
Dan malam itu, sebelum pasangan suami istri tidur. Gabriel meminta haknya sebagai suami. Karena mereka sudah hampir satu setengah bulan tidak bertemu.
Maka Gabriel menginginkan haknya. Karena ia memang sedang berhasrat. Dan mau tidak mau, Nandini pun melayani sang suami.
Dengan saling bertukar peluh, ******* dan erangan. Nandini dan Gabriel melakukan hubungan suami istri dengan penuh cinta dan kebahagiaan.
Ketika Gabriel melakukan hubungan badan dengan sang istri. Gabriel melakukannya dengan sedikit kasar.
Saat Nandini teringat bahwa dirinya tengah hamil. Nandini kemudian memperingatkan Gabriel untuk tidak bermain kasar. Gabriel yang sudah di landa hasrat pun kemudian minta maaf dan setelahnya melakukannya dengan lembut.
Setelah mereka selesai melakukan ritual hubungan suami istri. Keduanya kini sama-sama tiduran pada satu bantal dan satu selimut yang terhampar untuk menutupi tubuh polos mereka.
Dari belakang, Gabriel memeluk tubuh Nandini dengan begitu posesif. Karena semakin hari cintanya kepada Nandini semakin kuat dan besar.
"Terima kasih sayang, sudah melayaniku dengan sangat luar biasa malam ini. Aku ingin kita tetap seperti ini sampai pagi." bisik Gabriel dengan masih memeluk Nandini dari belakang dengan begitu erat. Dan menempelkan tubuhnya pada tubuh Nandini.
"Sama-sama mas." jawab Nandini, sambil memejamkan matanya. Karena jujur saja, tenaganya terkuras habis untuk melayani hasrat sang suami yang menggebu.
__ADS_1
Dan refleks, Nandini meraih tangan Gabriel dan kemudian ia meletakkan tangan Gabriel ke perutnya.
Sebenarnya Nandini ingin sekali memberitahu Gabriel tentang kehamilannya esok pagi. Tapi entah kenapa rasanya dia sudah tidak sabar ingin memberitahukan kepada sang suami jika dirinya hamil.
"Mas, apa mas merasakan sesuatu di perutku?" tanya Nandini, yang masih meletakkan telapak tangan Gabriel ke perutnya yang masih rata.
"Apa yang mas rasakan?" sejenak Gabriel, meraba dan mengelus perut Nandini.
"Aku tidak merasakan apapun sayang. Aku hanya merasakan perutmu yang masih rata. Apa kau takut, jika aku bilang kau gemuk. Atau kau takut jika aku bilang tubuhmu berlemak. Jika memang kau gemuk dan perut mu berlemak. Itu tidak masalah sayang. Aku tidak akan mempermasalahkan bentuk tubuh mu." Bisik Gabriel ditekuk sang istri. Dengan semakin mengeratkan pelukannya. Tubuh mereka benar seperti puzzle. Melekat pas.
Nandini kemudian terkekeh. ingin rasanya dia menertawakan sanggahan sang suami yang sangat salah itu.
"Bermimpi. Tentu saja aku setiap malam bermimpi tentangmu. Aku bermimpi tentang mu setiap malam. Dan aku selalu berfantasi bercinta dengan mu juga. Makanya malam ini aku merasa lega. Karena dahaga ku sudah terbayar." goda Gabriel.
"Mas aku serius. Aku tidak bercanda. Yang aku maksud di sini adalah. Apakah mas pernah merasakan feeling atau firasat tertentu sama aku."
"Tidak ada sayang. Memangnya ada apa sih. Jangan membuat aku takut." ucap Gabriel yang kini mendongakkan wajahnya untuk bisa menatap wajah sang istri.
__ADS_1
Nandini kemudian memandang wajah Gabriel. Yang kini dihiasi dengan raut wajah khawatir.
Dengan menjulurkan kedua tangannya. Nandini meraih wajah Gabriel dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
Nandini kemudian bersiap untuk memberitahu kepada suaminya jika dirinya kini tengah berbadan dua.
"Mas, aku punya kejutan untuk mas." wajah Gabriel mendadak tegang.
"Kejutan apa?"
"Aku hamil. Aku berbadan dua sekarang. Di perutku ada benih mu yang tumbuh di rahimku. Sebentar lagi kita akan memiliki anak." ujar Nandini berterus terang tentang kehamilannya kepada Gabriel.
Begitu mendengar berita itu. Gabriel semakin lekat memandang wajah sang istri. Dengan penuh rasa ketidakpercayaan dan juga terkejut. Karena ia tidak menyangka jika saat ini istrinya telah hamil. Yang tentu saja hal itu adalah impiannya.
"Kamu serius sayang. Kamu hamil."
Nandini tidak menjawab, ia hanya mengangguk.
__ADS_1
Degan penuh rasa bahagia. Gabriel langsung memeluk kembali tubuh Nandini. Dan menghujani Nandini kecupan di seluruh wajahnya.