
Gabriel memutuskan untuk kembali ke kamar hotel dengan perasaan bahagia dan penuh sukacita. Karena kini ia telah kembali berada dekat dengan sang istri.
Rencananya Gabriel akan mulai mendekati Nandini besok.
Dan sepertinya, Gabriel akan pindah hotel. Ia akan pindah menginap di hotel tempat Nandini bekerja.
Prioritas Gabriel saat ini adalah Nandini. Ia benar-benar tidak ingin memikirkan soal perusahaan.
Padahal dirinya adalah penanggung jawab dan yang berwewenang tinggi terhadap perusahaan yang ia pimpin saat ini.
Tetapi untuk sementara ini. Gabriel telah menyerahkan urusan pekerjaan kepada orang kepercayaannya. Yang sudah ia tugaskan untuk tetap berada di kantor dan mengurus semuanya. Selama ia belum kembali.
Dan bisa jadi, ia tidak akan kembali ke kantor karena dirinya saat ini juga sedang bermasalah dengan Mamanya, Rohana.
Apalagi kalau bukan soal Nandini.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Keesokan harinya, Gabriel pergi ke hotel tempat Nandini bekerja. Dan Ia langsung melakukan check in hotel pada siang hari itu juga.
Gabriel sendiri tidak bisa memastikan sampai kapan ia akan berada di hotel tersebut. Karena misinya saat ini adalah untuk mendekati Nandini. Dan ia tidak tau butuh berapa lama ia bisa berhasil meluluskan hati sang istri.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Berkerja dengan profesional adalah rutinitas yang kini Nandini jalani di tempat kerjanya yang baru.
Seperti biasa, Nandini tengah melakukan pengecekan satu persatu kamar hotel yang telah di bersihkan dan akan segera diisi kembali oleh penghuni yang baru.
Dengan mengenakan seragamnya yang berwarna hitam dipadu dengan kemeja berwarna putih membuat Nandini terkesan seperti seorang wanita yang sangat cantik dengan pakaian yang ia kenakan.
Ditambah dengan wajahnya yang sangat cantik natural menambah daya pesona wanita yang berumur 26 tahun itu semakin terlihat mempesona.
__ADS_1
Ketika jam makan siang tiba. Nandini seperti biasa akan pergi ke kafetaria yang ada di hotel. Dan ia biasa selalu makan siang di sana.
Karena ia baru bekerja di hotel tersebut. Nandini belum banyak punya teman yang ia kenal dengan akrab.
Siang itu, ketika Nandini tengah asik makan siang di mejanya sendirian. Seorang pria mendekat ke arahnya.
"Boleh aku duduk di sini?" Sapa seorang pria yang baru saja datang itu. Nandini kemudian mendongakkan wajahnya ke arah sumber suara.
"Pak Bian. Boleh Pak." ucap Nandini, sebenarnya ia tidak ingin makan siang ditemenin seseorang. Apalagi dia adalah lawan jenis. Nandini lebih suka duduk dan menikmati makanannya sendiri.
Tapi Nandini merasa tidak enak untuk menolak kehadiran Bian. Karena berkat dialah ia mendapatkan jabatan yang lebih baik.
Bian yang saat itu sudah memegang nampan yang berisikan makanan kemudian langsung duduk tepat di hadapan Nandini.
"Kok kamu sendirian. ke mana teman-teman mu? Biasanya kamu makan siang bersama Maya?" tanya Bian kepada Nandini berbasa-basi.
"Maya sedang ada urusan di luar Pak." jawab Nandini singkat. Kemudian ia fokus pada makanannya kembali.
"Saya sudah terbiasa makan siang sendirian." imbuh Nandini sambil menundukkan wajahnya, fokus untuk menikmati makan siangnya kala itu.
"Kalau gitu bisa dong, kita makan siang bersama." ledek Bian sambil tersenyum tipis. Nandini tidak menganggapi serius ucapan Bian. Karena ia sudah tau sifat Bian yang memang suka meledek.
Nandini sudah kenal baik dengan Bian karena mereka pernah bekerja dalam satu tempat kerja dulu. Dan sekarang mereka bertemu lagi.
Dan, di sisi lain. Seorang Pria nampak mengawasi Nandini dari sudut ruangan.
Dari sudut tempat di mana saat ini ia berada. Yang berjarak tak jauh dari tempat Nandini duduk.
Pria itu sengaja mengambil tempat duduk di belakangi Nandini. Ia nampak mengawasi gerak-gerik Nandini yang duduk ditemani seorang pria. Yang membuat pria itu nampak meradang.
Siapa pria itu. Seakan-akan kenal dekat dengan Nandini.
__ADS_1
Jangan-jangan dia menyukai Nandini.
Awas saja kalau kamu menyukai istriku. Aku akan membuat perhitungan denganmu.
Gabriel kini dibuat sebal karena Nandini didekati oleh seorang Pria. Dan itu berlangsung di hadapannya.
Setelah kurang lebih 30 menit Gabriel duduk di sana dengan tidak mengalihkan pandangannya untuk tidak menatap dan mengawasi Nandini. Kejengkelan Gabriel semakin menjadi ketika pria tersebut menemani Nandini makan siang sampai selesai.
Dan bisa Gabriel perhatikan jika pada saat itu Nandini hanya bersikap cuek dan tidak menanggapi pria yang selalu mengajaknya bicara tersebut. Bahkan Nandini selalu menundukkan pandangannya.
Dari sikap yang ditunjukkan Nandini. Bagaimana ia tak serius menanggapi ocehan pria tersebut membuat Gabriel bangga.
Gabriel bangga karena Nandini masih tetap menjaga kehormatannya sebagai seorang istri.
Setelah jam makan siang selesai. Nandini nampak pergi meninggalkan cafetaria bersama Pria yang membuat Gabriel kesal tersebut.
Sedangkan Gabriel masih duduk di cafetaria dan sepertinya ia sedang berpikir.
Dengan cara apa aku bisa bertemu Nandini. Aku harus bisa membuat suatu rencana agar bertemuan ku dengannya ini seolah-olah tidak di rencanakan.
Aku harus bisa membuat kesan bahwa pertemuan ku dengan Nandini adalah sebuah pertemuan yang tidak sengaja.
Jika aku langsung menemuinya. Pasti Nandini akan curiga padaku. Dan pasti dia akan menghindari ku lagi.
Kemudian Gabriel pun terdiam sambil berpikir.
Sejurus kemudian, wajah Gabriel nampak tersenyum.
Sepertinya ia sudah menemukan ide dan cara bagaimana untuk membuat pertemuan di antara dirinya dan Nandini merupakan pertemuan yang tidak di sengaja.
Aku tau apa yang harus aku lakukan
__ADS_1
Sambil tersenyum, Gabriel kemudian berdiri dan meningalkan cafetaria untuk kembali menuju kamar hotelnya.