
Hampir satu bulan terakhir ini Nandini dan juga Gabriel menjalani hubungan LDR jakarta-bandung.
Sejak Gabriel memutuskan untuk ke Jakarta sebulan yang lalu. Gabriel saat ini belum sempat lagi pergi ke Bandung menjenguk sang istri Nandini
Meskipun saat ini mereka menjalani hubungan long distance. Hubungan antara Nandini dan Gabriel Justru malah semakin kuat. Karena dalam jarak yang begitu jauh di antara keduanya menimbulkan benih-benih kerinduan dan juga rasa kangen yang begitu mendalam diantara keduanya. Yang begitu menggebu-gebu yang mereka sama sama rasakan.
"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Gabriel pada sang istri. Ketika ia sedang menghubungi Nandini di jam makan siang melalui video call.
"Tentu saja aku sedang makan mas." jawab Nandini, yang kala itu ia berada di cafetaria untuk makan siang. Sambil menikmati makanannya, Nandini menerima panggilan video call dengan sang suami.
"Bagaimana kabarmu, dan juga bagaimana kabar Mama. Apa sampai sekarang mama belum siuman?" tanya Nandini, mencari tau kabar tentang sang Mama mertua
"Mama sampai sekarang belum siuman. Tapi kata dokter kesehatan Mama semakin membaik. Meskipun dia belum juga siuman. Maafkan aku sayang, aku belum sempat mengunjungimu ke Bandung. Karena tidak hanya urusan mama yang membuat aku tidak memungkinkan pergi ke Bandung. Tapi aku juga sibuk urus perusahaan."
__ADS_1
"Tidak apa-apa mas, urus saja mama dulu. Bagaimanapun juga Mas punya tanggung jawab besar dengan perusahaan. Sekarang hubungan kita sudah baik kan. Aku sudah sangat senang menjalani hubungan kita yang seperti ini. Meskipun jauh, mas selalu perhatian denganku." tutur Nandini sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
Gabriel yang melihat wajah Nandini dari layar ponsel pun semakin dibuat rindu dengan sang istri. Dan ia semakin mencintai sang istri.
"Bagaimana makanannya? Enak tidak?" tanya Gabriel, karena setiap hari Gabriel selalu memesankan makanan melalui online dan mengirimkannya untuk Nandini.
"Makanannya enak, terima kasih sudah selalu memesankan aku makanan mas." ujar Nandini sambil mengulas senyum tipis pada Gabriel.
"Tidak usah berterima kasih, itu kan bentuk tanggung jawab ku sebagai seorang suami. Memberikan istri makan. Kalau tidak begitu, bagaimana aku bertanggung jawab kepada mu. Harga diri seorang pria sejati yang sudah menikah itu iyalah memberi nafkah pada istrinya." jelas Gabriel yang terlihat sabar saat tersambung dalam video call dengan Nandini.
Melihat perubahan wajah dari sang istri, ketika Nandini menutup mulutnya membuat Gabriel kawatir.
"Kamu kenapa sayang? Kamu sakit?
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa mas. Entahlah, tiba-tiba makanan ini berubah tidak enak dan aku menjadi enek. Perut ku mual sekarang." jelas Nandini.
"Kenapa bisa begitu. Aku perhatikan tadi kamu begitu menikmati makanannya." sergah Gabriel.
"Ya sudah kalau makannya menjadi tidak enak. Jangan dimakan lagi. Aku tidak ingin kamu sakit sayang. Aku tidak bisa merawat mu."
"Jangan berlebihan mas. Aku tidak apa apa." tutur Nandini, kemudian ia meraih tissue dan membersihkan mulutnya.
"Mas juga jaga kesehatan ya, banyak tanggung jawab yang harus mas pikul. Aku juga tidak ingin mas jatuh sakit. Karena aku tidak bisa merawat mas."
"Terima kasih sayang, sudah selalu memberikan energi yang luar biasa untukku. Kamulah yang membuat aku bersemangat. Dan kamulah yang membuat aku tetap tegar sejauh ini. Aku salut dengan dirimu mu dan makin sayang. Meskipun sikap mama terhadap dirimu sangat kejam, dan membuat kita hampir saja bercerai. Kamu tetap perhatian sama mama. Bahkan mendoakan Mama, dan aku berharap setelah ini. Mama bisa sadar, jika selama ini, dia sudah salah menilai diri mu."
"Aku tidak berharap banyak mas. Aku juga tidak meminta-minta untuk disukai oleh mama. Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mama."
__ADS_1
"Terima kasih sayang."