
Setelah berada di kamar mandi. Nandini kemudian melakukan pengecekan.
Ia memeriksa saluran air yang ada di dalam kamar mandi.
Nandini kemudian membuka tutup lobang saluran air yang mungkin penyebabnya bisa ia lihat di sana.
Begitu Nandini membuka tutup lobang saluran air. Nandini di kejutkan dengan banyaknya gumpalan tissue yang ada di sana.
Pantas saja saluran airnya tidak bisa mengalir dengan sempurna. Karena ada penyumbatan di sana.
"Kenapa bisa ada banyak tissue di sini?" tanya Nandini, kemudian ia menoleh ke belakang ke arah Gabriel. Yang saat itu juga tengah berdiri di belakangnya.
"Aku....aku tidak tau. Aku baru check-in tadi siang. Jadi aku tidak tahu menahu tentang kenapa ada tisu di sana. Jika kau tidak percaya kau bisa cek ke resepsionis. Aku baru saja masuk ke kamar ini siang ini. Dan aku baru saja mau mandi. Karena saluran airnya mampet. Makanya aku tidak jadi mandi. Dan aku komplain." jawab Gabriel memberikan keterangan palsu. Padahal dirinyalah pelakunya.
Dengan menggunakan sarung tangannya. Nandini mengambil gumpalan tissue tersebut dan menaruhnya di kantong plastik yang sudah ia bawa.
Kemudian Nandini membuangnya ke tempat sampah yang ada di kamar mandi.
Gabriel dari tadi tidak berkedip melihat aktifitas yang dilakukan oleh sang istri. Nandini yang kala itu terlihat cantik dengan pakaian seragamnya. Membuat Gabriel tidak tahan untuk tidak memeluk sang istri yang sudah lama tidak ia sentuh itu.
Tapi Gabriel tidak bisa melakukan hal itu karena ia tidak ingin merusak semua rencananya.
Ia harus sabar dan harus bisa menahan diri.
__ADS_1
"Aku rasa sudah tidak ada masalah lagi di kamar ini. Semua sudah beres. Yang menjadi penyumbat saluran airnya tidak lancar adalah tissue itu. Aku sudah membuangnya. Silahkan digunakan kamar mandinya. Dan jika masih ada masalah yang lain. Silahkan hubungi pusat layanan servis kamar hotel. Kami akan senang dan sigap membantah anda." ucap Nandini tetap bersikap profesional ada Gabriel.
Setelah merasa urusannya sudah selesai. Nandini kemudian bergegas melangkahkan kakinya meningalkan kamar mandi. Dan ia bermaksud untuk pergi. Tapi saat Nandini ingin meningalkan kamar mandi. Gabriel menarik tangan Nandini dengan lembut dan membuat tubuh Nandini tersadar pada meja wastafel yang ada di sana.
"Jangan pergi dulu sayang. Aku masih ingat melihat. Aku merindukan mu."
"Tolong jangan bersikap seperti ini." Tutur Nandini sambil menatap wajah Gabriel dengan pandangan mata sedikit ketakutan.
Gabriel yang melihat sang istri nampak takut padanya membuat Gabriel mengutuk dirinya sendiri. Karena pasti, Nandini merasa trauma dengan sikap kasar yang pernah ia lakukan pada wanita yang saat ini ia sekap itu.
"Maaf Mas, aku di sini bekerja. Tolong jangan bawa urusan pribadi kita di sini. Biarkan aku pergi. Aku harus bersikap profesional menjalankan tugasku." imbuh Nandini.
Semakin Nandini bergerak ingin pergi. Gabriel semakin tidak mengizinkan Nandini untuk berinsut dari tempatnya.
Rasa penyesalan itu kembali menyerang dan menyeruak dari dalam hatinya..
"Maafkan aku sayang. Aku minta maaf. Aku salah, aku jahat dan aku tega dengan mu. Maukah kau memaafkan aku." ucap Gabriel penuh penyesalan.
Nandini yang melihat raut wajah sang suami yang terlihat menyesal itu pun hanya bisa diam mengamati.
Dengan posisi tubuh Nandini yang sudah di himpit oleh Gabriel. Membuat Nandini tidak leluasa untuk bergerak. Atau bahkan meloloskan diri.
Dan, tiba tiba saja. Gabriel sudah memeluk tubuh Nandini dengan begitu eratnya. Gabriel meluapkan rasa rindu yang selama ini tahan pada wanita yang saat ini sudah ada didalam pelukannya yang posesif.
__ADS_1
Gabriel bener benar melekatkan tubuhnya pada pada tubuh Nandini seperti kepingan puzzle yang telah menemukan pasangannya.
Ketika Gabriel memeluk tubuh Nandini. Nandini yang bisa terdiam dan ia tak membalas rangkulan Gabriel.
Setelah puas memeluk tubuh sang istri yang kini sudah mampu mengobati rasa pedih yang ia rasakan karena rindu. Gabriel mengurai pelukannya dan ia kini meraup wajah Nandini dengan kedua tangannya.
"I Love You Nandini. Aku minta maaf. Maafkanlah aku." ucap Gabriel, sambil menatap dengan lekat wajah cantik sang istri yang saat ini berjarak begitu dekat dengan wajahnya.
"Aku haus pergi Mas." ucap Nandini lagi sambil ingin meloloskan diri. Tapi, lagi lagi Gabriel menarik Nandini dan kedua tangannya kembali meraup wajah Nandini.
Dan tanpa aba aba. Gabriel sudah mendaratkan bibirnya ke bibir Nandini.
Gabriel sudah tidak bisa lagi untuk tidak merasakan lembut dan lunturnya bibir ranum sang istri. Yang sejak tadi sudah menggodanya.
Tidak ingin melewatkan kesempatan. Gabriel menautkan bibir lebih dalam lagi pada bibir Nandini. Gabriel tidak peduli sang istri tidak membalas.
Justru ia ingin memberi tau pada Nandini berapa ia sangat rindu dengannya dan betapa ia cinta pada Nandini. Lewat sentuhan ciuman yang Gabriel lancarkan.
Saat lidah Gabriel sudah semakin liar dan nakal. Nandini mendorong tubuh Gabriel dengan sekuat tenaganya.
"Cukup Mas El." seru Nandini, setelah ia berhasil mendorong tubuh Gabriel dan melepaskan dengan paksa pagutan mereka.
Dengan nafas yang sama sama masih memburu. Baik Gabriel maupun Nandini sama-sama berusaha untuk mengendalikan diri mereka sendiri.
__ADS_1