Penyesalan Terdalam Seorang Suami

Penyesalan Terdalam Seorang Suami
Menikmati pengasingan diri


__ADS_3

Pagi itu di rumah besar. Rohana bersama kedua anaknya yang lainnya, adik Gabriel tengah menikmati sarapan pagi di meja makan.


Gabriel yang baru saja turun dari anak tangga dengan sudah perbaikan rapi kemudian menyapa keluarganya.


Seperti yang sudah ia lakukan beberapa minggu terakhir. Gabriel tidak duduk bersama dengan keluarga di ruang makan.


"Pagi Ma. Aku berangkat dulu ya ke kantor." ucap Gabriel berpamitan pada sang Mam.


Saat Gabriel hendak terbalik dan ingin melangkah berjalan ke pintu depan. Sang Mama nampak menahan langkahnya.


"Tunggu El, Mama mau bicara sesuatu sama kamu." ujar Rohana.


"Kita bicara di kamar Mama saja." ucap Rohana. Kemudian ia berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kamar. Gabriel pun mengikuti langkah Mamanya.


Rohana sengaja mengajak bicara Gabriel ke kamar karena ia tidak ingin bicaranya di dengar oleh kedua anaknya yang lain.


Berdiri membelakangi Gabriel sambil menatap ke arah luar jendela. Rohana nampak berdiri mematung di sana.


"Apakah kamu marah sama Mama. Dengan apa sudah Mama katakan sama kamu malam. Apakah kamu juga marah, setelah tahu jika Mama lah yang sebenarnya membuat istrimu pergi dari rumah ini."


"Sebagai manusia yang punya perasaan. Siapa sih yang tidak marah Ma dan kesal. Jika aku sebagai seorang suami telah menuduh istriku berselingkuh padahal tuduhan itu tidak benar. Dan sekarang dia pergi. Sebagai seorang suami yang sangat mencintai istrinya. Mama harusnya tidak usah tanyakan itu. Jelas aku marah pada diriku sendiri. Dan aku menyesal telah menyakiti hati Nandini."


"Lalu apakah kamu marah sama Mama?"


"Sejahat dan sesalah apapun Mama. Dan kini Mama sudah sudah berhasil membuat Nandini pergi dari sisi ku. Aku tidak bisa untuk marah sama Mama. Tapi aku sangat kecewa sama Mama. Jika mungkin dari awal aku tidak percaya dengan kata-kata Mama dan tidak begitu mudahnya tersulut emosi. Hal ini tidak akan terjadi. Jika dia pergi meninggalkan aku sekarang. Itu karena salahku sendiri. Semua salah ku karena aku tidak percaya dengan kata-kata Nandini."


"Dengar ya Gabriel. Dari dulu sampai sekarang Mama tidak pernah menyukai istrimu. Dan mungkin sampai kapanpun juga Mama tidak akan pernah bisa menerimanya sebagai menantu Mama. Terserah apa kata dirimu sama Mama. Dan kamu juga tidak bisa memaksa Mama untuk menyukai istrimu. Dan sejujurnya, Mama masih sangat kecewa dengan dirimu El. Apalagi kamu sudah membuat Mama malu semalam di hadapan Om Haris dan juga Clarissa. Dan Om Haris sekarang tidak ingin lagi menyerahkan putrinya kepadamu."


"Seharusnya Mama juga tau. Sampai detik ini Gabriel masih sah berstatus sebagai suami Nandini. Bagaimana bisa Mama ingin menjodohkan aku dengan Clarissa. Padahal aku masih terikat pernikahan. Dan Gabriel juga tidak akan pernah punya niat untuk berpisah dengan Nandini."


"Sampai kapan kamu akan keras kepala seperti ini Gabriel. Tidakkah kau ingin membahagiakan mama dengan cara menuruti apa kata Mama."


"Maaf ya Ma, jika aku mengatakan ini. Jika ada seorang ibu yang baik. Ia tidak akan egois untuk di bahagiakan dengan cara harus menuruti keinginannya. Apalagi itu hanya sebuah pilihan teman hidup. Seharusnya Mama juga belajar dari apa yang aku alami. Mama tidak pernah menanyakan apakah aku bahagia saat ini. Saat mama telah berhasil memisahkan aku dan istriku."


"Aku menderita Ma. Sampai sekarang aku belum pulih dari rasa penyesalan mendalam dan marah pada diri ku sendiri." ujar Gabriel penuh dengan emosional. Kemudian ia berlalu dari hadapan Rohana.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Berada di depan cerminannya yang ada di kamar kost. Nandini tampak sedang berdandan untuk segera bersiap berangkat bekerja pagi itu.


Menjadi seorang resepsionis membuat Nandini harus berpenampilan rapi dan juga profesional dalam menjalankan profesinya.


Dengan mengenakan seragam warna hitam yang di padu dengan kemeja berwarna putih. Pakaian yang Nandini kenakan begitu pas melekat di tubuhnya yang sempurna indah.


Nandini benar-benar begitu terlihat sangat cantik dan elegan mengenakan pakaian seragam itu.


Nandini sangat menikmati pekerjaan barunya saat ini. Ia juga begitu menikmati keberadaannya di Bandung.


Meskipun ia berjauhan dengan keluarganya. Nandini tetap berkomunikasi dengan kedua orang tuanya yang bermukim di Bogor.


Banyak alasan mengapa ia tidak pulang ke rumah orang tuanya.


Meskipun begitu, Nandini sering memberikan kabar tentang dirinya pada orang tuanya.


Biasanya Nandini melakukan panggilan video call kepada kedua orang tuanya sebagai pengobat rasa rindu. Karena ia belum bisa pulang untuk saat ini.


Nandini benar-benar menikmati mengasingkan diri di Bandung.


Tidak mudah bagi Nandini untuk bisa mengumpulkan kembali seluruh energi yang kemarin-kemarin sempat hilang dan membuatnya terpuruk akibat perbuatan sang suami.


Karena lokasi hotel tempat Nandini berkerja lumayan sedikit jauh. Membuat Nandini sering menggunakan transportasi taksi untuk menuju tempat kerjanya.


Karena bagaimanapun, Nandini tetap harus menjaga dirinya dari segala sesuatu yang tidak ia diinginkan.


Setelah hidup sendiri dan tidak ada Gabriel di sisinya. Ia tetap harus bisa menjaga dirinya sendiri.


Sebagai wanita yang masih berstatus sebagai seorang istri. Membuat Nandini membatasi interaksi dirinya dengan lawan jenis di tempat kerja.


Karena paras Nandini yang memang terlihat cantik natural. Membuat beberapa rekan kerja lawan jenis menyukainya dan sering memperhatikan dirinya.


Bahkan ada beberapa yang mengajaknya berkomunikasi secara intens.

__ADS_1


Tapi Nandini benar benar menjaga diri.


Kepada sesama rekan kerjanya. Nandini jujur jika ia sudah bersuami dan berstatus sebagai istri.


Oleh sebab itu beberapa rekan kerja yang sempat ingin mendekati Nandini kini jadi minder. Karena mengetahui Nandini telah ada pemiliknya.


Setelah dirinya siap untuk pergi bekerja. Dengan penuh semangat. Nandini keluar dari kamar kost untuk segera naik ke dalam taksi yang sudah ia pesan sebelumnya untuk mengantarkan ia ke tempat kerja.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Nan, kamu di suruh keruangan supervisor." ujar salah seorang teman Nandini di tempat kerja.


"Aku, keruangan supervisor? Untuk apa?" tanya Nandini sedikit pemasaran.


"Entahlah, aku tidak tau." Jawab Agnes, temen dekat Nandini yang baru ia kenal di tempat kerja.


"Ok, baiklah. Tolong gantikan dulu sebentar posisi ku."


Nandini kemudian berlalu dari meja resepsionisnya dan berjalan menuju ruang supervisor.


Sesampainya di ruangan supervisor, Nandini terbelalak kaget. Karena yang menjadi supervisor di tempat ia bekerja saat ini adalah supervisor yang sama di tempat ia bekerja dulu sebagai resepsionis di Jakarta.


"Pak Bian." seru Nandini.


"Apa kabar Nandini." sapa Bian menyapa Nandini. Karena mereka memang sudah saling kenal sebelumnya.


Bian adalah mantan supervisor di tempat ia bekerja dulu.


"Bagaimana Pak Bian bisa ada di sini?"


"Biasalah, kamu lupa ya. Jaringan hotel ini kan masih satu grup dengan hotel tempat kamu bekerja dulu." Jawab Bian.


"Hari ni adalah hari pertama aku ditugaskan untuk mengawasi seluruh karyawan yang bekerja di hotel ini. Dan kebetulan ada nama mu. Makanya aku panggil diri mu ke ruangan ku."


"Oh, memangnya ada apa Pak."

__ADS_1


"Aku ingin menawarkan jabatan yang lumayan bagus untuk mu Nandini. Jika kamu bersedia. Kamu bisa jadi kepala eksekutif housekeeping di hotel ini." tawar Bian.


Mendapat tawaran itu. Nandini hanya bisa tertegun.


__ADS_2