Itu artinya Mas sudah tidak peduli lagi denganku. Aku mohon Mas, datanglah, dan mari kita bicara.


Pesan itulah yang di tulis Nandini kala itu, sebelum ia pergi. Mungkin jika ia menemuinya pada saat itu. Semuanya tidak akan seperti sekarang.


Tetapi ia malah mengabaikan pesan itu dan tak menggubrisnya.


Sebuah keegoisan bercampur cemburu yang kala itu sengaja Gabriel tujukan pada Nandini. Untuk menyiksa hati Nandini agar ia mengakui kesalahannya.


"Aku tidak akan pernah berhenti mencari mu Din. Jika kau sengaja menghilang dan tidak meningalkan jejak. Aku akan tetap mencari mu." guman Gabriel dalam hati.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Bandung


Seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian kasual yang santai. Nampak bertanya tanya pada seseorang di sebuah pemukiman padat penduduk di kota Bandung. Sepertinya ia sedang menanyakan sesuatu.


"Permisi, bisa numpang tanya. Apa di sekitar sini tempat kost yang nyaman?"


"Oh, iya ada. Kebetulan ada kamar kosong di rumah kost milik saya. Jika Mbaknya mau, mari saya tunjukan. Lokasinya tak jauh dari sini Mbak. Dekat jalan raya." ujar seseorang itu.

__ADS_1


"Oh, kebetulan sekali. Saya mau liat dulu kamarnya." jawab wanita itu.


Seseorang itu kemudian mengajak wanita tersebut untuk melihat liat kamar kost miliknya yang kebetulan kosong.


"Berapa uang sewa yang harus saya bayar setiap bulannya?" sebuah suara lembut itu bertanya pada seorang pemilik rumah kost.


"Satu juta lima ratus ribu sebulan sudah termasuk listrik." jawab sang pemilik kost.


"Baiklah, saya ambil satu kamar. Saya bayar di muka sekarang untuk bulan pertama." ucap wanita itu yang tidak lain adalah Nandini. Ternyata ia berada di Bandung saat ini.


"Terimakasih, semoga mbaknya betah ya di sini. Ini kost khusus wanita ko Mbak. Jadi disini aman."


"Semoga betah, Terimakasih kembali Bu."


"Oya, ngomong ngomong siapa nama mu. Biar Ibu tau."


"Saya Nandini."


"Oh, Nandini, kuliah apa kerja?"


"Saya baru saja pindah dari Jakarta. Rencananya mau bekerja."


"Oh, baiklah kalau begitu. Semoga betah Mbak Nandini. Saya pamit dulu. Kalau ada apa apa, hubungi saja nomor telepon yang tadi sudah saya kasih."


"Baik Bu." jawab Nandini lembut.

__ADS_1


__ADS_2