
Setelah selesai dari kamar mandi. Gabriel nampak sedikit merapikan rambutnya di depan cermin. Saat ia merasa dirinya sudah cukup rapi. Gabriel kemudian meraih tangan Nandini dan menggenggamnya dengan erat. Setelah itu mereka sama-sama keluar dari kamar.
Baru saja mereka keluar dari kamar. Beberapa orang yang juga baru saja keluar dari kamar mereka. Nampak memperhatikan gerak gerik Gabriel dan juga Nandini. Apalagi saat itu Gabriel sengaja menggenggam tangan Nandini dengan begitu erat. Membuat keduanya dicurigai oleh sesama penghuni kamar kost yang mayoritas penghuninya adalah wanita.
Tak nyaman karena merasa di curigai. Nandini kemudian melepaskan genggaman tangannya dari tangan Gabriel.
"Kenapa dilepas sayang?"
"Mereka pasti curiga."sergah Nandini.
"Biarkan saja mereka curiga. Apa peduli kita. Kita kan suami istri. Kalau perlu aku akan menunjukkan buku pernikahan kita agar mereka tidak mengira kita pasangan mesum." ujar Gabriel
"Pelankan suaramu mas. Jangan buat aku malu nge kost di sini. Kamu tau aku orangnya paling tidak suka cari masalah."
"Ya sayang. Maaf." pungkas Gabriel yang tidak mau lagi membuat sang istri jengkel.
Dan, bubur ayam akhirnya menjadi sarapan pilihan bagi Nandini dan juga Gabriel pagi itu.
Mereka menikmati sarapan bubur ayam yang mangkal dipinggir jalan tak jauh dari tempat kost Nandini.
Dengan saling duduk berhadap-hadapan. Nandini dan Gabriel nampak fokus pada makanan mereka masing-masing.
__ADS_1
Sambil menikmati bubur ayamnya, Gabriel tidak henti-hentinya memperhatikan wajah Nandini yang saat itu tengah fokus menikmati buburnya.
Tanpa sengaja, saat Nandini ingin meraih tissue untuk membersihkan mulutnya. Nandini menoleh ke arah Gabriel. Yang pada saat itu ternyata juga tengah memandangi dirinya.
"Mas, makan buburnya. Jangan memandangiku terus. Nanti buburnya dingin tidak enak." ucap Nandini kepada sang suami.
"Bubur ini akan tetap enak meskipun dingin. Jika aku menikmatinya ditemani sama kamu." ujar Gabriel yang terus melancarkan gombalannya kepada Nandini.
"Kamu semakin hari makin cantik saja sayang."
"Sudah mas, jangan mulai. Aku tidak punya banyak waktu. Tiga puluh menit lagi aku harus sudah sampai di tempat kerja. Aku tidak ingin telat. Selama bekerja, aku selalu menjunjung tinggi kedisiplinan."
"Iya, nanti kita sama-sama pergi. Kita kan satu tujuan."
"Ngomong-ngomong, sampai kapan mas Gabriel akan menginap di hotel. Memangnya mas tidak bekerja. Siapa yang mengurus perusahaan. Bukankah selama ini urusan pekerjaan tergantung sama mas?"
"Aku sengaja mengambil cuti beberapa minggu. Dan itu sengaja aku lakukan demi untuk bisa menemukanmu." jawab Gabriel, ketika mereka masih berada di dalam taksi online yang akan mengantarkan mereka ke hotel.
"Sekarang kan mas sudah tahu di mana aku berada. Dan bahkan kita sudah bertemu. Sebaiknya mas pulang saja ke Jakarta. Mama pasti mencari mu."
"Urusan ku disini belum selesai." sergah Gabriel.
__ADS_1
"Belum selesai apanya. Kan sudah bertemu dengan ku." jawab Nandini sambil menoleh ke arah Gabriel.
"Tapi urusanku belum benar-benar beres sayang. Karena aku belum laga jika belum bisa membawamu kembali dalam hidupku." ucap Gabriel, sambil meraih tangan wanita yang sangat ia cintai. Kemudian ia meremas jari jemari Nandini. Menakutkannya dengan tangannya.
"Masih ada banyak hal yang harus kita bicarakan. Aku cukup senang karena sudah menemukan mu. Dan kita sudah berdamai seperti ini. Tapi rasanya, aku belum lega jika kamu masih belum mau untuk bersama aku lagi. Dalam arti, kamu bersedia untuk mau ikut dengan ku."
Sejenak, Nandini menatap wajah Gabriel. Sejurus kemudian ia menundukkan wajahnya.
"Jujur ya mas, aku masih perlu waktu untuk memikirkan itu. Jika mas mau membawa aku kembali ke Jakarta. Jika maksudnya mas ingin aku ikuti mas lagi, dan kembali ke rumah itu. Rasa itu tidak mungkin mas. Aku tidak ingin membuat hari hari mama buruk karena aku. Karena aku tau, mama tidak pernah menerima aku sebagai menantunya. Dan aku cukup tau diri sekarang. Untuk tidak mau memaksakan diri beranda satu rumah dengan mama. Bukan aku membenci mama. Tapi aku tidak ingin masalah kemarin terulang lagi."
"Mas tidak pernah bilang kan, akan membawamu kembali ke Jakarta dan tingal serumah lagi dengan keluarga ku. Aku tidak bodoh sayang. Mana mungkin aku akan mencampurkan kamu dengan keluarga ku lagi, terutama sama mama. Tidak akan."
"Lantas, apa maunya mas?"
"Aku berniat membeli rumah untuk kita. Atau, aku bisa membangun rumah idaman mu. Dulu kan kita pernah bercita-cita untuk memiliki sebuah hunian idaman."
"Lalu bagaimana dengan mama? Aku tidak mau membuat mas di cap sebagai anak yang tidak tau sopan santun. Apa lagi, aku juga tidak ingin menjadi alasan bagi seorang ibu dan anak punya masalah."
"Yang bermasalah itu mama, bukan kamu, bukan kita. Mama itu terlalu keras kepala dan memaksakan kehendaknya. Jika mama sudah sadar. Aku yakin mama tidak akan bersikap keras seperti ini pada kita."
"Percayalah pada ku sayang. Kejadian yang telah lalu tidak akan terjadi lagi. Aku berjanji."
__ADS_1
Gabriel nampaknya terus berusaha membujuk sang istri untuk mau kembali pada dirinya sepenuhnya.