
Sesampainya di hotel, Nandini dan Gabriel akhirnya berpisah. Karena Nandini harus bersiap untuk bekerja dan Gabriel yang tidak melakukan apapun harus kembali ke kamar hotelnya. Bagaimanapun, ia tidak bisa terus mengganggu Nandini. Karena sang istri harus melaksanakan kewajibannya untuk bekerja di hotel tersebut.
Dengan penuh rasa berat hati, Gabriel melepaskan genggaman tangan sang istri yang sejak tadi ia genggam.
"Sayang, nanti kita makan siang bareng ya. Aku tunggu di cafetaria." ucap Gabriel, sebelum membiarkan sang istri melangkah pergi meninggalkannya di lobby hotel.
Nandini tidak menjawab. Dia hanya melemparkan sebuah senyum manis kepada Gabriel. Dan senyum manis Nandini sudah cukup membuat hati Gabriel luluh lantah.
Aku sungguh mencintaimu Nandini
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Berada di kamar hotelnya. Gabriel begitu terlihat sangat dilema dan juga sangat bad mood pada saat itu.
Karena ia baru saja berpisah dengan sang istri yang pada malam tadi bersamanya.
Aku harus membuat rencana untuk bisa segera meluluhkan hati Nandini seutuhnya.
Aku tidak bisa bersikap seperti ini terus. Aku tidak kuasa untuk menunggu.
Aku harus bergerak. Aku harus melakukan sesuatu. Ucap Gabriel sambil mondar-mandir di dalam kamar hotelnya.
__ADS_1
Karena ia merasa sudah tidak tahan lagi untuk segera memiliki sepenuhnya Nandini kembali.
Meskipun saat ini Nandini sudah memaafkannya. Tapi menurut Gabriel, masih ada sedikit ganjalan di hati Nandini pada dirinya.
Dan hal itulah yang membuat hati Gabriel merasa belum lega. Karena Gabriel merasa sang istri belum benar-benar menerima dan memaafkan dirinya.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
"Halo mas, ada apa menelpon?" tanya Nandini ketika ia menjawab sambungan telepon dari Gabriel pada sore hari itu.
"Kamu di mana sayang?" tanya Gabriel penuh dengan rasa penasaran.
"Aku sedang di lobby hotel. Ini kan jam aku pulang kerja. Aku sedang menunggu taksi untuk membawaku pulang ke tempat kost." jawab Nandini jujur.
Karena Gabriel sebenarnya sudah merencanakan sesuatu yang akan ia lakukan dengan sang istri. Bagi Gabriel, ia sudah tidak bisa lagi menunda-nunda dan menunggu-nunggu. Karena menurut Gabriel, masalahnya dengan Nandini harus segera diselesaikan. Agar tidak ada lagi ganjalan diantara dia juga Nandini.
"Mas kok diam. Ada apa menelpon ku?" tanya lagi Nandini dengan suara yang begitu lembut.
Sedangkan Gabriel sendiri nampak berpikir. Alasan apa yang harus dia katakan kepada Nandini. Agar bisa membuat wanita yang sudah membuatnya gila itu mau untuk mendatangi kamar hotelnya.
Setelah beberapa detik berpikir. Akhirnya Gabriel mendapatkan ide untuk membuat sang istri datang ke kamar hotelnya.
__ADS_1
"Sayang, sepertinya aku alergi deh. Badanku terasa gatal dan membuat aku tidak nyaman. Sepertinya aku membutuhkan bantuan mu. Cepat datang ke kamarku sekarang." ucap Gabriel memberi alasan.
"Tadi pagi Mas tidak apa-apa. Aku pikir mas juga tidak pernah punya riwayat alergi. Jadi jangan buat alasan yang mengada-ngada. Aku tahu, mas pasti cuma beralasan." sergah Nandini.
"Tidak sayang. Aku memang alergi. Kalau kamu nggak percaya. Coba kamu cek ke kamarku. Aku sampai sampai tidak memakai baju karena badanku semuanya terasa gatal." ucap Gabriel.
"Tidak bisa Mas. Sebentar lagi taksi yang aku pesan akan segera datang. Aku tidak bisa untuk meng cansel nya." tutur Nandini.
"Kamu tega sekali sayang. Membiarkan aku dalam kesusahan seperti ini. Kalau kamu keras kepala tidak mau datang ke kamarku. Tidak apa-apa, aku yang akan datang ke kamar kost mu nanti." Ucap Gabriel mengancam.
"Mas jangan mulai deh. Aku nggak mau berdebat denganmu. Ini sudah sore, sebentar lagi juga akan turun hujan. Aku tidak mau terjebak macet di perjalanan. Aku capek hari ini, banyak pekerjaan yang aku urus seharian." keluh Nandini.
"Ya udah kalau begitu, daripada kamu capek-capek an di jalan. Kamu pergi saja ke kamar hotel ku. Kamu bisa beristirahat di sini."
"Tidak mas, aku tidak bisa. Aku pulang saja." ucap Nandini masih mengotot.
"Kalau kamu tetap pulang dan tidak mau menengok di kamar hotel ku. Aku yang akan datang ke kamar kost mu. Dan kau tidak akan bisa menolak itu." jawab Gabriel sama keras kepalanya.
Karena Gabriel sudah mengancam seperti itu. Membuat Nandini mau tidak mau akhirnya mendatangi kamar hotel sang suami.
Sebelumnya Nandini pergi ke kamar hotel. Nandini menunggu sampai taksi yang ia pesan datang. Kemudian ia membayar ongkos taksi tersebut.
__ADS_1
Setelah urusan dengan sang sopir taksi selesai. Nandini berjalan dengan langkah sedikit kesal menuju kamar hotel Gabriel.
Aku harus mengantisipasi diri. Aku curiga mas El merencanakan sesuatu. Dan aku yakin itu. ucap Nandini dalam hati. Ketika ia berada di dalam lift menuju kamar hotel.