Penyesalan Terdalam Seorang Suami

Penyesalan Terdalam Seorang Suami
Masih saling mencintai


__ADS_3

Saat lidah Gabriel sudah semakin liar dan nakal. Nandini mendorong tubuh Gabriel dengan sekuat tenaganya.


"Cukup Mas El." seru Nandini, setelah ia berhasil mendorong tubuh Gabriel dan melepaskan dengan paksa pagutan mereka.


Dengan nafas yang sama sama masih memburu. Baik Gabriel maupun Nandini sama-sama berusaha untuk mengendalikan diri mereka sendiri.


"Aku tidak pandai berakting sayang ku. Aku sungguh tidak bisa berada jauh dari mu. Maafkan aku sayang. Maafkan semua salah aku. Kedatangan ku ke sini sebenarnya adalah untuk mu. Dan tujuanku ke sini tidak lain juga karena mu. Bukan soal pekerjaan atau untuk urusan bisnis. Aku kesini, karena diri mu ada di sini."


"Dari mana Mas tau aku ada di Bandung? Dari siapa Mas tau aku bekerja di hotel ini?"


"Kita keluar dulu dari sini. Aku akan jelaskan." ucap Gabriel, mengajak Nandini untuk keluar dari kamar mandi.


Dengan tetap berdiri dan menjaga jarak. Nandini nampak menunggu penjelasan yang akan di ucapkan Gabriel.

__ADS_1


"Katakan Mas, dari mana Mas bisa tau aku ada di Bandung. Tunggu." Nandini kemudian berfikir.


"Apa Mas melakukan sesuatu pada adikku Rahma. Kemarin dia bercerita jika dia mengalami sesuatu saat ia pulang kuliah. Seseorang menyekapnya. Dan aku curiga. Apa mereka adalah orang-orang suruhan Mas Gabriel." tebak Nandini.


Karena tidak bisa mengelak lagi. Gabriel pun akhirnya jujur.


"Iya, mereka adalah orang suruhan ku. Tapi kamu jangan khawatir. Rahma tidak apa-apa. Mereka tidak menyakiti adik mu."


"Kenapa Mas lakukan itu. Itu membahayakan adik ku Mas. Kita tidak tau niat apa yang tersembunyi pada diri orang suruhan Mas itu. Mas sama saja memberikan mangsa pada mereka."


"Untuk apa Mas melakukan itu pada Rahma."


"Karena aku sudah frustasi Nandini. Aku bingung dengan cara apa aku bisa mendapatkan informasi tentang dirimu. Karena ibu dan bapak tidak memberitahu aku informasi apapun tentang kamu. Padahal sejak kamu pergi dari rumah. Aku mencari mu sayang."

__ADS_1


"Jika saat kamu pergi, kau pikir aku tidak peduli dengan mu. Itu kamu salah. Mas sadar menyadari semua salah Mas setelah kamu pergi. Aku telah sadar Nandini. Bahwa kamu tidak bersalah. Tapi akulah yang salah. Aku sudah cemburu buta dengan mu. Dan lebih parahnya. Aku mempercayai kata kata Mama. Seharusnya aku tidak percaya kata Mama ku."


"Tidak usah salahkan Mama. Meskipun Mama salah. Mas lah yang paling salah." tuduh Nandini pada Gabriel.


"Iya, kau benar. Aku memang yang salah."


Gabriel kemudian melangkah mendekati Nandini. Saat ia sudah berada dihadapan Nandini. Gabriel kemudian berlutut dan kembali minta maaf.


"Mungkin kamu bosan mendengar aku minta maaf sama kamu sayang. Tapi aku tidak akan bosan bilang maaf. Nandini, aku ingin kita kembali merajut kembali cinta kita. Aku ingin kita bisa bersama sama lagi mengarungi bahtera rumah tangga. Aku tidak ingin berpisah dengan mu Nandini. Aku sudah katakan ini sama Mama. Dan Mama juga tau aku kemari untuk mu dan demi kamu. Sekarang, aku akan menuruti apa mau mu. Jika kamu tidak ingin tinggal di rumah Mama, bersama keluarga ku. Tidak apa apa. Aku akan beli rumah untuk kita. Kita akan tinggal berdua saja. Kita bisa bebas. Kamu tidak perlu merasa tertekan. Kamu bisa bebas. Kita juga bebas berada di rumah kita sendiri. Kamu mau kan, untuk kembali hidup bersama ku Nandini?"


Nandini yang sejak tadi mendengar semua pernyataan Gabriel hanya bisa diam saja.


Meskipun sebenarnya. Ia sudah mulai sedikit melembut hatinya. Karena mendengar dan melihat sang suami sudah minta maaf dan menyesali perbuatannya.

__ADS_1


"Maaf Mas, aku harus pergi. Aku ada pekerjaan lain." ucap Nandini, kemudian ia bergegas pergi meninggalkan kamar hotel Gabriel.


__ADS_2